Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Berikan harta waris kepada orang-orang yang berhak menerimanya (sesuai dengan jatah yang ditetapkan oleh Allah), sedangkan sisanya adalah untuk ahli waris laki-laki yang terdekat". HR.Bukhori

Seandainya Allah menitipkan kelebihan harta kepadaku, barangkali yang terfikirkan olehku untuk pertama kali adalah, akan kuhibahkan semua untuk bekalku diakhirat kelak. Akan kuumumkan kepada seluruh anak cucu bahwa tiada harta yang akan kusisakan buat mereka. bukan karena pelit atau tidak memperhatikan kesejahteraan mereka, namun karena ku tak ingin anak cucuku memiliki mind set sebagai orang-orang yang hanya mengharapkan pemberian tanpa melulu bersusah payah mendapatkannya.

Kuharap mereka tidak lagi akan mimpi dapat harta dari peninggalanku saat ku tiada kelak. Apalagi sampai berebut harta peninggalan yang mana hal yang amat sangat memalukan. Tak jarang kita dengar berita-berita pertengkaran, bahkan hingga pembunuhan yang akar masalahnya hanya karena berebut harta waris. Dengan tidak meninggalkan waris sedikitpun akan memupus perpecahan atau putusnya silaturahim diantara anak cucuku kelak.

Namun ternyata yang kudapati di banyak kajian dan literatur bahwa betapa pentingnya meninggalkan harta waris dalam jumlah yang cukup, menyadarkanku apa yang kupahami selama ini tak sepenuhnya benar. Bahkan bab waris menjadi satu bab tersendiri yang dibahas panjang lebar dalam beberapa kitab. Menunjukkan pentingnya meninggalkan dan membagikan harta waris bagi anak,cucu dan kerabat.

Seperti yang disampaikan salah satu hadits Bukhori diatas, bahwa Rasulullah memerintahkan memberikan harta waris kepada orang yg berhak menerimanya yang dalam hal ini adalah hibah kepada selain anak, cucu keturunan dan kerabat. Dan sisanya baru diberikan kepada ahli waris. Dapat disimpulkan sesuai petunjuk Nabi bahwa yang utama siapa yang mendapatkan dari harta waris adalah agar menjadi jariyah bagi diri sendiri baru kemudian sisakan unutk ahli waris keturunan dan kerabat.

Pada kenyataannya memang jarang sekali orang tua yang mewariskan hartanya ke hal-hal yang tak ada kaitannya dengan ahli waris. Seperti mewariskan untuk pembangunan masjid, mewariskan untuk anak yatim, mewariskan untuk pembangunan pondok pesantren. Padahal justru jenis waris yg seperti ini yang lebih diutamakan sebagai bekal diakhirat kelak bagi yang mewariskan. Kebanyakan dan seperti yang terjadi hingga sekarang, para orang tua sibuk membuat surat waris yang isinya adalah membagi semua ke anak cucu seadil adilnya.

Mengingat pertimbangan-pertimbangan itu, aku hanya ingin mewariskan barang-barang tertentu yang akan mengingatkan mereka tentang memory bersama bapaknya. Tak harus yang bernilai tinggi namun wajib bernilai kenangan. Sesuatu yang takkan bisa ditukar dengan uang, barang yang akan mereka simpan seumur hidup mereka. harta waris seperti inilah yang akan kutinggalkan kepada mereka. agar takkan menjadi sumber putusnya silaturahim. Barang-barang seperti ini memiliki nilai sentimentil tersendiri dimana harganya akan berbeda beda bagi setiap yang menerimanya.

Telah kubuat list barang-barang itu dan siapa yang berhak menerimnya, sehingga bila saat itu telah tiba maka akan dimiliki oleh orang yang tepat. Tak ada yang bernilai tinggi, semua hanya memiliki nilai sentimentil yang tak terkira. Dengan barang-barang itu siapapun yang mendpaatkannya akan lebih mengenal siapa pemilik barang itu. Anak-anakku akan mengenal lebih dekat siapa bapaknya, cucu-cucuku akan mengenal lebih jauh siapa kakeknya, dan sanak kerabatku akan mengerti siapa saudaranya.

Bab waris bukanlah bab yang remeh temeh dalam maummalah islam, itulah sebabnya mengapa para ulama membuat bahasan tersendiri di setiap kitab yang dihasilkan mereka. bab waris adalah bab yang penting, dan perlu dipikirkan saat hayat masih ada di tubuh kita.

“Selamat ultah...!”
“Selamat milad..!”
“Selamat haul...!”
“Dirgahayu....!”

Bila tanggal 4 Januari tiba, Hp akan berdering. Notifikasi muncul, yang notabene memberi ucapan selamat. Di satu hal saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya semua, sangat berarti sebagai bentuk keakraban dan persaudaraan. Namun di lain sisi saya sungguh sedih, setiap tanggal 4 menjelang kesedihan saya akan hadir kembali.

Menjelang tidur, di malam sebelumnya sulit saya memejamkan mata. Meski lelah melanda, capai menggerogoti tungkai dan sendi. Satu yang selalu berkelebat di dalam kepala, apa yang akan terjadi disaat-saat sakaratul maut saya kelak.

Apakah sebelum menaiki ranjang ini saya sudah dalam keadaan wudhu’? bagaimana jika Allah tak berkenan menghidupkan saya kembali besok pagi? Apa yang harus saya pertanggung jawabkan kepada Allah kelak, sedangkan siksaNYA sungguh perih dan panjang. Hal-hal ini selalu menghantui saya, dan semakin menjadi saat ucapan-ucapan itu bertubi datang.

Terkadang untuk menghindari agar rasa sedih dan mashgul itu tak datang, jauh-jauh hari saya sudah memperingatkan teman dan saudara agar tak memberikan saya ucapan selamat, akan lebih baik bila mendoakan saya saja. Doakan saya kebaikan, insyaALlah saya akan membalasnya dengan do’a yang tak kalah baiknya.

Hingga pada tahun ini saya tersentak oleh kajian dr. Syafiq Riza Basalamah yang pada salah satu kajiannya menanyakan kepada khalayak tentang makna kalender islam yang kita miliki. Adakah yang rutin menggunakannya? Kenapa harus menggunakan kalender hijriyah sedangkan Masehi sangat populer?

Kita ini muslim, memiliki kalender sendiri. Patokannya adalah saat hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan seharusnya kita bangga dengan kalender kita sendiri. Dan yang paling penting adalah, semua perhitungan waktu yang pernah disebutkan di dalam Alquran dan hadits patokannya adalah Kalender Hijriyah, bukan Masehi.

Maka sejak itu saya pun semakin konsen dengan kalender Hijriyah, termasuk perhitungan tahun kelahiran. Saya dilahirkan pada hari Selasa tanggal 19 Rabi’ul awal 1403 H yang bertepatan dengan tanggal 4 Januari 1983, sehingga dalam hijriyah milad saya adalah pada tanggal 19 Rabi’ul awal 1438 H yg bertepatan dengan tanggal 29 Desember 2016 M. Muslim seharusnya menggunakan kalender Hijriyah yang berarti saya lebih yakin bila kelahiran saya adalah di tanggal 29 Rabi’ul awal bukan 4 Januari.

Dalam kelander Hijriyah setiap 33 tahun maka akan lengkap berselisih setahun dengan kalender Masehi. Artinya bila dalam Kalender Masehi usia saya telah mencapai 34 tahun pada tanggal 4 Januari, maka dalam kalender Hijriyah usia saya adalah genap 35 tahun pada tanggal 29 Rabi’ul awal. Kurang dari setengah perjalanan lagi menuju usia wajar ummat Muhammad. Yang mana sudah saatnya mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dan selalu mengingat mati. Karena sejak matilah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Allah.....

‘Memintarkan orang soleh itu jauh lebih mudah daripada, mensolehkan orang pintar.’ Sepenggal kalimat dari seorang ustadz yang memberikan ceramah rohani di salah satu ruang kantor yang kini kutempati. Begitu dalam dan butuh beberapa saat untuk kucerna, disaat yang sama terlintas wajah anak-anakku. Kucoba kukaitkan antara kalimat itu dan wajah-wajah mungil yang kini barangkali sedang menikmati masa bermainnya.

Jejak-jejak jemari di dinding, atau pecahan-pecahan keramik di beberapa bagian lantai rumah tak kan pernah kuhilangkan. Tak jua terbersit untuk merenovasi serpihan-serpihan memori itu dari sudut rumah ini. Di setiap kamar, di setiap perabot ada terserak tawa canda mereka. Di bingkai jendela, di daun pintu ada tertinggal air mata sendu mereka. Biarlah bekas itu tetap menghiasi rumah ini selamanya.

Di setiap subuh hari, ada lantunan tilawah dari mulut-mulut mungil. Bukan tanpa permulaan, yang pasti disetiap malas mereka ada tarikan selimut kami, ada percikan air diwajah kantuk mereka.

Di setiap adzan berkumandang, jerit panggil kami yang mengganggu riang waktu main mereka. Bukan tanpa perjuangan, namun lelah lalai kami, harap memiliki arti di kehidupan mereka.

Di setiap wajah ketidakpuasan mereka, ada hentakan yang akan membuat mereka sadar. Bukan tanpa perlawanan, namun kami ingin mereka memiliki karakter yang dimiliki para orang soleh di awal usia mereka. karena mengisi kepala dengan ilmu dunia sangatlah mudah saat hati-hati mereka telah tertaut dengan iman, dan iman dapat dipatri dengan kebiasaan.

Saat serambi hati mereka terisi dengan kebiasaan yang akhlakul karimah, beban berat tidaklah selesai tertanggung. Karena anak-anak ini bukanlah seperti mangga yang diperam, yang dipaksa matang didalam ruang pengap, sempit dan gelap. Mereka adalah anak-anak zaman yang harus berkembang sesuai zaman yang mereka tapaki.

Namun tak bisa dipungkiri, di luar area rumah adalah wilayah yang tidak bisa dengan mudahnya dikontrol dan dikendalikan. Ada banyak sekali impuls yang akan membuat pemikiran dan penafsiran mereka akan kehidupan mereka sendiri teralihkan dari yang selama ini kutanamkan. Saat itu terjadi, ingatankau menerawang ke sebuah kalimat yang diberikan ibu dulu. ‘seperti engkau memegang mainan ular-ularan, biarkan kepalanya bergerak kesegala arah namun peganglah erat ekornya!’

Semakin sulit memang merangkum isi hati dan kemauan kepala anak-anak yang beranjak dewasa. Seperti mengisi balon dengan cat beragam warna, dan kemudian kita tak akan pernah bisa menebak warna apa yang akan keluar terlebih dahulu. Besar kemungkinan justru warna warna cat itu akan memunculkan warna baru yang jauh lebih indah dari warna apapun yang pernah kita masukkan.

Entah pengambilan buku raport yang keberapa kalinya yang tak bisa kami datangi lengkap ibu dan bapak. Sebab undangan yang diberikan adalah ditujukan kepada kedua orang tua, namun rata-rata yang ada diruangan kelas ini didominasi oleh ibu-ibu. Hanya 3 orang bapak bapak yang nongol menjadi pembeda.

Kali ini semangatku membara untuk ambil buku raport gadis sulungku, sebab setelah ini langsung menuju ke lokasi sekolah lanjutan yang diidam-idamkannya. Setelah seminggu yang lalu kami bertiga mengikuti test masuknya. Sebentar lagi gadis sulungku sudah SMP, waktu terasa hanya melewati kami. Seperti menyaksikan balapan di lintasan balap, kami hanya duduk di salah satu spot sedangkan para pembalap melewati kami dengan kencangnya. Kemudian termangu lagi, hingga pembalap melintasi kami lagi, berulang ulang setiap lap hingga finish tiba tiba mengakhiri semuanya.

Begitupun saat ku baca sebuah kertas pengumuman yang membuat jemariku tak sabaran tuk merobek ujungnya dan sedikit mengintip kata yang tertera didalamnya, DITERIMA ataukah BELUM DITERIMA.
 Tiba-tiba memori masa kecil gadis beliaku ini memenuhi isi kepala, sejak pertama kali kepala mungilnya kudekap didadaku, saat pertama kali menjejakkan kaki, saat pertama kali bisa mengayuh sepedanya, saat masuk sekolah beberapa tahun yang lalu. Semua hanya lewat seperti ku menyaksikan pembalap dari salah satu kursi tribun penonton. Berkelebat dengan cepat kemudian menghilang.

‘bapak, apakah putrinya sudah puber?’ Saya benar benar terbata menjawab pertanyaan dari salah satu pewawancara test masuk salah satu sekolah SMP ini. Pertanyaan yang sama sekali tak terlintas dipikiran untuk kusiapkan jawabannya. Pertanyaan ini bobotnya sama kayak dulu calon mertua menanyakan kepadaku, ‘apakah kamu siap menerima tanggung jawab membahagiakan anakku?’

Bukan karena ketidak tahuanku akan keadaan putriku. Bukan pula karena aku malu sebab aku adalah lelaki sedangkan dia adalah perempuanku. Namun angan-anganku kembali tercekat, putri sulungku sudah beranjak dewasa, dia bukan lagi gadis kecil yang dulu kugendong kemana saja dan kubanggakan sebagai penerusku.

Mungkin sebentar lagi, aku akan menerima penolakan darinya. Karena isi kepalanya sudah tak lagi sejalan dengan isi kepalaku, dan egonya sudah mampu untuk berkata ‘tidak’ kepadaku. Sebentar lagi keinginannya sudah berdiri sendiri, nasehatku barangkali hanya sepintas lalu. Dan sebentar lagi peranku mungkin bukan lagi bapaknya, tapi lebih sebagai sahabatnya. Peran baru yang kucoba tuk kujalani dengan meraba-raba, seperti apakah dunia wanita itu.

Mungkin ketika saat itu tiba, aku akan mundur selangkah. Akan ku persilahkan ibundanya menjadi sahabat terbaiknya, aku akan menjadi pelindungnya saat ada seorang lelaki yang mengetuk pintu rumahku dan meminta ijin untuk bertemu dengannya. Aku akan menjadi sopirnya saat dia memintaku untuk mengantarkan bersama teman-teman wanitanya. Aku akan menjadi penggemar rahasianya saat sepucuk surat dari salah seorang temannya mampir di alamat rumah.

Saat itu tiba, aku mungkin akan menyesali telah kehilangan banyak waktu membersamainya saat kecil dulu. Akan kuserahkan tugas sebagai ‘roomate’ kepada bundanya, karena perasaan wanita lebih terkait terhadap sesama wanita. Aku menyadarinya dan aku relakan itu semua. Mungkin sisa-sisa keberadaanku akan ada di dalam setiap shalat dan doaku.

Ah, mungkin aku terlalu baper memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Si sulung baru mau masuk SMP, belum juga puber. Namun pikiran ini selalu saja melayang layang setiap kali si sulung berganti jenjang sekolah. Saat lulus TK dan mau masuk SD pun dulu begini, sekarang hendak masuk SMP malah makin menjadi. Ketika masuk SMA barangkali saya ga ikut mendaftarkan saja, biarkan bundanya yang bergerak, daripada air mataku tumpah nanti di sekolahan. Berabe...

Apatah lagi nanti saat ada seorang lelaki yang meminang dirinya, bisa nangis 7 hari 7 malam (bung ahay version...). namun saat-saat itu pasti akan tiba, bila Allah memberiku umur panjang maka keadaan itu harus ku persiapkan sejak dini. Namun jika tiba saatnya berpisah, rasanya tak kuasa kami mencegahnya seiring tak kuasa kutahan apa yang menjelang di depan.
Dia memintaku duduk disebelahnya, disamping degup jantungnya. Dia memandangku, membaca suasana hatiku. Dia merasakan kehadiranku sepenuhnya, menyelimuti gelisahku. Kemudian dengan segenap keberaniannya, dia tumpahkan semua isi hatinya. Ah ... dasar wanita, ini semua hanyalah masalah rasa, yang harus ku-iya-kan. Namun tanpa itu wanita tidak akan pernah menjadi wanita.

Ayam jantan sudah bersahutan sejak sebelum mentari menampakkan sinarnya dicakrawala. Namun kabut tak jua beranjak dari kaca jendela kamar kami, menyapa embun yang kian pekat membasahi kisi kisi hati ini. Pagi ini adalah pagi di tahun ke dua belas usia pernikahan yang rencananya akan kami jalani selama kami masih hidup.

Empat buah hati kami, berebutan mengetuk pintu agar tetap bersama di pagi yang membeku ini. Teriakan dan candaan semakin hari semakin ramai, bersamaan dengan semakin bertamahnya keinginan yang mereka miliki. Mereka mengalihkan dunia yang selama ini kuketahui, memberi tambahan semangat untuk menjalani hari.

Menjalani pernikahan tidaklah semua mengenai suka cita, tidak juga semua mengenai duka lara. Pernikahan seperti meloncat ke dalam kolam yang berisi pijakan antara duka dan suka. Silih berganti berada diantaranya. Kadang juga terjerembab bersama, mengusap luka bersama, basah bersama. Terkadang menemukan permata, melihat langit yang sama.

Pernikahan menggambarkan tentang sebuah jalinan temali dimana ujungnya tidak sama panjang namun melekat bersama hingga temali itu menjadi lebih kuat dan tegar. Membuka pintu rumah dan yang didapati pertama adalah serakan mainan bahkan handuk basah, terbangun dengan aroma gosong masakan didapur, kalut saat pasangan belum juga sampai dirumah saat matahari telah terbenam. Dapat dengan lapang melepaskan kejengkelan tanpa berfikir mungkin dia lebih jengkel.

Namun menukar semua itu dengan memutar waktu bukanlah sebuah pilihan yang akan kuambil. Dua belas tahun yang kulewati telah membentukku menjadi lelaki seperti apa diriku seharusnya. Pernikahan memberiku pengalaman yang lebih dari cukup untuk menjadi suami.

Mencumbui kecemburuan, membersamai rindu, tertawan oleh sosok yang jauh lebih lemah ... ah pernikahan.
Ada yang nyeletuk “yang begitu gusar justru yang berdomisili diluar Serang”, Perihal penerapan Perda No.2 tahun 2010 mengenai Penyakit Masyarakat. Sudah sangat viral di media elektronik maupun media sosial tentang Ibu-ibu buta huruf yang membuka warung makannya di siang hari, karena yang bersangkutan tak bisa membaca selebaran dari Pemerintah Daerah setempat mengenai pelarangan membuka warung disiang hari saat Ramadhan. 

Padahal Masyarakat Serang beserta konstituen yang terkait justru adem ayem, MUI nya menanggapi dengan bijak, Pemerintah Daerahnya menerapkan peraturan dengan tetap menjunjung kemanusiaan. Sungguh informasi yang sepenggal dapat memberikan hasil output yang salah kaprah.

Kemudian menjadikan opini yang berkembang, dibarengi dengan pemberitaan yang masif. Entah media menjadikannya berita atai penggiringan opini. Yang pasti di masyarakat telah terlanjur terbentuk dua kubu dalam perang opini tersebut. 

Opini yang berpihak kepada si ibu baik dengan alasan toleransi, juga dengan argumen bahwa Muslim yang berpuasa tak seharusnya tergoda dengan warung makanan yang dibuka di siang hari. Beberapa pihak yang menjadikan toleransi sebagai landasan untuk mendukung si ibu pemilik warung, dengan segera dan tanggap membuka donasi untuk meringankan beban si ibu, yang kabarnya donasi itu telah mencapai 200 juta. Menjadikan setiap warung berlomba-lomba untuk membuka warungnya di siang hari, dengan harapan akan ada satpol PP yang akan menerapkan konskuensi Perda itu bagi warungnya dan mendapat donasi juga. Mbok ya, saya juga punya warung...

Sedangkan opini yang mengusik panca indera saya, justru opini yang membawa keimanan dalam hal puasa. Begitu lemahnyakah tingkatan orang berpuasa sehingga ada warung buka di siang hari saja sudah tergoda? Puasa macam apa yang tak tahan godaan aroma makanan? Terus kalau setiap godaan di bulan Ramadhan di hilangkan, apa yang kalian rayakan sebagai sebuah kemenangan di hari iedul fitri kelak?

Saya ga mengatakan opini ini benar, namun saya juga sedikit terusik dengan pengambilan sudut pandang opini-opini tersebut. Tidak salah opini-opini tersebut bergulir, hanya saja konteksnya bukan untuk penutupan warung, tapi untuk muhasabah diri dalam konteks yang lebih besar yaitu jalan menuju ketakwaan. Justru opini semacam ini akan sangat cocok bila digandengkan dengan ayat Quran berikut ini. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabut: 2-3].

Sungguh setiap muslim itu akan diuji tentang kadar keimanannya, tak akan luput semuanya. Hanya saja kita kadang sulit membedakan mana yang ujian mana yang bencana. Maka opini-opini diatas bukanlah opini yang menyudutkan, bukanlah opini yang nyinyir, ngenyek atau dangkalnya berlogika. Opini-opini itu hanyalah salah tempat, salah konteks dan salah peruntukannya. Sejujurnya siapapun yang beropini seperti itu dia sedang menanyakan kepada dirinya sendiri. Terlalu personal untuk membahas siapa yang menulis opini itu karena jawabannya ada di dalam diri mereka sendiri.

Konteks mengenai Warung makan yang buka di siang hari bukanlah mengenai individu dan keimanannya, namun tentang syiar islam. Allah berkata dalam Quran, 

“Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2)

Sekalipun bukan kita pelaku maksiatnya, namun islam melarang kita untuk membantu ataupun memfasilitasi agar maksiat itu terjadi. Puasa Ramadhan adalah kewajiban, siapapun yang tidak melaksanakannya tanpa uzur maka dia telah melakukan maksiat bahkan bisa jatuh ke dosa besar. 

Membuka warung di siang hari bukan lagi masalah individu dan kualitas keimananya, namun masalah memfasilitasi untuk perbuatan maksiat. Sekaligus menyurutkan syiar-syiar islam dalam masyarakat. 

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. al-Hajj: 32)

Bulan ramadhan, termasuk syiar islam. Di saat itulah, kaum muslimin sedunia, serempak melakukan puasa. Karena itu, menjalankan puasa bagian dari mengagungkan ramadhan. Hingga orang yang tidak berpuasa, dia tidak boleh secara terang-terangan makan-minum di depan umum, disaksikan oleh masyarakat lainnya. Tindakan semacam ini, dianggap tidak mengagungkan kehormatan ramadhan.

Dulu para sahabat, mengajak anak-anak mereka yang masih kecil, untuk turut berpuasa. Sehingga mereka tidak makan minum di saat semua orang puasa. Ini syiar islam, dan sekali lagi ini bukan konteks individu dan keimanannya.