Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Interpreneur wanna be

~ ~
Sebenarnya kegiatan jualan kecil kecilan ini sudah beberapa kali kuterapkan untuk anak-anak, ketika si sulung masih kelas 1 SD jualan kecil kecilan ini juga berjalan baik. Namun beberapa waktu yang lalu si sulung macet dagang kecil-kecilannya, karena kesibukan disekolahnya. Walau begitu jiwa dagangnya terus terasah, tak berapa lama dari macet kegiatan dagangnya, dia minta untuk berjualan lagi.

Diskusi berdua tentang apa yang akan dijual, akhirnya ketemulah produknya. Bapaknya diminta untuk searching gambar-gambar hitam putih dan mendownloadnya. Gambar yang diprint diatas kertas ukuran A4 ini kemudian difotocopy dan dijual kepada teman-temannya. Jiwa bisnisnya mulai terbentuk, aku tak mematok harga, dia yang berinisiatif untuk memberi harga bagi kertas mewarnai, dia memutuskan untuk menjualnya seharga 500 rupiah.

Di  rumah sekali lagi kegiatan jualan kecil-kecilannya kubangkitkan lagi. Kusempatkan waktu untuk membeli mainan anak-anak grosiran. Si sulung melihat peluang, dia memajang barang dagangannya disebelah warung jajanan anak-anak yang kebetulan ada disamping rumah. Ternyata nalurinya tajam, tak berapa lama berkumpullah anak-anak tetangga untuk membeli mainan sederhana yang berharga murah yag dijual si sulung. Antusias sekali dia melayani para pembeli potensialnya, wajahnya sumringah tawanya ceria. Namun sesekali dia juga ikut ambil mainan yang dijualnya dan main bersama, dipikirnya untung sudah didapat.

Kami berinisiatif terhadap antusias anak-anak selama itu posiif, karena kami mungkin akan langsung memblokade ide-ide yang negatif. Salah satu ide yang muncul adalah jualan kecil-kecilan ini, sebelum mulai memberikan modal dan fasilitas beberapa hal kami pertimbangkan;

Tujuan apa yang ingin kami raih dengan kegiatan ini bagi anak-anak; mencari untung sepertinya bukan tujuan utama yang ingin kami ambil dari mengenalkan dagang kecil-kecilan ini. Kalaupun memang ada untung setidaknya tak akan membuat orang tuanya dapat naik haji dengan untungnya.

Yang pasti tujuan atau manfaat yang ingin kami ambil dari kegiatan pengenalan dagang secara aplikatif ini adalah agar anak-anak memiliki jiwa wirausaha. Agar nanti ketika dewasa mereka tak hanya bergantung pada pembukaan CPNS, kami ingin mereka mampu menjadi seorang enterpreneurship, pembuka lapangan pekerjaan, pemberi manfaat bagi yang membutuhkan.

Sepertinya dunia perdagangan lebih dekat kepada tujuan itu. Disamping beberapa manfaat lain yang ingin kami dapatkan dari kegiatan dagang kecil-kecilan ini, bisa untuk keterampilan bersosialisasinya, kemahiran public speaking nya, atau bahkan kemampuannya menawarkan sesuatu. Banyak manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini yang mungkin masih belum bisa dijelaskan secara gamblang, seperti kesadarannya untuk menghemat dana, memilah antara milik sendiri dan orang lain, bahkan mengajarkan cara berdagang yang baik.

Faktor lain yang mungkin kami pertimbangkan dalam pengenalan ini adalah, baik buruknya bagi lingkungan sekitar. Hal ini baru kami sadari ketika kami mulai berbelanja di toko grosir mainan anak-anak. Kami harus benar benar selektif dalam memilih jenis mainan yang akan kami jual. Kami tak mau menjadi sumber rusaknya moral lingkungan walaupun dari hanya berjualan kecil kecilan.

Banyak sekali mainan anak-anak yang apabila tak selektif memilihnya maka kita akan menjual barang yang berbau pornografi, atau mainan yang mirip dengan ajang judi. Kalau hal ini luput dari pengamatan maka andil kamilah yang merusak moral anak-anak tetangga.

Memang banyak manfaat yang bisa kami dapatkan dengan mengenalkan kegiatan ini bagi anak-anak, namun apabila tak cermat mengamati bisa jadi anak-anak juga akan mendapatkan efek buruknya. Namun setidaknya sampai sekarang kami masih bisa dengan jelas memilah dan mengajarkan perbedaan mana yang baik dan mana yang buruk bagi anak-anak.

Selengkapnya ...

Perahan Perdana

~ ~
Alhamdulillah, VBAC yang dilakukan istri pada anak keempatnya tidak meninggalkan jahitan. Sehingga, proses recovery setelah persalinan lebih cepat. Setelah kontrol terakhir dan dokter menyatakan rahim bersih dan bagus, dia sudah seperti wanita yang sebelumnya tidak melakukan persalinan. Allah tahu bahwa kami jauh dari keluarga besar kami, sehingga Allah mengurangi segala keibetan pasca persalinan. Bisa saya bayangkan perhatian saya akan terbagi tiga bila proses kesembuhan pasca persalinan tidak secepat ini. Satu sisi saya harus merawat istri lebih intens, kedua saya harus merawat bayi yang baru lahir dan ketiga saya harus mengurus 3 kakaknya. Namun, semua tidak terjadi kami kembali dapat bekerjasama dengan apik tanpa bantuan keluarga yang memang lokasinya berjauhan. Kami pun tak tega merepotkan mereka, dengan memintanya datang ke rumah kami.

Pagi ketika istri melahirkan dengan sukses, sore harinya kami memutuskan untuk segera check out dari bangsal rumah sakit. Kami tahu semakin lama kami disana maka dompet saya akan semakin meradang. Begitupun kenyamanan yang jauh lebih nikmat di rumah mungil kami. Aldebaran, nama yang kami sematkan ke bayi lelaki kami juga sudah terlihat berisi. Mungkin bobotnya sudah bertambah beberapa ratus gram, kami belum sempat menimbangnya. Walau pernah mencoba menggunakan elektronic scale yang biasa kami gunakan untuk menimbang bahan kue, namun sepertinya kurang signifikan karena memang posisinya tidak muat.

Tak pernah jenuh istri melatih kemampuan aldebaran untuk menyusu di putingnya. Tak letih juga baran  membuat kami lelah berusaha mengajarinya tentang pelekatan. Namun itu adalah usaha yang tak akan pernah sia-sia, disamping sebelumnya dia juga telah dilatih dengan tahnik untuk menyusu. Juga air susu istri belum terlalu lancar, namun sedotan mulut kecil yang terus menerus itulah rangsangan terbaik agar air susu lebih cepat keluar dan banyak.

Sudah berbagai macam cara dilakukan agar air susu segera keluar dengan lancer, namun hingga hari kedua belum juga sesuai keinginan. Air susu hanya keluar sedikit, mungkin memang waktu kelahiran yang terlalu maju sehingga memang belum waktunya kelenjar kelenjar susu itu terbentuk. Daun katu yang menurut orang orang tua akan manjur untuk membantu pengeluaran air susu telah kuberikan setiap hari. Madu, kurma, omega 3, minyak jintan hitam hingga kopi kapucino kegemarannya telah kubuatkan demi oksitosin yang akan memicu keluarnya ASI. Namun hingga hari ketiga air susu belum juga lancer, aldebaran semakin sering dibuat gusar namun tak pernah putus asa istri melekatkan putingnya pada mulut aldebaran. Agar rangsangan itu terus terjadi dan air susu semakin lancar. Agar baran juga tercukupi nutrisi dan asupan gulanya, tak jarang ku kunyah kurma dan kuusapkan di langit langit mulutnya. Walau sebenarnya ini bukan lagi tahnik namun untuk mencukupi rasa haus aldebaran terpaksa kurma menjadi penggantinya terlebih dahulu.

Baru kusadari bahwa durian adalah makanan kesukaan istriku, hingga sore itu kubawa pulang dua buah durian segar. Mungkin inilah makanan yang akan menjadi booster asi istriku. Sesuai prediksi awalku, hal itu terjadi tak berapa lama sejak menyantap durian bersama sama, malam itu dia bercerita sambil sumringah bahwa asi sudah keluar lumayan deras, membuat aldebaran lebih tenang bila malam tiba. Kuperhatikan memang sangat deras asi yang keluar, entah karena durian atau memang sudah waktunya keluar setelah berhari hari selalu dilekatkan kepada mulut aldebaran. Setidaknya setiap usahaku telah membuahkan hasil wa syukurillah.

Hasil perahan perdana
Kegiatan selanjutnya dimulai kembali, yaitu pumping asi. Dengan telah derasnya aliran asi nya maka lemari es akan menjadi area susu. mungkin jatah es krim saya akan berkurang, yang pasti jatah mie instan masih ada sekitar satu kardus... hehehe

Selengkapnya ...

Allah Mengizinkannya Lahir Terlalu Cepat

~ ~

Entah bagaimana aku mengembalikan titipanNYA kelak, namun yang pasti saat ini dia adalah anugerah yang hebat untuk kami.

11 Juli 2014

Belum juga mesin absen menunjukkan pukul 16.00 WIB, dering telefon selular sudah menyibukkan jemariku untuk mengangkatnya. Berkali-kali memeriksa kantong baju, tak juga kutemukan asal suara nada dering polifonik tersebut. Hingga akhirnya nada itu berhenti dan telefon selular kecil berwarna merah itu teronggok begitu saja diatas meja tertutup sebuah kertas folio. Sebuah panggilan masuk tak terjawab muncul memenuhi seluruh layar telefon tersebut dengan nama kontak yang begitu kuhafal 'emaknya anak2'.

Terbersit tanya juga sedikit sesal, kenapa tak kutemukan telefon selular mungil ini sedari tadi. Namun apa daya sifat pelupaku tak mengijinkanku menemukan barang mungil itu dengan cepat. Namun bila ada sebuah panggilan dari istri tercintaku di sore hari begini kemungkinan terbesarnya adalah ajakan untuk berjalan ria. Di bulan ramadhan ini selepas pulang kantor adalah acara kami mencari makanan pembuka untuk waktu berbuka nanti. Jadi sudah dapat ditebak bahwa dia sudah tak sabaran unutk mendatangi sebuah spot kuliner di satu bagian kota ini dimana di sepanjang bulan ramadhan ini menjadi titik bertemunya para pencari kuliner memuaskan dahaganya.

Semua diluar dugaan ketika selang waktu berikutnya sebuah pesan singkat masuk, “han, ketubannya rembes banyak sekali!” pekan ini adalah pekan ke 33 usia kehamilan istri. Keluarnya air ketuban bukanlahpertanda baik bagi jabang bayi, setidaknya begitulah dari banyak literatur yang kuketahui. Disamping itu ini adalah kehamilan keempat bagi istriku, pengalamannya mengandung pasti berkata 'there's something wrong with my pregnancy'. Seketika itu duniaku beralih, apapun yang kukerjakan kala itu serasa hitam putih yang ada di kepalaku hanya terbayang wajah istri. Kuambil kendaraan dan kupacu dengan serampangan untuk menjemputnya.

Sekonyong-konyong aku telah disisinya, menyaksikan wajahnya yang semakin pucat. Terbaring lemah di atas ranjang bersalin, dengan beberapa alat asing yang tak pernah kulihat selama ini. Memperdengarkan suara degup jantung si jabang bayi, di layar kecil alat itu tertulis angka angka. Sebuah tanda berbentuk hati ada di ujung atas layar tersebut berdetak seirama dengan degup jantung yang terdengar, menunjukkan angka 140 hingga 160 secara acak. Entah apa yang dimaksud oleh informasi pada layar alat itu yang kutahu, degup jantung jabang bayiku sungguh kuat dan cepat.

Tak berapa lama wajah yang lumayan kukenal muncul menyapa dengan ramah dan berusaha menenangkanku dan istriku. Wajah yang cukup kukenal itu adalah dokter ramah yang selama ini kudatangi untuk kontrol rutin kandungan istri. Seperti sudah mendapat informasi sebelumnya entah dari para perawat yang menangani pertama kedatangan istri, dia menjelaskan duduk masalah yang dialami kandungan istri dan berusaha memberi solusi untuk kandungannya.

Dokter memberikan tiga opsi bagi istri. Satu, dia menganjurkan untuk mempertahankan kandungan karena kondisi paru-paru bayi yang belum siap untuk menghirup udara diluar perut ibunya. Dua, apabila terjadi kontraksi dengan terpaksa bayi harus dikeluarkan dan divakum kemudian untuk menunjang kehidupan awalnya di dunia. Tiga, bila air ketuban kering dan tidak ada kontraksi terpaksa harus diambil tindakan operasi cesar. Dengan pilihan itu tentu saya harus mengikuti anjuran dokter untuk mempertahankan kehamilan hingga setidaknya berat bayi sampai pada batas minimal untuk melahirkan yaitu 2.500 gram.

Maka hari itu dimulailah pengalaman yang sudah sangat lama sekali tak kujalani yaitu menginap di kamar rumah sakit. Beberapa dosis obat penguat diberikan kepada istri, melalui selang infus yang ada di tangan kanannya. Juga antibiotik agar apabila memang yang membuat ketuban pecah adalah karena infeksi bakteri maka antibiotik dosis yang lumayan tinggi itu mampu menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri tersebut.

12 Juli 2014

Sabtu sore, 24 jam kami sudah menginap di salah satu bangsal rumah sakit Ibu dan Anak ini. Rumah sakit yang masih baru ini begitu bersih, ruangannya nyaman, hampir seluruh peralatan dan alat penunjang kesehatan di sini baru dan modern. Tapi itu semua tetap tak menghapus kesan di mata kami bahwa senyaman-nyamannya tempat untuk tidur justru di kamar kecil kami. Bersama itu semakin pudar juga kenyamanan ku membersamai istri, juga harus mondar mandir melihat kondisi ketiga krucilku dirumah. Walau sebenarnya jarak antara rumah sakit dan rumah bisa ditempuh hanya dalam waktu 5 menit.

14 Juli 2014

bertambah kegiatanku hari ini, setelah harus mondar mandir antara Rumah sakit dan rumah selama dua hari. Hari ini adalah hari aktif bekerja, karena cuti belum kuambil maka harus kudatangi lagi mesin absen itu di pagi hari. Kemudian sesegera mungkin kembali ke rumah sakit, karena memang istri tak ada yang menemani. Walau sebenarnya di bangsal itu terdapat perawat dan kondisi pasien dirumah sakit itu yang tak terlalu ramai. Namun ada perasaan tak tega bila orang lain yang merawatnya, yang seharusnya itu adalah tugasku sebagai suami.

Menyelesaikan sedikit tunggakan pekerjaan, ku pacu motorku mendatangi bangsal istri dirawat. Akhirnya kudengar kabar gembira bahwa istri sudah diizinkan dirawat di rumah untuk menunggu saat yang tepat untuk kelahirannya. Mungkin 2 atau 3 minggu kemudian bobot yang diinginkan agar jabang bayi bisa lahir tercapai sekaligus paru-parunya telah siap untuk menghirup udara dunia.

Ibu dokter yang selalu merawat istri dengan senyum ini baru saja meninggalkan ruangan bangsal, untuk melakukan check up rutin harian. Proses itu pun dimulai, setelah memastikan bahwa ketuban tidak lagi rembes dengan berjalan menuju kamar mandi. Justru kontraksi yang di dapat, intensitas kontraksi yang langsung memuncak membuat penilaian perawat satu-satunya yang kebetulan jaga menyangsikan bahwa istri akan segera melahirkan.

Hanya satu kali kontraksi, namun istri membisikkan di telinga dengan lirih 'sepertinya ini sudah saatnya, han!' ok. Seketika kupanggil perawat untuk membantu persalinan ini, namun justru kata 'tunggu!' yang kudapat. Maka ini saatnya aku harus membantu istri dalam proses unassisted birth. Berbekal pengalaman pada anak sebelumnya, kami pun bekerjasama. Istri berinisiatif untuk memiringkan badannya agar memudahkan si jabang bayi menemukan jalan lahirnya. Benar kiranya, tak berapa lama air ketuban sudah pecah dan banyak yang keluar bersama sedikit darah.

Segera ku posisikan tubuh istri untuk setengah duduk, sekitar 60 derajat vertikal. Dan kuposisikan diriku untuk siap menerima si jabang bayi. Sambil menekan lututnya agar selalu terbuka, kuinformasikan kondisinya selalu kepada istri. Tak berapa lama, kepala mungil menyembul dari jalan lahir. Kuminta istri untuk berhenti mengejan, ambil nafas dalam dalam dan hembuskan perlahan. Ada perasaan lega ketika kepala mungil itu nongol, karena untuk persalinan apabila kepala sudah keluar maka tenaga besar yang dibutuhkan istri untuk mengejan telah selesai. Ini saatnya bagi assiten persalihan mengambil alih.

Segera kupegang kepala mungil itu dan kutarik perlahan agar sempurna si jabang bayi keluar dari jalan lahirnya. Saat seluruh tubuh bayi telah berada di luar, dengan tergeda seorang bidan datang, ku pinta sang bidan untuk tidak tergesa. Disamping agar sang bidang memeprsiapkan diri dan peralatan juga agar bayiku mendapat seluruh saripati yang masih tertinggal di dalam plasentanya. Para pakar menyebut hal ini sebagai lotus birth, tapi apapun itu namanya mendengar tangisnya yang pecah disaat kutarik tubuhnya membuatku semakin lega. Karena tangis bagi bayi yang baru lahir adalah pertanda, pertanda bahwa segalanya berjalan lancar. Si bayi juga sehat dan siap untuk hadir di dunia.

Setelah terputus plasenta yang menghubungkan bayi dan ibunya, segera kudekatkan tubuh si bayi di atas dada ibunya. Mencoba menghubungkan kembali ikatan yang sebelumnya terpisahkan, mengasah insting mamalianya untuk mencari putting susu ibunya. Mengajarkannya tentang dunia, inilah pelajaran pertama yang akan dia dapat, bahwa didunia semua tak tersedia dengan mudah, 'nak, kamu harus berjuang bahkan untuk mendapatkan putting susu ibumu!' aku menginisiasi anakku agar selanjutnya dia sadar bahwa hidupnya sebagai manusia didunia telah dimulai.

Dengan pakaian yang masih bersimbah air ketuban kuserahkan si jabang bayi yang plasentanya telah dipotong oleh sang bidan kepada perawat, untuk dibersihkan dan dihangatkan. Kuserahkan penangan istriku kemudian kepada sang bidan. Mulai dari membersihkan sisa-sisa darah dan plasenta di dalam perutnya hingga membersihkan ranjang. Sebab tak sempat lagi membawa istri menuju ruang bersalin, maka di ranjang bangsal itulah anakku lahir didunia.

Kudatangi si bayi di ruang bayi, segera kukenalkan lafadz syahadat dan kukenalkan kepada Allah Tuhannya dan Muhamamd nabinya di telinganya. Aku ingin itulah kata dan kalimat pertama yang amsuk kedalam gendang telinganya. Ku kulum satu butir kurma walau saat itu masih dalam keadaan berpuasa. Setelah hancur dan bercampur dengan air liurku, kuambil menggunakan kelingking dan kuusapkan berkali kali di langit langit mulutnya dan di seluruh bibirnya. Rasulku menyebut ini adalah tahnik, dan inilah satu-satunya proses imunisasi yang kulakukan kepada bayiku.

Sebab sebelumnya telah kutanda tangani sebuah pernyataan untuk tidak memvaksinasi, tidak menyuntikkan vitamin K dan tidak mengenalkannya dengan susu formula. Sehingga para tenaga kesehatan yang ada saat itu telah faham dan tidak melakukan tindakan apapaun untuk melakukannya. Ini adalah amsalah pilihan, dan saya bersyukur institusi rumah sakit itu begitu demokratis dengan menghormati pilihan kami untuk tidak melakukan vaksinasi, injeksi vitamin K dan tidak mengenalkannya dengan susu formula.

Bersyukur sedalam dalamnya kepada Allah SWT. Setiap proses yang kami jalani sungguh sangat dimudahkan, tiada yang akan menduga bahwa bermula dari rembesnya air ketuban membawa bayiku lahir terlalu cepat ke dunia. Dengan kondisi sehat, dengan tanpa tindakan medis yang berlebihan dan kami ditunjukkan jalan kemudahan dalam pilihan tindakan yang kami yakini.

Anakku akan menjadi bintang yang paling cemerlang di langit kelak, setidaknya itulah nama yang kusandangkan untuknya. Menjadikannya pengikut Muhammad yang siap berperang demi agama di barisan terdepan. Ditakuti lawan dan pantang menyerah. Do'a kami di nadimu!


Selengkapnya ...
 
© 2009 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger