Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Era Smart phone, Dumb People

~ ~

Setidaknya sempatkan menonton sampai habis video ini..!
Selengkapnya ...

Ulat dan Ular

~ ~

Keduanya binatang melata yang mungkin tak familiar bagi banyak orang. Beberapa orang bergidik kalau ada seekor ulat merayap di tubuhnya, begitu juga ular. Saya sendiri pun kalau bertemu ular langkah pertama adalah berlari. Takut sih ga hanya phobia sama aja dodol, mungkin bukan hanya saya. Banyak orang juga gilo jijik geli dalam bahasa jawa padahal ular ga pernah bersalah.

Ulat pun sebenarnya ditakuti karena nama besarnya dalam dunia pergatalan. Ulat dikenal sebagai binatang yang bulunya memiliki racun yang dapat membuat gatal kulit bila tersentuh. Namun banyak juga ulat yang tak memiliki racun bahkan bulu yang akan membuat gatal. Namun reputasi sebagai binatang penggatal telah melekat erat pada binatang ulat ini.

Begitupun ular, memiliki reputasi sebagai binatang mematikan karena bisanya. Sehingga banyak orang akan berhati-hati bila menemukan binatang ini. Padahal tak semua ular berbisa, tapi tetap saja kalau pun tak bebrisa ular dapat mematuk. Namun karena reputasi si ular sebagai binatang mematikan karena bisanya tak sedikit orang yang bertemu dengan ular jenis apa saja akan tunggang langgang.

Dari kedua binatang yang bagi sebagian orang menjijikkan dan menakutkan ini ada kesamaan yang terjadi di dalam fase hidup mereka. Baik ulat ataupun ular selama hidup mereka akan bertransformasi. Ulat berubah menjadi kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan dapat terbang kemana saja dia suka. Ulat yang awalnya melata dan tak memiliki sayap melalui proses yang panjang bertransformasi mengungguli sifat-sifatnya yang terdahulu. Bahkan mengganti makanannya yang awalnya hanya dedaunan menjadi nektar bunga yang lebih manis dan bersih.

Dalam proses kepompong itu ulat melepas bagian bagian yang tak dibutuhkannya ketika menjadi ulat, dan menambahkan bagian-bagian yang jauh lebih berguna dan dan bermanfaat untuk kehidupannya kemudian termasuk sayapnya yang cantik. Dalam proses menjadi kempompong tersebut ulat ditempa oleh dahsyatnya angin badai, diguyur oleh dinginnya hujan dan disinari oleh teriknya matahari. Ulat dalam kepompong itu menerima semuanya dalam proses yang akan menjadikannya makhluk baru yang jauh lebih cantik.

Ular juga bertransformasi, dengan melepas kulitnya yang lama dan menggantinya dengan kulit yang baru. Trasnformasi yang dilakukan oleh ular adalah proses yang menyakitkan dan butuh perjuangan ekstra. Kulit yang lama akan membuatnya gatal memaksa ular untuk merontokkannya. Dengan menggesek-gesekkan tubuhnya diantara bebatuan dan kayu-kayu lapuk terkadang bahkan menggoreskan luka pada sisik-sisiknya.

Hanya saja transformasi yang dilakukan oleh ular tidaklah menghasilkan perubahan yang signifikan bahkan justru yang muncul dari hasil proses perubahan ular adalah makhluk yang sama. Yang tiada beda dari makhluk sebelumnya. Bahkan ular yang keluar dari transformasi ini justru memiliki bisa yang jauh lebih mematikan dari sebelumnya.

Proses dalam kehidupan selalu membuat seseorang memiliki perbedaan dari sebelumnya, baik itu perbedaan tampilan fisik, perbedaan isi ataupun perbedaan cara pandang dalam menyikapi hidup itu sendiri. Namun perubahan yang dihasilkan oleh sebuah proses transformasi terkadang tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan.

Proses yang terjadi kepada ulat hingga menjadi kupu-kupu yang indah memberikan gambaran proses kehidupan yang berhasil mengubah seseorang menjadi lebih baik. Sedangkan proses yang terjadi kepada ular menggambarkan betapa kehidupan juga mampu mengubah seseorang menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Bulan Ramadhan adalah kepompong bagi setiap orang yang beriman, mempuasakan diri selama 29 atau 30 hari penuh adalah proses mentransformasikan diri. Proses mengubah diri ini, apakah prose situ akan menjadi kupu-kupu atau justru menjadikan kita semakin berbisa.

Namun sejatinya ramadhan seharusnya dapat menjadikan kita indah laksana kupu-kupu….

*inspirasi Khomaini hasan
Selengkapnya ...

Disiplinkan Di Rumah Kemudian Masjid

~ ~


“Al Hasan dan Al Husain memanjat punggung Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau sedang sujud. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memperlama sujudnya. Beliau berkata (setelah shalat) : ‘Aku enggan bangun dari sujud, sampai mereka puas menaiki punggungku’” (Ahmad, An Nasa-i, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dari sahabat Syaddad bin Al Haad Radhiallahu’anhu dengan sanad yang shahih).

Bermula dari hadits diatas perbincanganku dengan bundanya anak-anak menjadi semakin seru. Sebenarnya istriku yang cantik kayak rembulan malam minggu ini memiliki pendapat yang tak bisa dibantah. Hadits tadi menjadi dasar pertimbangannya. Disamping itu aku pernah membaca pendapat yang menguatkannya di dalam sebuah artikel yang entah lupa siapa penulisnya “Mencari masjid ramah anak”.

‘begitulah menurut banyak temanku, masjid itu seharusnya ramah kepada anak-anak. Tujuannya baik yaitu mengenalkan masjid kepada relung ingatan anak kecil, sehingga nanti ketika dewasanya hatinya akan selalu tertuju kepada masjid.’ 

Begitulah argumennya setelah malam terakhir kemarin aku ‘meliburkan’ jagoanku yang sudah tamyiz dari mengikuti shalat sunnah taraweh di masjid. Aku pun memiliki alasan sendiri dengan memarkirkan dia dari masjid untuk tidak shalat taraweh di masjid namun dirumah saja. Yaitu karena dia telah melanggar janjinya untuk tidak membuat ribut dan gaduh di dalam masjid. Inilah awal perkara diskusi antara aku dan istriku.

Ok sayang mari kita runut hadits diatas dan mengapa aku memilih memulangkannya saat setelah shalat isya’. Pertama tiada yang salah dengan hadits yang engkau kemukakan, hanya saja mari kita lihat kondisi yanga da dengan hadits yang ada. Hasan dan husein kala naik kepunggung Rasul tidaklah membuat gaduh dank ala itu mereka berdua dalam kondisi tamyiz, sedangkan anak kita telah lewat masa tamyiz. Maka memberinya pemahaman mengenai displin sudah seharusnya kulakukan.

Pada usia sesudah tamyiz maka tanggung jawab setiap orang tua yang membawa putranya ke masjid untuk memastikan tidak terjadi kegaduhan karena hal itu mengganggu ibadah shalat. Sebuah nasehat indah dari Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah bagaimana kita memperlakukan anak-anak yang sudah tamyiz ketika di dalam masjid agar tidak membuat kegaduhan :

‘berikan keluasan pada anak-anak yang telah diperintahkan untuk ke masjid agar tidak membuat mereka merasa sempit. Biarkanlah mereka berada di shaf yang sudah mereka tempati lebih dahulu. Karena seseorang yang lebih dahulu mendapatkannya, maka dialah yang lebih berhak, terserah ia hanyalah bocah (anak-anak) atau orang yang telah dewasa.’

Banyak manfaat bila kita menempatkan anak kita disebelah kita dan tidak dibelakang saat shalat jamaah di masjid, antara lain ;

(1) kita telah membiarkan mereka mendapatkan haknya. Karena sekali lagi, siapa saja yang telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu, maka dialah yang lebih berhak,
(2) tidak membuat mereka jauh dari masjid (artinya: semangat ke masjid, karena diberi keluasan berada di shaf terdepan, pen),
(3) itu akan membuat anak kecil tidak memiliki rasa dendam atau tidak suka terhadap orang yang berani merampas tempatnya padahal ia telah lebih dahulu mendapatkannya,
(4) jika kita merampas tempat mereka di depan, maka anak-anak akan berkumpul dengan teman-teman lainnya sehingga mereka malah bermain-main dan membuat gelisah jama’ah yang lain, dan ini berbeda jika anak-anak tersebut bersama orang yang telah dewasa.

Bagaimana dengan anak-anak yang masih dalam usia tamyiz? Banyak ulama berpendapat bahwa dalam usia tamyiz lebih baik tidak dibawa ke masjid apabila dimungkinkan akan mengganggu jamaah yang hendak shalat.

kalaupun berniat dibawa maka, shalat sambil menggendong anak usia tamyiz lebih baik bila dikhawatirkan akan membuat gaduh dan mengganggu.

Nabi Shallallahu’alahi Wasallam pernah shalat sambil menggendong Umamah bintu Zainab. Ketika berdiri, Nabi menggendongnya. Ketika sujud, Nabi meletakkannya“.(bukhari muslim)

Maka sekali ini kulihat istriku mengulumkan senyum pertanda puas akan penjelasanku, mungkin besok jagoanku akan kuijinkan kembali ke masjid apabila dia telah mampu menepati janjinya. Usianya yang telah lewat masa tamyiz akan menjadi babak baru dalam hidupnya mengenal arti sebuah disiplin dan tanggung jawab. Begitulah rasulullah mengajarkan.

“Perintahkanlah anak kalian untuk shalat di saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika mereka enggan ketika mereka berusia 10 tahun.”
Selengkapnya ...
 
© 2015 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger