Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Sore Menjelang

~ ~
Tiga puluh menit menjelang mesin bermulut merah itu menelan bekas jariku. Menit-menit yang terasa begitu lama, menit-menit yang menurut Einstein adalah waktu yang sama dengan duduk disebelah tungku panas. Adalah sebuah keharusan bagi kebosanan untuk menutup kepingan hari. Rasanya di 30 menit terakhir itulah penentuan takaran kualitas karya di canangkan. Apalah daya bila hidup terbingkai kanun yang begitu memikat. Tak pelak mensyukuri dan menjalani adalah pelipur lara yang terperi.

Menjulang langit disebelah jendela kaca. Seluruh kota terkotak-kotak dalam garis garis kelabu. Untuk seorang pemetik gambar cakrawala adalah imaji yang tak pernah terlewatkan. Maka untukku kaki langit itu membungkuk menahan mendung yang semakin menggelayut. Air mulai menggenangi kelopak langit, menggesa para pengemudi untuk segera sampai tujuan. Marabahaya hanyalah angin lalu yang menggores pipi-pipi dingin mereka.

5 menit menjelang si lidah merah memangsa jemariku. Seonggok kotak makan kardus bermerk rumah makan gadang. Melongok wajahku dan memintanya untuk dipungut. Sayangnya kandung makanku terasa penuh diwaktu waktu yang seharusnya kosong. Entah darimana berasal, Barangkali Tuhan sedang membuktikan KalimatNYA bahwa rezeki bisa datang darimana saja tanpa disangka dan disadari.

Jiwa-jiwa yang dihantui wajah orang orang yang dicintai itu sudah lenyap dari pandanganku. Gegap gempita mesin mesin pemakan kertas juga telah senyap dari pendengaranku. sudut pertapaan ini telah sunyi dari kegiatannya, meninggalkan bisikan pendingin ruang yang mengusir para penunggu sebenarnya. Bukanlah tempat yang menyenangkan, setidaknya bagi para pelakunya.

Menggamit kotak makan kardus yang tergeletak di meja beserta isinya. Melangkah mendekati si lidah merah, memaksakan jemari untuk dijilatinya. Kemudian melangkah keluar dan menantang hujan. Sore yang sungguh nikmat, memandang langit tertutup gumpalan mendung. Menyangsikan mentari akan muncul dalam jangka waktu yang teramat dekat. Sudahlah, bukan saatnya berkeluh kesah. Bukankah hujan juga sebuah kenikmatan. Kata pujangga hujan adalah pertanda bahwa pelangi akan segera datang. Akankah pelangi hadir kala langit berjubah gelap? Itu adalah sebuah harapan.

Duduk jongkok di hadapannya, dibawah rintik air yang membasahi. Diantara deru lalu lalang para penabuh adrenalin dibalik kemudi. Di atas trotoar di seberang pengisian bahan bakar yang tak terlalu ramai. Memandang sebentar wajahnya yang sayu, mungkin kandung makannya lebih kosong dari milikku. Mungkin juga sedang menunggu kekasihnya yang berkeliling kota dan sibuk berhenti di setiap titik-titik sisa peradaban kota.

Setiap kulewati jalur itu, tentu wajahnya selalu terbersit di sudut mataku. Disamping gerobak kumuh tempat nafkahnya bergerak setiap saat. Kerudungnya yang tak pernah berganti, menceritakan kepada siapapun yang memandang bahwa masih tersisa keyakinan tentang Tuhan yang akan mengubah jalan hidupnya.

Kotak makan kardus bertuliskan rumah makan Gadang menjadi pembuka sapa. Bersama suka cita dan tatapan iba. Rekaman keabadian itu akan selalu mengingatkanku akan sapaan lirihnya diantara deras hujan. Kurasa sore itu adalah keindahan yang tiada tara.

“Tak setiap orang mampu memberi, karena memberi itu terangkan hati” –bundanya anak-anakku-
Selengkapnya ...

Harga Untuk Konsumerisme

~ ~
 "We buy things we don't need with money we don't have to impress people we don't like" - Fight Club-

Kebiasaan lama terusik akhir-akhir ini. Ba’da maghrib waktu yang biasanya digunakan untuk bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga. Mulai dari makan bersama, membersamai anak-anak mengerjakan PR nya, bahkan mendengarkan keluh kesah istri agak terganggu. Kusadari setelah kesekian malam baru tadi malam istri menegur, “yah, matikan dulu HPnya donk!” butuh sekian menit untuk ku sadari bahwa itu bukan hanya teguran. Namun juga bentuk kasih sayang dan perhatian yang begitu besar darinya.

Malam sebelumnya sebenarnya jejakaku yang dah kelas 1 SD telah menegur, namun dengan cara yg jauh lebih implisit. Dia menyodorkan buku iqro’nya dan meminta untuk mengulang dan mengoreksi bacaannya ketika HP masih ada digenggamanku. Aku hanya menoleh dan mengiyakan mengulang sesuai permintaannya. Meski mataku melihatnya namun pikiran dan kesadaranku masih di layar HP. Begitu juga gadisku yang masih berumur 5 tahun, mulutnya terus bercerita namun tak ku ingat apa yang diceritakannya. Justru layar HP ini yang selalu menetap di kepala.

Bukanlah hal besar yang ada di layar HP, bukan pula topik yang sedang mencuat yang sedang kuperhatikan. Hanyalah percakapan yang semakin intens dengan banyak orang yang ada di beberapa jejaring sosial dan grup-grup chating. Namun yang menguras begitu banyak perhatian adalah kegemaranku terdahulu menelusuri toko-toko online.

Kebiasaan lama ini kembali muncul saat begitu banyak kabar-kabar mengenai perbaikan penghasilan yang dihembuskan. Memang benar bila semakin besar penghasilan maka akan semakin besar pula agretifitas konsumerisme. Setidaknya begitulah yang kurasakan, baru hanya sebuah issu namun pengharapan akan konsumerisme sudah begitu tinggi, mengakibatkan kuota data di HPku berkurang drastis hanya untuk berselancar di toko-toko online.

Apakah itu menjadi masalahku? Sepertinya itu telah menjadi masalah sebagian besar orang. Masalahku sendiri adalah nafsu belanjaku yang sangat sensitif terhadap rangsangan sedikit saja. Baru juga isu namun keinginan untuk belanja itu sudah sangat menggebu. Padahal itu kan baru isu, kalaupun jadi kenyataan kan belum tentu sanggup untuk membelinya. Kalaupun sanggup untuk membelinya, bukankah ada kebutuhan lain yang jauh lebih primer untuk dipenuhi. Itu masalah ku, entah mungkin juga masalah banyak orang.

Kemajuan teknologi telah membuat konsumerisme semakin mudah untuk diaplikasikan. Cukup membuka gadget, siapkan alat bayar elektronik maka konsumerisme dapat diberi makan dengan lahapnya. Yang kemudian membuatku begitu menyesal adalah konsumerisme yang kurasakan justru merenggut kehadiranku sebagai bapak di tengah tengah keluargaku. Mungkin tak begitu masalah bila konsumerisme menghabiskan hartaku, namun ternyata tidak. Konsumerisme ini merenggut juga sosok bapak di dalam keluarga. Fisik memang ada diantara mereka, namun mereka mendapatkan selongsong fisik bapaknya.

Jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan salah satu guruku. Beliau dulunya hanyalah seorang ustadz di sebuah mushalla kecil. Hingga kemudian beliau menjadi seorang pengusaha sukses, memiliki beribu karyawan, memiliki pabrik di beberapa tempat. Berhasil memasarkan produknya di beberapa Negara. Hartanya berlimpah, namun ada hal yang tak berubah darinya. Kesederhanaanya, beliau zuhud menjalani kehidupan dunia. Hingga rahasia kecil ini terkuak melalui mulut ke mulut diantara para pegawai dan santri-santrinya. Beliau hanya memiliki 10 pasang baju yang peruntukkanya beliau bagi untuk acara resmi, untuk bepergian, untuk tidur dan untuk shalat.

Betapa konsumerisme tidak mengikis hatinya, betapa ketenangan hatinya dapat saya bayangkan. Sehingga kezuhudannya dapat kujadikan bayangan bahwa waktu untuk keluarganya sungguh teramat banyaknya. Karena tidaklah beliau disibukkan dengan hal hal yang berbau konsumerisme. Beliau adalah Wan Haji ismail pendiri dan pemilik brand HPA (Herba Penawar Alwahida), semoga Allah selalu merahmati beliau. Aamiin.
Selengkapnya ...

Pak Gendul Dan Mobilku

~ ~
Saya mengenal hampir semua tenaga keamanan dan tenaga kebersihan di kantor yang memiliki gedung berlantai 5 ini. Mulai dari boim yang pernah saya ceritakan dulu, dengan keluguannya yang kadang menjadi sumber kejenakaan bersama. Si sehu yang setiap kali bertemu di pagi hari selalu mencuri salam saya, mendahului dan memaksa saya untuk menjawabnya. Karena bila saya tak menjawab atau kurang terdengar dia akan protes dan mengucapkan salamnya berkali kali. Hingga seorang tenaga kebersihan tertua yang ada di gedung ini, yang biasa di panggil pak Gendul.

Mungkin para tenaga kebersihan dan keamanan ini bukanlah elemen paling penting untuk kelangsungan kantor ini. Namun tanpa mereka kantor ini sepertinya tak akan berjalan selancar ini. Setiap pagi meja kerjaku yang selalu tersusun rapi kembali setelah kemarinnya amburadul. Kopi dan air putih yangs elalu tersedia di meja bahkan sebelum saya datang. Lantai yang selalu mengkilap, ruangan yang sejuk dan wangi sepanjang hari. Mungkin merekalah tim supporting yang tak terlihat yang menjadikan setiap pekerjaan dapat terlaksana dengan baik.

Pak gendul berjalan di pinggir aspal, di suatu sore saat hujan rintik-rintik. Walau arah rumahnya sejalan dengan arah rumahku, beliau selalu menolak ketika kutawarkan kendaraanku ketika kubawa mobil. Dengan banyak alasan memang mobil bukan kendaraan sehari-hari yang kubawa untuk kekantor. Hari itu sengaja kubawa mobil melihat mendung yang bergelayut di ufuk barat kaki langit.

Pak gendul biasanya ikut rekan sesam tenaga kebersihannya menggunakan motor untuk moda transport nya menuju rumahnya. Terkadang juga menggunakan jasa transportasi umum yang apabila malam menjelang moda ini semakin jarang dan hamper tak ada yang beroperasi melewati arah rumahnya.

Ku pinggirkan kendaraanku, ku klakson dan kusapa hingga pada akhirnya kutawari untuk menumpang di mobilku menuju rumahnya yang tinggal beberapa kilometer lagi. Pak Gendul tersenyum, dan masuk dengan sumringah ke dalam mobil.

Jika ditanya apa arti kebahagiaan, diriku begitu sulit mendeskripsikan. Bukan karena tidak bisa namun karena sungguh banyak hal yang mencerminkan makna bahagia. Melihat senyum sumringah pak gendul sore itu juga sebuah kebahagiaan.

Mengenal orang-orang seperti pak gendul adalah pembelajaran mengenal simpati. Pelajaran melembutkan hati, dan latihan melihat hal-hal yang tak terlihat karena bertambahnya harta. Tak dipungkiri terkadang harta dapat menutup simpati, mengeraskan hati dan membutakan mata akan lingkungan.

Membersamai orang orang seperti pak gendul bahkan walau hanya memberinya tumpangan, terkadang dapat membangunkan kesadaran bahwa memberi itu adalah sebuah sumber kebahagiaan.
Selengkapnya ...
 
© 2009 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger