Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Aku dan Motorku

~ ~

Sebenarnya tidak juga bisa dikatakan hobi, hanya karena dulu bapak adalah pegawai rendahan yang hanya mampu memiliki motor, maka kesenangan itu bermula. Mengendarai motor tidaklah menjadi pilihan bagi sebagian orang saat ini, saat mampu memiliki kendaraan yang lebih mewah. Sudah lewat masa kejayaan kendaraan roda dua ini membelah jalanan, namun tidak bagi saya.

Probolinggo ke Jogjakarta hampir pasti telah menjadi rutinitas bulanan bagiku dan bagi bapak dulu dengan motor butut yang dah tak muda lagi. Bukan tentang tujuan yang membuatku begitu bahagia, namun tentang perjalanannya itu sendiri. Duduk diatas jok motor dan merasakan angin, istirahat di pom bensin ataupun masjid ataupun warung yang terserak di sepanjang jalan, melihat aktivitas masyarakat di pinggir jalan. Pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, bahkan telah mengurat nadi. Hingga rasa itu pun selalu ingin terulang.

Mengendarai motor tidaklah semenarik mengendarai kendaraan roda empat, apalagi di kultur Indonesia yang mengedepankan materi sebagai patokan kemakmuran. Motor identik dengan kendaraan kaum proletar, walau sebenarnya ada jenis motor tertentu yg harganya malah jauh lebih tinggi dari kendaraan roda empat. Namun mind set sudah terlanjur terbentuk, bila anda naik motor meskipun duit anda ga berseri, anda akan terlihat seperti tukang ojek.

Pernah naik kuda? Atau onta? Burung onta deh? Belum semua? Sama, saya juga. Hehehe...

Namun setidaknya saya pernah naik gajah di Taman Nasional Way Kambas kala itu, menyusuri sungai dan hutan. Menapaktilasi para pawang gajah membawa gajahnya ke dalam hutan untuk mencari kayu atau memburu babi. Para pawang dan gajahnya ini diharuskan memiliki ikatan, agar mereka dapat melaksanakan tugas dgn baik. Pawang dan gajahnya bukan lagi seperti tuan dan peliharaannya, lebih mirip bapak dan anaknya, atau kakak dan adiknya.

Motor bagiku seperti kuda, onta, burung onta ataupun gajah. Walaupun motor barang mati dengan memperlakukan sebaik-baiknya maka motor seperti mengikuti apa yang kita mau. Setidaknya kalau pecah ban tepat di depan tukang tambal ban, atau kalau macet tepat didepan bengkel motor. Kadang ketika berkendara sendiri di atas motor sering ngobrol sendiri padahal sebenarnya sedang pura-pura berbincang dengan si motor buluk ini. Membangun ikatan walau sebenarnya tak ada yang bisa dibangun.

Dalam perjalanan motor kuperlakukan seperti teman perjalanan, kalau dia kehujanan ya saya juga kehujanan. Kalau dia tersengat terik mentari maka segera kuteduhkan, walau sebenarnya dia juga tak merasakan panas. Hanya sebuah ikatan yang berusaha dibangun agar perjalanan tak begitu sepi dan hening.

Mungkin ikatan itulah rahasia yang membuat setiap perjalananku diatas motor begitu nikmat. Tak peduli apa dan dimana tujuan, ketika melayang di atas motor merasakan angin dan sinar mentari adalah adrenalin yang mencandu. Tak peduli hujan atau pun kabut, nikmat itu serasa tak tergantikan.
Selengkapnya ...

Belahan Jiwa

~ ~
Bahagianya hari tidaklah mungkin ditakar dari surutnya cahaya mentari, indahnya malam tidak pula diukur dari ada dan tiadanya gemintang. Aku hilang di antara keramaian, bercanda dengan fikiranku sendiri.Memandangi bayangan, dengan dinginnya rasa.

Mentari masih bersinar dengan teriknya namun tak jua kurasakan hangatnya. Kutunggu malam tiba semoga gemintang bisa memberikanku keindahan, walau diujung langit kulihat awan hitam berarak.

Ku tak berharap hujan kembali datang, namun bukankah hujan adalah pertanda bahwa pekat akan segera hilang? Namun kini disekujur kulit telah kurasakan rintik air di udara, walau sebenarnya hujan belum datang. Awan hitam masih bergayut di kaki langit. Setia menunggu angin yang akan menghantarkannya ke tanah kering bebatuan.

Aku berdiri di persimpangan, merendah bersamai pioni. Menatap dengan mata yang berdebu, badai akan segera tiba. Menentukan hendak kemana hati ini akan dibawa. Menunggu setiap kata agar dapat kutahan rintihan lidah dan gelegarnya ucapan.

Tak peduli setajam apa hempasan hujan, aku akan tetap berjalan. Walau sakit, walau perih, karena di persimpangan itulah aku akan menunggu saat mentari kembali menyala.

Belahan jiwa....
Apa kabarmu disana?
Adakah engkau baik-baik saja?
Bila mendung menggelayuti langitmu, aku akan basah untukmu.
Kita akan duduk di bangku itu, dan memandang pelangi hingga mentari tak lagi bersinar.
Bersama.....
Hingga bosan hujan mengguyur
Hingga enggan mentari bersinar
Hingga lelah awan hitam menaungi
Hingga tiba waktu berhenti.
Selengkapnya ...

[OPINI] Bagaimana akhirnya kuputuskan tidak memvaksin anak-anakku

~ ~
Tulisan ini hanya menyimpulkan dari pengalaman pribadi, tiada maksud apapun selain memberikan kabar berdasar pengalaman pribadi. Bila anda mengikuti prosedur apapun yang saya tuliskan dibawah maka segala bentuk resiko dan konsekuensi menjadi tanggung jawab pribadi.  

Latar Belakang
18 September 2008, saat itulah terakhir kali kupandang wajah ibuku. Ibu yang melahirkanku, yang memberikan air susunya kepadaku, yang mengajariku tentang hidup dan segalanya. Ibu divonis menderita kanker usus, sekitar 3 bulan sebelumnya. Dokter memutuskan untuk mengangkat kanker itu karena letaknya yang menutup jalannya makanan didalam usus.

Yang menjadi solusi dari dilema yang harus diambil, antara membiarkan menangani kanker itu dgn obat namun membuat jalan lain di diusus sebagai pembuangan feses, atau mengangkatnya dengan resiko kanker akan menyebar. 26 hari sebelum kepergiannya ibu menjalani terapi kemo untuk kankernya, dan selama 26 hari itu penderitaan selalu menggerogoti tubuhnya. aku tahu walau tak sepatah kata pun keluhan keluar dari mulutnya. Kemoterapi bagaikan bom yang dimasukkan kedalam sekumpulan sel, dia tak membedakan mana sel sehat dan mana sel sakit. Sehingga sakit yang amat sangat yang diderita bagi pasien yang menjalani terapi kemo bukanlah mengada-ada. Sepeninggal ibu, membuatku berfikir dan merenungkan hadits ini; “Nasihati dirimu dengan dua hal.

Nasihat yang berbicara yaitu Alquran dan nasihat yang bisu yaitu kematian.” Kematian ibu kujadikan pelajaran khususnya dalam hal kesehatan. Selama ini aku dbesarkan dalam keluarga yang tidak terlalu peduli dengan perihal kesehatan. Percaya begitu saja terhadap apapun yang dokter katakan tanpa mau menelisik, tanpa mau mempelajari dan bertanya. Bertolak dari sakit ibu itulah kemudian aku bertekad untuk mulai mempelajari ilmu kesehatan.  

Mengenal Ilmu Kesehatan
Ditengah keawaman pengetahuanku akan ilmu kesehatan, sering ku berfikir. Sakit kanker ibuku pasti dimulai dari kebiasaan makan beliau yang kadang hanya berbatas pada halal dan haram. Menyelidik lebih jauh ibuku juga sering minum obat-obatan warung, makan dan minum yang serba instan.

Sehingga kumulai semua perubahan hidupku dari membiasakan diri mengkonsumsi yang alami dan mengurangi asupan sintetis dan instan. Tidak mudah minum obat saat sakit, menahannya hingga batas dimana tak sanggup lagi bertahan. Tekadku menemui peraduan, Allah mempertemukanku dengan seorang ustadz yang juga seorang terapis dan herbalis terlatih dan berpengalaman.

Yang menjadi sumber syukurku berikutnya adalah, beliau juga tanpa ragu-ragu mengajarkan seluruh ilmunya tanpa meminta imbalan sedikitpun. Beliau hanya berpesan, sampaikan ilmu ini kepada siapa saja, karena ilmu ini adalah harta karun muslimin. Rutin setiap minggu kudatangi ilmu itu, dimana lagi akan kudapatkan ilmu gratis ini.

Selain mendapatkan ilmu kesehatan islam aku juga diajarinya ilmu fiqh, mempelajari beberapa hadits, mempelajari tafsir dan sedikit mantiq. Alangkah luar biasanya, berapa pulau yang terlampaui dalam sekali dayung ini. Lebih dari 2 tahun aku mendatangi ilmu itu secara intens, hingga kini pun masih terus kupelajari. Hingga benar apa yang pernah diucapkan ibnu qayyim, bahwa sepertiga ilmu yang diturunkan Allah kedunia adalah tentang kesehatan. Semakin mempelajarinya akan semakin bodoh diri ini dibuatnya. Sehingga sampai kapanpun, status pembelajar itu tak akan pernah hilang.  

Natural dan Alami
Aku tak pernah menyatakan tak membutuhkan dokter atau tindakan medis modern. Namun dokter dan tindakan medis modern bukanlah menjadi prioritas utama dalam hal penanganan kesehatan bagiku dan keluargaku. Dokter dan tindakan medis modern adalah second opinion bagiku, karena memang begitulah urutan yang dapat diambil intisarinya dari salah satu kitab ibnu qayyim yang paling terkenal Thib nabawi. Bahwa ibnu qayyim lebih mengedepankan pencegahan yang bersifat alopati dan holistik. Porsi penanganan penyakit pada keseluruhan tindakan kesehatan menurut ibnu qayyim adalah saat dibutuhkan saja.

Pencegahan penyakit menduduki porsi terbesar dalam keseluruhan keilmuwan thib nabawi. Sehingga bukan berarti dokter dan tindakan medis modern tidak dibutuhkan lagi, namun dibutuhkan pada saat yang tepat. Bahan-bahan yang belum tercemar oleh sintetis kimia tidaklah memberikan efek samping bila digunakan pada dosis dan cara yang tepat. Alasan inilah yang kemudian menjadikan first optionku akan penanganan kesehatan teraplikasi. Sebenarnya alasan paling mendasar adalah saya sangat percaya bahwa industri farmasi itu telah berubah menjadi kartel yang memanfaatkan keawaman masyarakat.  

Keputusan tidak memvaksin
Vaksin, sebenarnya hanyalah produk farmasi yang dipasarkan untuk mengeruk profit. Sama seperti produk farmasi yang lain. Satu teori yang saya percayai dalam penjualan produk farmasi ini adalah bahwa obat-obatan sintetis itu dipasarkan untuk membuat masyarakat addicted. Sehingga tak bisa meninggalkan jenis obat itu, bukankah hal itu hampir sama dgn hukum profit oriented? Menjadikan konsumen terbranded dengan produk tertentu. Pada dasarnya, sebagian besar produk farmasi hanya meredakan symptom, tidaklah menuntaskan sumber sakitnya.

Contoh, bila anda sedang flu, yang biasa dijual dipasaran adalah obat-obat yg mengandung, antipiretik dan sebagian ada yang mencampurnya dengan antihistamin yg memiliki efek mengantuk. Flu adalah bersumber dari virus, sedangkan hingga saat ini belum ada obat untuk membunuh virus (correct me if i’m wrong). Sehingga pada dasarnya yang kita butuhkan hanya penguatan antibody, dengan cara istirahat, menambah asupan nutrisi dan vitamin dan memperbanyak cairan. Berbeda dengan vaksin, yang diklaim adalah sebagai pencegah untuk satu macam penyakit, baik itu yang bersumber dari virus ataupun bakteri atau yang lain.

Dengan begitu diciptakannya vaksin adalah sebagai deklarasi bahwa farmasi tidak memiliki cara untuk membunuh mikroorganisme itu kecuali dgn antibody yg terkandung dalam sistem imun manusia itu sendiri. Teori yang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya dieksekusi dengan cara dan prosedur yang salah. Dunia farmasi kemudian menciptakan vaksin, dari 3 jenis virus; a.virus hidup, b. Virus yang dilemahkan dan c. Biovirus (rekayasa genetik).

Cara yang salah untuk memulai sebuah teori yang belum teruji dan tanpa dasar yang signifikan. Memasukkan penyakit ke dalam tubuh agar terbentuk imunitas sudah merupakan cara yang sangat salah bila saya berbicara dalam dunia kesehatan islam dimana yang menjadi dasarnya adalah wahyu. Namun para ulama sepakat menghukuminya mubah karena metode atau tata cara selain ibadah tidak ada larangan sebelum ada dalil yang melarangnya. Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (Ad-Daraquthni (III/470, no. 4461).)

Prosedur yang salah, memiliki banyak kejanggalan atau info yang sengaja tidak disampaikan dalam hal pembuatan vaksin. Halal dan tayyib adalah rambu yang tak bisa dilanggar bagi muslim dalam setiap apapun yang masuk kedalam tubuhnya. Halal dan Tayyib Berbicara Halal tentu hal ini akan mengerucutkan pembahasan pada hanya muslim saja, walau sejatinya dahulu kala semua agama samawi sejatinya mendasari relnya salah satunya juga pada halal haram, namun biarlah itu menjadi pembahasan di topik yang lain. Sekarang mari kita jawab pertanyaan ini, Sepenting apa sih pemahaman halal itu bagi muslim?

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah setan karena setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 168)

Sa’ad bin Abi Waqash pernah meminta doa kepada Rasulullah saw. agar dirinya dijadikan orang yang doa-doanya diijabah. “Ya Rasulullah, doakan kepada Allah agar aku menjadi orang yang dikabulkan doanya oleh Allah,” ungkapnya. Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, tidak akan diterima amal-amalnya selama empat puluh hari dan bagi seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya” (H.R ath-Thabrani).

Dari riwayat ini bisa ditarik kesimpulan, betapa halal adalah batasan bagi muslim dalam menempuh gaya hidupnya, betapa halal adalah syarat mutlaq bagaimana kualitas ibadah itu diterima. Jadi meremehkan batasan halal sama saja menyia-nyiakan ibadah kita kepada Allah. Para fuqaha membagi halal ini ke dalam dua bagian, yaitu halal zat atau jenisnya dan halal cara memperolehnya. Makanan yang halal dari segi zatnya adalah semua makanan, kecuali bangkai (binatang yang mengembuskan nyawanya tanpa disembelih secara sah, kecuali ikan dan belalang), khamr (termasuk semua yang memabukkan), babi dan turunannya, binatang buas dan bertaring, binatang pemakan kotoran, darah yang mengalir, dan sebagainya (lihat Q.S. al-Baqarah [2]: 173).

Sementara itu, halal dari segi cara memperolehnya adalah setiap makanan yang didapatkan dengan cara-cara yang dibenarkan agama, bukan melalui cara-cara yang batil dan merugikan orang lain, seperti mencuri, menipu, riba, dan sebagainya.

Sehingga pembahasan tentang vaksin akan kumasukkan didalam pembahasan halal zat atau jenisnya. Sedangkan halal memperolehnya/tindakannya adalah sebagai imuniasasi dan sudah difatwakan oleh salah satunya fatwa Abdul Aziz bin baz dan difatwakan mubah dengan catatan bila tidak memanfaatkan atau pernah bersinggungan dengan zat haram mutlak sebelumnya.

Sedangkan ketayyiban produk vaksin sungguh masih sangat diragukan bila membaca beberapa jurnal berikut ini; Jurnal Toxicological Sciences melaporkan konsentrasi thimerosal untuk menimbulkan efek toksik adalah antara 405 µg/l – 101 mg/l atau setara dengan kadar merkuri 201 µg/l – 50 mg/l. Sedang bila dihitung rata-rata, bayi berumur 6 bulan mendapat akumulasi paparan merkuri maksimal dari vaksinasi sebesar 32 – 52 µg/kg berat badan. Pada perhitungan lebih rinci, angka ini hampir 4 kali lipat lebih rendah dari batas minimal tersebut. Tetapi masih belum jelas apakah paparan dosis rendah dalam jangka panjang akan mempengaruhi tingkat toksisitasnya. Analisis efek toksik thimerosal selama ini didasarkan pada efek metil merkuri, sementara yang terkandung adalah etil merkuri. Metil merkuri mudah terakumulasi di dalam tubuh karena waktu paruhnya panjang (sekitar 45 hari).

Akumulasi akan lebih tinggi pada bayi karena masih belum sempurnanya sistem ekskresi. Sementara pada Lancet bulan November 2002, Pichichero et. Al melaporkan ternyata ekskresi etil merkuri pada bayi berumur 6 bulan, 6 kali lebih cepat daripada metil merkuri (45 hari berbanding 7 hari), sehingga tingkat akumulasinya lebih rendah daripada yang diperkirakan. Hal ini memperkuat dugaan Magos bahwa etil klorida mulai menimbulkan risiko bila kadar dalam darahnya 1 µg/ml (1000 µg/l). Metil merkuri lebih cepat menimbulkan risiko karena ada mekanisme transmisi aktif difasilitasi oleh suatu asam amino sehingga cepat menembus sawar darah otak (blood brain barrier). Sementara etil merkuri, di samping tidak memiliki mekanisme transmisi aktif tersebut, juga berukuran molekul lebih besar dan didekomposisi lebih cepat daripada metil merkuri. Pada tataran klinis, hasil eksperimental di laboratorium oleh Baskin et al. melaporkan bahwa thimerosal merusak membran sel dan DNA serta memacu terjadinya apoptosis pada sel neuron dan fibroblast manusia.

Tetapi hasil pada hewan coba menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan diduga ada pengaruh faktor genetis karena hanya didapatkan sifat neurotoksisitas pada strain tikus tertentu. Journal of American Physicians and Surgeons melaporkan analisis terhadap data di VAERS (Vaccine Adverse Events Reporting System). Disebutkan, adanya paparan 75 – 100 µg merkuri dari vaksin yang mengandung thimerosal menimbulkan peningkatan 2 – 6 kali pada insiden gangguan perkembangan neurologis dan penyakit jantung dibandingkan kelompok yang mendapat vaksin tanpa thimerosal.

Vaksin sebagai produk 
MUI sebagai lembaga atau wadah menyatukan umat dalam keanekaragaman, memberikan nasehat dan fatwa. Ada 5 tugas pokok MUI yaitu;
1. Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya);
2. Sebagai pemberi fatwa (mufti);
3. Sebagai pembimbing dan pelayan umat (Riwayat wa khadim al ummah);
4. Sebagai gerakan Islah wa al Tajdid;
5. Sebagai penegak amar ma’ruf dan nahi munkar. Sehingga tak berlebihan bila MUI menjadi salah satu tolok ukur untuk memberikan kemantapan dalam menentukan pilihan pribadi.

Dalam peranannya itulah kemudian MUI memiliki Lembaga tersendiri yang berisi para peneliti dan ilmuwan untuk menelisik produk yang beredar dimasyarakat dalam kaitan kehalalannya.

LPPOM MUI (Lembaga pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) adalah lembaga bentukan MUI yang bertugas untuk memberikan informasi apakah produk itu halal atau belum. Maka apabila sebuah produk vaksin telah terjamin kehalalannya, pasti produk vaksin itu akan terdaftar di list sertifikasi halal LPPOM MUI. Jika tidak maka memiliki beberapa kemungkinan, antara lain;

1. Produk vaksin itu tidak lolos uji kehalalaan;
 2. Produsen tidak mendaftarkan produknya untuk diteliti kehalalannya oleh LPPOM MUI. Titik kritis tercampurnya bahan babi kedalam produk vaksin adalah pada proses penumbuhan virus, dimana setelah diambil dari tempat penyimpanannya, bibit virus dicairkan dan dihangatkan secara hati-hati pada keadaan tertentu.

Sejumlah kecil sel virus ditempatkan dalam sebuah “pabrik sel”, yaitu sebuah mesin kecil yang, dengan penambahan media yang sesuai, memungkinkan sel virus untuk berkembang biak. Media juga mengandung protein lainnya dan senyawa organik yang mendorong reproduksi sel virus. (proses ini memungkinkan unsur babi masuk dalam tahap pembuatan vaksin, jika protein yang dipakai berasal dari babi). Pertumbuhan sel virus sangat dirangsang dengan penambahan enzim ke medium, di mana yang paling umum digunakan adalah tripsin.

Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam metabolisme dan pertumbuhan sel. Tripsin dapat diperoleh dari pankreas sapi atau babi, sehingga unsur babi juga bisa masuk pada proses ini jika dipakai tripsin yang berasal dari babi. Kemudian tahap berikutnya adalah tahap pemisahan dan pemilihan strain virus, dimana di tahap inilah titik kritis itu kembali dipertanyakan. Apakah dengan teknologi pencucian semacam filtrasi atau sentrifugasi unsur babi bisa terpisah sepenuhnya dari produk vaksin?

“Namun apabila kita meneliti lebih jauh, mendalam, hingga tingkat molekuler, dan berbicara pada tataran mekanisme reaksi, dengan dasar bahwa pada kenyataannya, seperti yang telah dipaparkan di atas, sebagian produk reaksi pertama, dimana molekul hidrogen dari produk reaksi pertama berasal dari serin yang ditransfer kepada histidin, lalu berakhir kepada gugus amina sebagai produk hidrolisis pertama, terintegrasi secara struktur sebagai bagian produk hidrolisis. Tentunya proses pencucian dan pembersihan total tidaklah memiliki arti apa-apa karena sebagian molekul (molekul hidrogen) yg berasal dari tripsin telah terintegrasi secara struktural sebagai bagian produk reaksi enzimatis.”

 Kesimpulan yang diambil oleh Khomaini Hasan seorang peneliti dibidang biomolekular ini diambil berdasar keilmuannya. Babi seperti yang muslim ketahui adalah salah satu yang haram dikonsumsi dan najis sifatnya. Tanpa terkecuali pada seluruh daerah dan bagian tubuhnya. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai darah daging babi dan binatang yang disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas maka tidak ada dosa baginya.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . (QS. Al-Baqarah : 173)

Pendapat As-Syafii, bahwa kulit yang menjadi suci dengan disamak adalah semua kulit bangkai binatang, kecuali anjing, babi, dan spesies keturunannya. (Syarh Shahih Muslim, 4/54).

Najisnya babi bersifat ketetapan dari Allah SWT, baik lewat Al-Quran maupun lewat sabda Rasululullah SAW. Maka tidak ada illat apapun dari kenajisannya ataupun dari keharaman memakannya, kecuali semata-mata ketetapan dari Allah SWT.

Maksudnya, babi itu dianggap najis bukan karena alasan-alasan ilmiyah, seperti anggapan bahwa babi itu hewan yang kotor, mengandung banyak kuman penyakit, cacing pita, virus dan sebagainya. Semua itu memang mungkin saja benar, namun kenapa Allah SWT menetapkan sebagai hewan yang najis, tentu alasannya tidak ada kaitannya dengan hal-hal semacam itu. Maka alasan mengharamkan babi karena hewan itu kotor dan mengandung penyakit, tentu bukan alasan yang bersifat syar’i. Hakikat najis dan haramnya babi yang sebenarnya adalah semata-mata alasan syariah saja, yaitu karena Allah SWT sebagai tuhan telah menetapkan bahwa babi itu najis dan haram dimakan.  

Perubahan Wujud ‘ain
Yang dimaksud dengan ‘ain suatu benda adalah wujud fisik hakikat dan dzat benda itu. Dan ‘ain suatu benda bisa berubah wujud dengan proses tertentu. Contoh yang sederhana adalah minyak bumi yang kita pakai untuk bahan bakar sehari-hari. Kita semua tahu bahwa minyak bumi berasal dari hewan yang hidup jutaan tahun yang lalu, lalu hewan mati dan terkubur di dalam tanah. Tentu kalau hewan itu mati, seharusnya menjadi bangkai.

Dan hukumnya bangkai tentu najis. Lalu kenapa kita tidak mengatakan bahwa bensin itu najis? Alasannya karena bensin itu sudah mengalami perubahan 'ain dari 'ain hewan menjadi ‘ain minyak bumi. Proses perubahan ‘ain suatu benda menjadi ‘ain yang lain disebut istihalah. Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa benda yang najis apabila telah mengalami perubahan ‘ain dengan istihalah, maka pada hakikatnya benda itu sudah berubah wujud. Sehingga hukumnya sudah bukan lagi seperti semua tetapi berubah menjadi suci.

Jadi bila kita ikuti logika pandangan kedua mazhab itu apabila babi sudah berubah menjadi benda lain, misalnya menjadi tanah, garam, fosil, batu, atau benda lainnya yang sama sekali tidak lagi dikenali sebagai babi, maka hukumnya tidak najis. Dengan logika ini, insulin dan benda-benda kedokteran yang disinyalir berasal dari ekstrak babi secara nalar telah mengalami perubahan ‘ain lewat proses istihalah. Sehingga hukumnya tidak lagi najis.

Namun dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah, meski pun benda najis sudah berubah ‘ain-nya dan beristihalah menjadi ‘ain yang lain tetap saja hukum najis terbawa serta. Dengan pengecualian dua kasus saja, yaitu penyamakan kulit bangkai dan berubahnya khamar menjadi cuka. Selebihnya semua perubahan ‘ain tidak berpengaruh pada perubahan hukum termasuk babi yang diekstrak menjadi insulin dan sebagainya.

Hukum Berobat
Rincian tentang masalah hukum berobat disampaikan oleh Syaikh Sholih Al Munajjid,
1- Berobat jadi wajib jika tidak berobat dapat membinasakan diri orang yang sakit.
2- Berobat disunnahkan jika tidak berobat dapat melemahkan badan, namun keadaannya tidak seperti yang pertama.
3- Berobat dihukumi mubah (boleh) jika tidak menimpa pada dirinya dua keadaan pertama.
4- Berobat dihukumi makruh jika malah dengan berobat mendapatkan penyakit yang lebih parah. (Fatawa Syaikh Sholih Al Munajjid no. 2148)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Berobat tidaklah wajib menurut mayoritas ulama. Yang mewajibkannya hanyalah segelintir ulama saja sebagaimana yang berpendapat demikian adalah sebagian ulama Syafi’i dan Hambali. Para ulama pun berselisih pendapat manakah yang lebih utama, berobat ataukah sabar. Karena hadits shahih yang menerangkan hal ini dari Ibnu ‘Abbas, tentang budak wanita yang sabar terkena penyakit ayan.” (Majmu’ Al Fatawa, 24: 268) Ibnu Taimiyah melanjutkan, “Sekelompok sahabat Nabi dan tabi’in tidak mengambil pilihan untuk berobat. Ada sahabat seperti Ubay bin Ka’ab dan Abu Dzar tidak mau berobat, lantas sahabat lainnya tidak mengingkarinya.”  

Berobat dengan yang najis dan atau haram
Hadis yang melarang berobat dengan sesuatu yang haram/najis, misalnya sabda Nabi SAW,"Sesungguhnya Allah-lah yang menurunkan penyakit dan obatnya, dan Dia menjadikan obat bagi setiap-tiap penyakit. Maka berobatlah kamu dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram." (HR Abu Dawud, no 3376). Sabda Nabi SAW "janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram" (wa laa tadawau bi-haram) menunjukkan larangan (nahi) berobat dengan sesuatu yang haram/najis. Berdasarkan ini, sebagian ulama mengharamkan berobat dengan sesuatu yang haram/najis. (Walid bin Rasyid As-Sa'idani, Al-Ifadah Asy-Syar'iyah fi Ba'dhi Al-Masa`il Ath-Thibbiyah, hal. 14).  

Berobat bukan perkara Darurat
Kesembuhan tidak memiliki suatu sebab tertentu yang pasti. Tidak seperti rasa kenyang yang memiliki sebab tertentu yang pasti. Karena ada orang yang disembuhkan Allah tanpa obat, dan ada yang disembuhkan oleh Allah dengan obat-obat dalam tubuh –baik yang halal maupun haram-.

Terkadang obat dipakai tapi tidak membawa kesembuhan, karena ada syarat yang tak terpenuhi atau adanya penghalang. Tidak seperti makan yang merupakan sebab rasa kenyang. Karenanya Allah membolehkan memakan barang haram bagi orang yang mudltor (terpaksa) ketika terpaksa oleh kelaparan, karena rasa laparnya hilang dengan makan dan tidak hilang dengan selain makan. Bahkan bisa mati atau sakit karena kelaparan. Karena (makan) adalah satu-satunya jalan untuk kenyang, Allah membolehkannya.

Tidak seperti obat-obatan yang haram ( bukan satu-satunya jalan untuk sembuh). Bahkan bisa dikatakan bahwa berobat dengan obat-obatan yang haram adalah tanda adanya penyakit dalam hati seseorang, yaitu pada imannya. Karena jika ia adalah bagian dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang beriman, maka Allah tidaklah menjadikan kesembuhannya pada apa yang diharamkan.Oleh karena itu, jika ia terpaksa makan bangkai atau sejenisnya, wajib baginya untuk memakannya menurut pendapat yang masyhur dari keempat imam madzhab. Sedangkan berobat (dengan barang halal sekalipun), hukumnya tidak wajib menurut sebagian besar ulama.

Bahkan mereka berbeda pendapat, apakah yang lebih afdol berobat atau meninggalkannya karena tawakkal. Dan diantara dalil yang memperjelas hal ini, ketika Allah mengharamkan bangkai, darah, daging babi dsb, Dia tidak menghalalkannya kecuali untuk orang yang terpaksa (mudltor) dengan syarat tidak berlebihan dan tidak dalam keadaan maksiyat, sebagaimana disebutkan dalam ayat : (( Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)).

Dan kita ketahui bahwa berobat tidaklah termasuk kategori terpaksa, sehingga tidak boleh berobat dengannya. Adapun barang haram yang dibolehkan karena hajah ( kebutuhan )-maksudnya dibolehkan tidak hanya karena dlarurah ( keterpaksaan ) – seperti memakai sutera, telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi memberikan rukhshah ( keringanan ) bagi Zubair bin ‘Awwam dan Abdurrahman bin ‘Auf radliyallahu ‘anhuma untuk memakai sutera karena gatal pada tubuh beliau berdua. Ini boleh menurut pendapat yang benar di kalangan ulama karena memakai sutera hanya diharamkan jika dalam keadaan tidak perlu.

Karenanya dibolehkan untuk wanita mengingat kebutuhan mereka untuk berhias dengannya, dan dibolehkan bagi mereka untuk menutup aurat dengannya tanpa pengecualian. Demikian pula kebutuhan untuk berobat dengannya. Bahkan hal itu mestinya lebih dibolehkan lagi. Sutera diharamkan karena unsur berlebih-lebihan, pamer dan kesombongan. Unsur-unsur ini tidak ada ketika ada kebutuhan. Demikian pula boleh memakai sutera karena dingin, atau karena tak punya penutup aurat selain sutera. [Majmu’ Fatawa 24/266-276].  

Kesimpulan
Keempat anakku hanya 2 yang terakhir yang benar benar tidak tersentuh oleh vaksinasi, Alhamdulillah tidak juga memiliki perbedaan signifikan dari 2 kakaknya yang terpapar vaksin. Tiada masalah kesehatan yang berarti yang pernah dialami. Bila menurut penulis buku Smart Patient batas seorang anak dikatakan memiliki imunitas yang kurang adalah apabila dalam satu tahun terserang sakit lebih dari 12 kali, maka aku bersyukur seluruh anak-anakku hampir jarang sakit setiap bulannya sepanjang tahun. Allah masih melindungi kami, insyaALlah. Semua yang kutulis diatas hanyalah opini, bukan karena merasa paling ahli atau mengetahui segalanya. Hanya saja difinisi ahli yang tersemat indah dalam perintah Allah, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43] adalah mereka yang;

a. Mengetahui dan menguasai bahasa arab sedalam-dalamnya
b. Mengetahui dan menguasai ilmu ushul fiqh,
c. Mengetahui dan menguasai dalil ‘aqli penyelaras dalil naqli terutama dalam masalah-masalah yaqiniyah qath’iyah.
d. Mengetahui yang nasikh dan yang mansukh dan mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, mengetahui yang mutawatir dan yang ahad, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah. Mengetahui yang sahih dan yang lainnya dan mengetahui para rawi as-Sunnah.
e. Mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan tata cara menggali hukum dari al-Quran dan as-Sunnah.

Sedangkan diri ini tidak memiliki kemampuan, syarat dan sarana untuk menggali hukum-hukum dari al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah padahal dia ingin menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara utuh dan kaffah, maka tidak ada jalan lain kecuali taqlid kepada mujtahid yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya.
Selengkapnya ...

Cintanya Tak Lekang Waktu

~ ~

Beberapa waktu terakhir ini istri senang nonton satu acara di salah satu Chanel TV, acara yang awalnya tak membuatku tertarik. Semacam liveshow yang ditayangkan seminggu sekali, dengan durasi sekitar 60 menit. Awalnya ku pikir hanya acara murahan, biasalah acara-acara liveshow begini pasti banyk yang diatur, awalnya yang tujuannya mencari muatan yang mendidik lama-lama berubah jadi mencari rating murni.

Namun memang bila melihat chanel yang menayangkan bukan chanel yang biasanya berisi ‘sampah’. Jadilah tergerak tuk membersamainya nonton acaranya. Membersamai istri dalam mengerjakan hobynya itu termasuk romantis loh, kecuali kalau hoby istri nonton uttaran.

Judul acara live show itu menarik, “Married at the first sight” dimana acara dibuat sesungguhnya dan dengan pengaturan atau drama yang sangat minim. Di barat sono, menikah tanpa mengenal terlebih dahulu calon pasangannya bagi sebagian orang adalah hal tabu, dan bagi sebagian yang lain justru aneh.

Dengan berbagai persiapan, penilaian yang dilakukan oleh panelist yang terdiri dari pakar pernikahan, agamawan, psikiatrist dan dokter. Setiap season akan ada 3 pasangan yang akan dinikahkan tanpa mereka terlebih dahulu mengenal pasangannya masing-masing. Mereka diberi kesempatan selama 6 bulan setelah pernikahan untuk mengenal pasangannya masing-masing. Setelah 6 bulan 3 pasangan ini akan dipanggil kembali dan ditanya tentang komitmennya dalam melanjutkan pernikahan itu. Apakah mereka mendapatkan cinta dari pernikahan itu atau mereka jadi tidak cocok dan mengajukan cerai.

Di dunia yang agak ke timur, hal semacam ini justru sangat lumrah, dari jaman nenek moyang kita sering ada pernikahan yang diatur. Bahkan di dalam Islam justru menikah adalah pintu gerbang menuju kehidupan berumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Bagi dunia yang agak ke barat hal ini masih menjadi pertentangan.

Yang menjadi seru kemudian adalah, ketika di dalam liveshow ini, setiap episode menampilkan tiap babak dari 6 bulan kehidupan awal para pasangan yang sebelumnya tidak pernah bertemu sama sekali ini, dan hanya dipertemukan saat di altar pernikahan. Ada yang takjub dengan fisik pasangannya, ada juga yang kecewa karena tak sesuai impiannya. Semakin hari bersama, semakin mereka mengenal karakter, sifat, gaya hidup, kebiasaan bahkan menemui apa yang selama ini tak pernah terfikirkan oleh tiap tiap pasangan masing-masing.

Ada yang terkejut, dan sangat berharap pasangannya mengikuti setiap maunya. Ada yang terkejut dan bersikap defensif dan menutup diri dari pasangannya. Lebih banyak lagi yang terkejut dan berusaha mengenal lebih baik pasangannya. Semua tergantung bagaimana setiap pasangan bereaksi terhadap perbedaan.

Dalam menjalani pernikahan, kita merelakan banyak bagian dari diri kita untuk hilang. Namun bagian yang hilang tersebut menyisakan ruang yang siap diisi oleh orang lain yang kita nikahi. Perihal merelakan inilah yang membutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lama waktunya pun tak memperdulikan sejauh mana kita mengenal pasangan sebelum nikah dulu. Mau cintanya first sight atau thousand sight after, tetep saja perkara merelakan ini adalah perkara yang sulit untuk diketahui ujung akhirnya. Bisa jadi hingga akhir hayat, masalah merelakan ruang untuk diisi orang lain ini masih menjadi perihal yang belum mendapatkan solusinya.

Saya tidak pernah menjadi perempuan, hingga saya tidak akan pernah tahu bagaimana perempuan merelakan hatinya untuk diisi dengan kehadiran orang lain dalam hidupnya yang saya tahu hanya sebuah larik indah dari om Garin Nugroho dalam menggambarkan hati perempuan; Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.

Om Garin menggambarkan cinta dihati perempuan itu seperti kuku, akan terus tumbuh walau dipotong sekalipun. Hati yang di dalamnya ada cinta yang tak pernah padam bila sudah mendapat tempatnya. Meskipun hanya memiliki ruang seujung jari, cinta itu tak pernah akan pernah lekang oleh waktu.

Sedang diriku, diriku memiliki ruang yang cukup luas untuk cinta yang tak akan pernah lekang oleh waktu itu. Dadaku cukup bidang untuk seluruh keluh kesah itu. Lenganku masih cukup kekar untuk mengangkat beban hidup itu. Dan jemariku masih cukup halus untuk mengusap setiap tetes air mata yang mengalir di pipi itu.
Selengkapnya ...

Legacy bag.1

~ ~
Belum pernah terpikirkan sebelumnya, tentang apa yang akan kutinggalkan pada anak-anakku kelak. Beberapa hal memang terlintas begitu saja, namun sebenarnya semua hanya dalam batas rencana. Setidaknya blog ini bisa menjadi peninggalan yang berguna bagi anak-anakku kelak. Berguna bagi mereka untuk mengenal siapa bapaknya. Mungkin meraka tahu diriku didalam rumah, lebih dari itu mungkin mereka belum faham benar, seperti apakah sosok bapak mereka.

Umur tak pernah kenal kompromi, usia tak meminta ijin untuk berhenti. Bahkan jantung di dada ini pun tak kuasa aku mengaturnya, apalah nanti yang akan kutinggalkan bagi mereka. Blog ini telah menampung lebih dari 300 tulisan yang pernah kutuliskan sejak kusadari bahwa aku harus menulis untuk generasiku. Selain itu entah apa yang kutinggalkan bagi mereka.

Yang pertama terfikirkan barangkali way of life. Keluargaku tahu bapaknya sosok yang bagaimana, anak-anakku faham bahwa dibawah rumahku ada 2 nilai moral yang harus dijunjung tinggi. Pertama adalah kejujuran, akar dari keberhasilan menjalin hubungan interaksi dengan sesama manusia adalah kejujuran. Dari berbagai sumber kehidupan saripati-saripati itu kukumpulkan dan akhirnya kudapatkan bahwa kejujuran adalah nilai moral yang mendasari apakah seseorang itu dikatakan baik atau tidak. Maka pembohong dan kemunafikan sudah pasti tidak akan diterima dalam rumah ini.

Kedua adalah tanggung jawab, dalam islam dikenal istilah tamyiz dalam hal pembagian usia seseorang dalam kemampuannya beribadah. Tamyiz adalah batas antara apakah seseorang itu memahami apa yang diperbuatnya dan tidak. Batas kesadaran diri, batas pengendalian diri. Seseorang yang tak mampu menyadari tindakannya maka dia bisa dikatakan belum tamyiz. Anak-anak yang dengan tanpa memahami mudhorotnya melangkahi jamaah dewasa yang sedang shalat di masjid adalah dikaakan belum tamyiz. Allah memaafkan perihal apapun yang dilakukan seseorang yang belum tamyiz, belum memahami kesadarannya, belum bisa membedakan mana baik mana buruk. Belum bisa menimbang mana mudhorot mana manfaat.

Tanggung jawab adalah seseorang yang telah melewati batas tamyiz tersebut. Seseorang yang memahami tanggung jawabnya adalah telah memahami mana baik mana buruk, memahami mana mudhorot mana manfaat. Yang lebih penting adalah seseorang yang bertanggung jawab memiliki kemampuan menerima apapun yang dihasilkan dari keputusannya, baik mudhorot ataupun manfaatnya.

Kedua nilai moral itu menjadi pilar yang menopang rumah bapak mereka, dan mereka harus menjaganya hingga akhir hayat. Entah apalagi yang begitu berharga yang bisa kutingggalkan bagi mereka. Yang pasti kedua pilar moral itu tak akan berjalan tanpa pembiasaan iman. Iman bagiku bukanlah hal yang mudah ditanamkan kepada anak-anak. Iman adalah tindakan yag dibiasakan sehingga pada suatu saat ketika dada mereka tidak didapati iman, mereka akan merasa kehilangan sesuatu. Karena iman adalah perkara pembiasaan.

Selengkapnya ...
 
© 2015 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger