Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Legacy bag.1

~ ~
Belum pernah terpikirkan sebelumnya, tentang apa yang akan kutinggalkan pada anak-anakku kelak. Beberapa hal memang terlintas begitu saja, namun sebenarnya semua hanya dalam batas rencana. Setidaknya blog ini bisa menjadi peninggalan yang berguna bagi anak-anakku kelak. Berguna bagi mereka untuk mengenal siapa bapaknya. Mungkin meraka tahu diriku didalam rumah, lebih dari itu mungkin mereka belum faham benar, seperti apakah sosok bapak mereka.

Umur tak pernah kenal kompromi, usia tak meminta ijin untuk berhenti. Bahkan jantung di dada ini pun tak kuasa aku mengaturnya, apalah nanti yang akan kutinggalkan bagi mereka. Blog ini telah menampung lebih dari 300 tulisan yang pernah kutuliskan sejak kusadari bahwa aku harus menulis untuk generasiku. Selain itu entah apa yang kutinggalkan bagi mereka.

Yang pertama terfikirkan barangkali way of life. Keluargaku tahu bapaknya sosok yang bagaimana, anak-anakku faham bahwa dibawah rumahku ada 2 nilai moral yang harus dijunjung tinggi. Pertama adalah kejujuran, akar dari keberhasilan menjalin hubungan interaksi dengan sesama manusia adalah kejujuran. Dari berbagai sumber kehidupan saripati-saripati itu kukumpulkan dan akhirnya kudapatkan bahwa kejujuran adalah nilai moral yang mendasari apakah seseorang itu dikatakan baik atau tidak. Maka pembohong dan kemunafikan sudah pasti tidak akan diterima dalam rumah ini.

Kedua adalah tanggung jawab, dalam islam dikenal istilah tamyiz dalam hal pembagian usia seseorang dalam kemampuannya beribadah. Tamyiz adalah batas antara apakah seseorang itu memahami apa yang diperbuatnya dan tidak. Batas kesadaran diri, batas pengendalian diri. Seseorang yang tak mampu menyadari tindakannya maka dia bisa dikatakan belum tamyiz. Anak-anak yang dengan tanpa memahami mudhorotnya melangkahi jamaah dewasa yang sedang shalat di masjid adalah dikaakan belum tamyiz. Allah memaafkan perihal apapun yang dilakukan seseorang yang belum tamyiz, belum memahami kesadarannya, belum bisa membedakan mana baik mana buruk. Belum bisa menimbang mana mudhorot mana manfaat.

Tanggung jawab adalah seseorang yang telah melewati batas tamyiz tersebut. Seseorang yang memahami tanggung jawabnya adalah telah memahami mana baik mana buruk, memahami mana mudhorot mana manfaat. Yang lebih penting adalah seseorang yang bertanggung jawab memiliki kemampuan menerima apapun yang dihasilkan dari keputusannya, baik mudhorot ataupun manfaatnya.

Kedua nilai moral itu menjadi pilar yang menopang rumah bapak mereka, dan mereka harus menjaganya hingga akhir hayat. Entah apalagi yang begitu berharga yang bisa kutingggalkan bagi mereka. Yang pasti kedua pilar moral itu tak akan berjalan tanpa pembiasaan iman. Iman bagiku bukanlah hal yang mudah ditanamkan kepada anak-anak. Iman adalah tindakan yag dibiasakan sehingga pada suatu saat ketika dada mereka tidak didapati iman, mereka akan merasa kehilangan sesuatu. Karena iman adalah perkara pembiasaan.

Selengkapnya ...

Aku sering lupa

~ ~

Aku sering lupa..
Bagaimana caramu membangunkanku
Setiap pagi

Aku sering lupa...
Hari ulang tahunmu
Daripada anak-anakmu

Aku sering lupa...
Bagaimana engkau tetap terjaga
Menungguiku

Aku sering lupa...
Tentang rapuhnya hatimu
Menjaga hatiku

Aku sering lupa...
Besarnya pengorbananmu
Mencintaiku

Aku sering lupa, tentang bagaimana kamu membersamai diriku. Tentang perasaanmu, tentang hari-harimu, tentang lelahnya jiwamu. Aku terlalu egois, memintamu tuk selalu mengerti diriku.

Aku sering lupa, tentang berapa kali aku pernah menyakitimu. Namun entah apa yang kini dapat membuatmu bahagia. Aku terlalu sibuk, hingga tak pernah terlintas tuk menanyakannya padamu.

Aku sering lupa, tuk sekedar memelukmu saat kau membutuhkan dekapanku. Ceritamu setiap malam, hanya kuanggap angin lalu. Aku terlalu lelah, hanya tuk menjadi pendengar setiamu.

Aku sering lupa, melihat relung hatimu. Menciderai harapanmu tentang kewajiban kebapakanku kepada anak-anak kita. Aku terlalu kerdil, menyerahkan masalah rumah tangga ini hanya kepadamu.

Aku sering lupa, jika tak ada manusia yang hidup abadi, begitupun dirimu. Mungkin saat itu penyesalan pun sudah teramat terlambat. Aku terlalu malu, mengakui bahwa dirimulah satu-satunya wanita yang memenuhi ruang waktuku.

Namun, aku tak pernah lupa....
Namamu akan selalu ada dalam doa-doaku

Selengkapnya ...

Nasehat bisa datang dari siapa saja

~ ~
“Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo”.

Saya terhenyak sesaat ketika kata terakhir dimulut selesai saya ucapkan. Kalimat tanya yang sederhana itu dijawab dengan lugas dan sukses membuat tahu penyet dimulut tak jadi tertelan. Mungkin memang sudah diputuskan bersama bahwa saya harus bekerja dan istri juga belum memilih untuk full ada di rumah. Dengan kondisi bahwa orang tua dan saudara tinggal berjauhan, diputuskan harus memiliki Pembantu Rumah Tangga. Hingga pada suatu kesempatan saya memiliki 3 orang pembantu dengan tugas berbeda.

Namun sejak beberapa tahun terakhir saya memutuskan hanya memiliki 1 orang pembantu. Mengingat ketiga anak sudah besar-besar dan alhamdulillah mereka faham tentang pentingnya kemandirian. Hanya tinggal si bungsu yang baru berumur 15 bulan. Saya pikir cukup seorang pembantu mengingat pekerjaan rumah yang lain sudah bisa dikerjakan sendiri.
Pembantu yang tinggal seorang ini hanya ada di rumah kami saat kami bekerja, tidak juga menginap dirumah. Karena memang saya memilih yang dekat rumah. Seorang ibu-ibu dengan 2 orang anak yang harus dihidupi dan suami yang tak memiliki pekerjaan tetap.

Kami sekeluarga memanggilnya budhe, masakannya super enak, pekerjaannya rapi, yang paling penting budhe sangat sayang kepada anak-anak kami. Budhe mengungkapkan bahwa anak-anak kami penurut dan mau dengar omongannya, jadi dia sayang dan perhatian kepada mereka. Lebih dari itu budhe menunjukkannya dengan cara yang bahkan kami tak habis pikir.

Pernah suatu kali si bungsu demam, kami meminta budhe agar mengkompresnya dan menjaganya. Selepas kerja kami mendapati si bungsu dalam gendongan budhe, yang membuat kami terharu adalah pengakuan dari kakak-kakaknya bahwa budhe menggendong si bungsu dari pagi hingga sore itu. Bahkan hal yang kami mungkin tak sanggup melakukannya, namun budhe mengajarkan kami arti pengorbanan demi kasih sayang.

Sering saya memberinya oleh-oleh, buah tangan bahkan tambahan ‘insentif’ mungkin sebagai sedikit kompensasi atas besarnya kasih sayang yang budhe berikan atas keluarga kami. Weekend kemarin saya berinisiatif memberinya hiburan dengan mengajaknya berekreasi. Siapa tahu budhe jenuh hanya ada di rumah, sekaligus saya ajak keluarganya.

Kami ceritakan bahwa sebenarnya itu adalah acara kantor kami yang mengadakan family gathering, dimana mewajibkan keluarga untuk dibawa. Kami ungkapkan maksud kami untuk mengajaknya dan keluarganya karena kegiatan itu dilakukan di kawasan wisata pantai yang ada di kota ini.

Jawaban atas ajakan saya itulah yang membuat terhenyak dan hampir saya meneteskan air mata. “kalau bapak ga malu mengajak saya dan keluarga, saya ya nurut.” Entah angin apa yang tiba-tiba membuat hatiku trenyuh. Kerendahan hati budhe kembali mengajariku arti sebuah keluarga. Tak terbersit sedikitpun saya dan keluarga menganggapnya orang lain walau statusnya adalah pembantu keluarga saya, orang yang saya gaji untuk membantu meringankan pekerjaan rumah saya.

Budhe bukanlah panggilan yang saya sematkan tanpa kusematkan pula makna didalamnya dengan memanggilnya budhe saya menganggapnya keluarga yang jasanya tak bisa lagi sepertinya kubayar dengan uang bulanan yang kuberikan padanya. Anak-anaknya yang dapat bersekolah karena uang itupun bukanlah nilai yang kuperhitungkan dibanding jasanya bagi anak-anakku.

Saya belajar kerendahan hati dari budhe, hikmah bisa datang dari siapapun. Bahkan  dari orang yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sekalipun.

Seperti petikan pitutur luhur Sekar Gambuh “pada” ketiga diatas, yang terjemahan bebasnya berarti ajaran yang benar itulah yang patut kau ikuti, meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya, namun jika baik ajarannya, maka pantas kau terima


Selengkapnya ...

Gaple Berpasangan

~ ~
Merunut kenangan ketika pertama kali kaki ini menginjak tanah si pahit lidah. Pulau Sumatera yang sebelumnya sama sekali masih asing bagi lamanya usiaku hidup. Apa dikata suratan takdir membawaku melanjutkan kehidupan di tanah seberang. Meninggalkan emak bapak, meninggalkan kenyamanan hidup dibawah ketiak orang tua. Menjadi perantau untuk mengukur sejauh mana keberhasilan mereka menempaku sejak kecil.

Satu-satunya yang kubawa adalah kenekatan khas orang jawa timur. Terngiang ucapan seorang tua ketika di sebuah stadion kebanggaan warga malang dahulu kala. “Dimana ada aremania disitu semua saudara” semakin membuatku tenang. Sesampainya di pemberhentian terakhirku segera kutolehkan wajah kepenjuru arah mata angin. Siapa tahu ada wajah wajah orang jawa diantara kerumunan penduduk asli bumi sriwijaya ini.

Hari berganti, ternyata tak seburuk yang dibicarakan banyak orang. Bulan berganti kutemui diriku semakin membaur dengan kebudayaan yang benar benar asing di tanah seberang ini. Namun entah kenapa diriku benar benar merasa diterima dilingkungan baru ini. Ibu kost yang bermuka galak namun berperangai santun dan sangat ngayomi. Warung-warung makan yang ternyata cukup mengenyangkan walau terkadang lidah dan perutku tak tahan dengan tipikal masakan pedas dan masam.

Malam itu tepat dua minggu sebelum perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang entah sudah keberapa, yang kuingat dengan pasti adalah tepat disebelah rumah kost telah berdiri 4 set tenda yang menurut desas-desus akan segera dimulai pertandingan akbar khas tujuhbelasan. Mulai dari jabang bayi sampe kakek nenek tua renta akan diikutkan dalam berbagai cabang lomba demi menyenangkan pak lurah.

Ibu kost memaksaku untuk bergabung dengan warga dan setidaknya mengikuti satu cabang lomba. Agar dikenal dan segera dapat membaur dengan warga setempat. Kuturuti ibu kost dengan mengikuti cabang lomba gaple/domino berpasangan. Dengan bangganya kutuliskan namaku di selembar kertas kosong dan kuserahkan ke panitia lomba gaple.

Mungkin siapa pasanganku nanti saat bertanding bukanlah masalah terbesarku saat itu. Yang menjadi hal kekhawatiran terbesarku adalah aku baru tahu ternyata permainan gaple berpasangan itu sungguh penuh strategi. Bukan asal lempar seperti yang biasa kumainkan dikampung halaman bersama teman-teman sebayaku.

Permainan gaple berpasangan disini adalah hal baru bagiku, strategi permainan yang sangat bergantung kepada hitung-hitungan, daya ingat dan mirip catur dimana kita harus membaca permainan dan dapat memblokade permainan lawan dengan taktis. Yang menjadikannya lebih berat kita juga diwajibkan membantu pasangan main kita agar selalu dapat membuang kartu gaple tanpa mati.

Jauh lebih berat dari catur sepertinya, dan ternyata benar dugaanku aku masih nol besar dalam permainan ini, sengsaranya adalah dalam undian ditentukan bahwa pasanganku adalah jawara tahun sebelumnya yang terkenal sangat alot dikalahkan sehingga bila aku kurang mampu membaca permainannya aku akan jadi titik lemah yang lebih mudah diserang.

Melihat kenyataan itu, pasangan gapleku seketika tertunduk lesu, jawara bertahan sudah melihat kekalahan didepan mata. Semua gara-gara aku, sengsara.... sungguh sangat tidak mengenakkan menjadi kambing hitam itu. Walau tak sampai terucap sang jawara selalu terus menyemangatiku bahwa aku bisa. Jalankan saja kartumu nanti aku bantu, sergahnya. Dasar memangnya tak memiliki basic gaple yang mumpuni dan sistem gaple berpasangan yang baru kali ini kutahu. Membuat keringat dingin segera keluar dengan lancar saat kartu pertama dibagikan.

Sejak saat itu, aku memandang permainan domino atau gaple berpasangan menjadi lebih serius. Permainan yang dulunya hanya kuanggap game ringan ternyata serumit dengan permainan catur. Yang membutuhkan strategi, taktik, hitung-hitungan dikepala bahkan harus menggunakan startegi poker face yang ga ada dalam catur.

Namun apabila di malam itu aku tak memberanikan diri untuk menuliskan namaku di secarik kertas tuk jadi peserta lomba gaple berpasangan tujuhbelasan. Mungkin aku juga masih enggan dan tak tertarik dengan permainan ini. Siapa tahu setelah tahun berganti kini aku semakin mahir memainkannya, setidaknya sebagai pengisi waktu dan alat bercengkerama dengan para tetangga di sekitar komplek.

Semua selalu ada yang pertama untuk segalanya, kita ini makhluk pembelajar. Kita tidak terlahir kedunia dengan ilmu laduni, dimana kita menguasai semuanya. Kita harus mempelajari semuanya, bahkan makan, minum saja kita harus belajar untuk pertama kalinya. Sudah fitrahnya bahwa cetak biru kita tidaklah berbentuk insting. Memang ada persentase kecil dalam naluriah kita untuk bertindak berdasar insting, namun sebagian besar pengalaman hidup kita dalah berdasar belajar dan latihan. Biarlah persentase besar insting ini Allah ciptakan untuk binatang saja sebab mereka hanya dikarunia buah pikiran dalam persentase kecil saja.
Terkadang kita terlalu senang berada di zona nyaman, dana begitu enggan memulai hal baru. Dengan banyak sekali alasan yang memang dibenarkan oleh alam bawah sadar kita. Sehingga untuk memulai hal baru justru melawan alam bawah sadar kita karena sama saja dengan keluar dari zona nyaman yang kita ciptakan sendiri.

First step is the hardest, memang begitulah pengalaman mengajari kita. Sungguh benar bila kemudian hari seseorang berkata. Pengalaman adalah guru terkejam, untuk mendapatkan ilmu melalui pengalaman kita harus menjalaninya terlebih dahulu. Sayangnya di dalam pengalaman dia tak pernah memilah mana yang pahit dan mana yang manis, kita harus menjalani semuanya.

Untung permainan gaple berpasangan ini tidak diperlombakan di ajang Seagames, Asian games atau Olimpiade. Mungkin aku akan ikut seleksi dan pelatnasnya saja sekalian. Hehehe...

Selengkapnya ...

Kota Tempat Kembali...

~ ~
Dua pekan telah berlalu, Jogjakarta memang bukan kota kelahiranku pun bukan tempat dimana ku dibesarkan. Namun entah kenapa kota tempat nenek dan bapakku dilahirkan ini meninggalkan bekas yang susah sekali dilupakan. Sudah tiga kali lebaran kuhabiskan di kota ini walau tidak secara berturut namun memberikan kesan yang begitu dalam.

Dimulai ketika aset almarhumah ibu yang diwariskan kepadaku. Dengan persetujuan keluarga aset itu kupindahkan ke Jogjakarta mengingat keluarga bapak ada di Jogjakarta. Hingga setiap lebaran kuputuskan untuk mengunjungi keluarga bapak, sedangkan untuk menambah satu malam perjalanan lagi menuju kota Malang sangatlah kepayahan. Kudapati Jogja telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana akhir karirku akan dihabiskan, itupun bila Allah berkehendak memberi bonus pada umurku.

Donotirto sebuah desa kecil di wilayah kabupaten Bantul, sekitar 45 menit arah selatan kota Jogjakarta. Jalan terpendek yang dapat ditempuh untuk menuju wisata pantai terkenal di wilayah Jogja yaitu pantai Parangtritis. Aspal yang menghitam mulus dengan pemandangan sawah-sawah menghampar akan menghiasai kelopak mata setiap orang yang melewati jalur menuju desa Donotirto.

Desa yang tenang, tak terimbas hirup pikuk kota Jogja yang semakin hari semakin memangkas waktu tiap yang melaluinya. Dimana setiap warganya saling mengenal, dari ujung gang hingga ujung desa. Dimana setiap penghuni pasar saling menyapa ramah walau belum pernah bertemu sapa sebelumnya. Suasana pagi yang tak pernah lepas dari ingatan, para tetua yang bersiap menuju sawah. Muda-mudi yang bersiap menuju sekolah bahkan para pamong desa dengan anggunnya tersenyum menyapa. Dan semua itu begitu membekas karena dimataku ada yang begitu unik yang tak akan pernah lupa. Hampir seluruh mereka beraktivitas pagi sambil mengayuh sepeda-sepeda tua peninggalan jepang.

Bagiku sendiri yang notabene makhluk kota besar, melihat pemandangan itu adalah hal yang sangat menggembirakan. Momen langka yang tak akan didapati di hiruk pikuknya kota. Yang bahkan antara tetangga saja sangat sulit untuk bertemu apalagi bertegur sapa. Tetangga bagi komunitas kota besar bagaikan terpisahkan oleh tembok besar sepanjang planet Bumi dan planet Mars.

Ah, Jogja memang sangat sulit dilupakan, malamnya yang membeku selalu menutun langkahku tuk mendatangi sudut-sudut kotanya duduk bersila bersama teman-teman yang tak kukenal sebelumnya. Keramahan merekalah yang menjadikan seperti teman yang begitu lama hilang. Musisi-musisi lokal yang meminta tempat benar-benar menghipnotisku tuk takjub akan keindahan kreatifitas mereka.

Mungkin masih ada lebaran-lebaran yang lain yang akan memanggilku tuk selalu mendatangi Jogja. Mungkin disanalah hatiku tertambatkan, menunggu saat yang tepat tuk membangun kehidupan baru ditanah leluhurku disemayamkan. Mungkin hanya SK yang menghalangi menuju kesana…..



Ada banyak sebab yang menjadikan kita untuk menjadikan tempat kelahiran kita sebagai homebase. Kuartikan homebase adalah tempat berakhir karir kelak, mungkin berbeda bagi orang lain. Homebase adalah tempat ku kembali kelak. Setelah semua tuntutan hidup terselesaikan, habis masa kejayaan, selesainya tanggung jawab. Homebase lebih identik sebagai suatu tempat menunggu maut menjelang.

Sejatinya dalih tak lagi dibutuhkan ketika beberapa orang mengatakan homebase adalah tempat asal-usul, atau tempat dimana masa terlama hidup dihabiskan. Dalih yang hanya akan didapat jawaban bahwa sebenarnya homebase adalah tempat berkumpulnya kenalan terbanyak. Klise memang, mengatakan homebase adalah tempat dimana keluarga berkumpul namun justru ketika homebase didatangi porsi terbesar yang mengisis kebahagiaan adalah ketika berkumpul bersama teman lama. Terbersit keinginan untuk memperlihatkan hasil dari rantauan. Baik itu hasil materi atau keberhasilan membangun rumah tangga. Anak-anak yang tengil tengil, pasangan yang cakap dan good looking, atau bahkan materi yang terkadang justru memaksa tuk melebihi kemampuan sendiri.

Jogja telah menyita perhatianku tuk kujadikan homebase. Jogja bukanlah kota kelahiranku, bukanlah tempat kudibesarkan, bukanlah tempat dimana berkumpul semua kenalanku. Jogja menjadi homebaseku karena penduduknya yang begitu memikat, karne alamnya yang begitu asri, karena keautentikan budaya dan keaslian senyumnya.
 
Selengkapnya ...
 
© 2015 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger