Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Merk Diri Kita

~ ~


Libur 3 hari memberi berkah ketika beberapa rupiah masih tercecer didalam dompet diujung bulan ini. Yang mau nonton ‘new moon’ ya sana nonton, new moon saya masih 3 hari lagi. New moon yang berarti gajian dan ditunggu tunggu banyak pegawai rendahan kayak saya ini. Malah ngga perlu dilihat cukup diteken dan dinikmati.

Semalam beberapa rupiah itu amblas karena anak-anak minta ke wahana bermain yang dekat dengan rumah, masih dalam kota dan syukurnya mendung hanya membayangi tanpa meneteskan air sedikitpun. Bersama istri dan anak-anak malam minggu di isi dengan bergembira bersama, tak lama adik minta ijin jalan juga. Namanya bujang dan malam minggu biasa bagi mereka tuk menikmati entah bersama siapa, seseorang yang dia sembunyikan dari kami mungkin.

Karena memang sisa rupiah yang ada dikantong diujung bulan ini maka pulang pun tiada apapun yang dibawa kecuali martabak bangka lumayan bisa buat cemilan waktu ngumpul dirumah menikmati malam minggu bersama. Dan ternyata adikpun sudah sampai dirumah tak disangka malam minggunya cepat berlalu.

Adik pulang membawa oleh oleh sebuah celana jeans, yang katanya dia dapat dari toko BJ (Buangan Jambi) istilah kami bagi barang barang bekas luar negeri yang banyak dijual di toko-toko khusus barang bekas terutama pakaian.

Dengan merk-merk ternama dan ngetop namun karena bekas, harganya ya jauh sekali dari standart barang bermutu. Namun dengan kondisi yang masih diatas 80% baik. Tak heran bila konsumen tuk barang-barang ini juga konsumen khusus. Karena ada rasa bangga ketika mengenakan barang-barang ini toh keasliannya terjamin. Walau itu adalah barang bekas atau mungkin barang sortiran dari pabriknya langsung karena cacat atau tak laik tuk dipasarkan.

Ketika adik dengan bangganya menunjukkan jeans yg baru dibelinya dari toko barang bekas itu, dia menunjukkan merk yang tertera di bagian pinggang belakang jeans itu. Yah.. itu memang merk terkenal namun ketika dipakai mana ada yang tahu kalau itu beli ditoko barang bekas. Orang yang melihat tahunya hanya itu barang bagus dan berkualitas yang pasti mahal harganya.
Setiap orang yang melihat tidak akan pernah tahu dimana adik saya itu membelinya, kapan dan bahkan berapa harganya, mereka hanya tahu itu jeans dengan merk terkenal yang siapa pun pemakainya pastilah orang yang berduit. Anaknya pasti keren punya selera tinggi. Yang pasti gambaran itulah yang dikehendaki oleh si pemilik untuk menunjukkan identitas dirinya dimata khalayak.

Dan hal itu pula yang sering kita coba tunjukkan akan diri kita kepada orang lain baik yang mengenal kita atau hanya yang numpang mampir melihat diri kita. Kita ingin tampil sesempurna mungkin dihadapan setiap orang yang kita jumpai. Salah kah?

Oh tentu tidak, setiap orang memiliki hak untuk tampil sempurna dihadapan orang lain, yang menjadikan sesuatu itu mengenaskan adalah bila kesempurnaan itu ditopang oleh banyak kebohongan. Yang menjadikan sesuatu itu cacat apabila kesempurnaan itu dibarengi dengan usaha yang berlebihan dan diluar batas kemampuan.

Tidak ada yang menyalahkan ketika adik saya membeli jeans dengan merk terkenal namun dengan harga super murah, dan tidak ada yang protes ketika adik saya memakainya dengan ‘gaya’ bak orang hebat namun dengan modal sangat minim.

Yang menjadi ganjalan adalah ketika adik saya membohongi dirinya sendiri bahwa jeans itu hanyalah jeans bekas dengan mutu sudah jauh berkurang dari barunya. Yang menjadi ganjalan adalah ketika kita sering membohongi diri kita sendiri dengan penampilan luar biasa padahal pada kenyataannya kita hanya ingin menanamkan brand yang biasa saja pada khalayak.

Maaf ini hanya masalah pilihan hidup, ini hanyal masalah brand diri kita yang berusaha kita tampilkan. Saya tidak sedang ingin mengkritik penampilan anda saya hanya ingin tahu berapa energy yang terbuang tuk menampilkan brand itu kepada khalayak. Alangkah lebih baik ketika energy itu kita salurkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat. Sekali lagi maaf ini hanya masalah bagaimana kita menyikapi hidup.

Jangan sampai kita terlanjur menanamkan brand mendunia namun tingkah laku kita kerdil dan cara berpikir kita sempit.
Selengkapnya ...

Rintik hujan (melow)

~ ~

Hujan begitu deras, mengguyur apapun yang dilaluinya. Ada sedikit bau tanah semerbak mengitari pusat syaraf bauku. Hebatnya air yang ketika sampai dipermukaan bumi membentuk mata tombak itu, Allah mendesignnya tak seruncing kelihatannya. Malah ujung air pada rintik hujan menyerupai parasut yang berfungsi mirip parasut rem pada pesawat ulang-alik. Yah air hujan itu sebelum membentur bumi dia akan ‘ngerem’ terlebih dahulu.

Subhanallah Maha suci Allah atas segala kecacatan, bayangkan bila air hujan itu runcing dan langsung berbenturan dengan benda yang ada di permukaan bumi, bisa koyak tak berbentuk apapun yang ditubruknya. Namun Allah Maha Sempurna atas segala ciptaanNYA. Allah sudah memperhitungkan itu.Mungkin hanya lidah manusia yang paling runcing didunia ini. Walau kelihatannya tumpul.

Dibalik jendela yang sedang hujan lebat diluarnya, pasti ada embun yang membasahi kaca-kacanya. Memberikan suhu berbeda bagi penghuninya. Kehangatan yang tak dirasakan oleh rintik hujan. Dibalik setiap lidah ada hati yang mengawalnya. Sepahit apapun lidah menusuk hati tetap menjadi fatwa akan kebenaran dan menjadi syaknya atas dosa dan kesalahan.

Dari balik jendela kutembus hujan diluar, ada kehidupan diluar sana dimana hati tak mampu bicara dan otak tak sanggup lagi meraba. Hujan itu membawa berkah tak terkira bagi kehidupan. Berawal dari setitik air tunas tumbuh, bunga-gunga mekar, binatang-binatang bangun dari tidurnya.

Dari balik jendela itu air tak bisa masuk, hanya hawa dingin yang merasuk. Namun kenapa embun tak bisa menghangatkanku?

Hatiku bagai embun-embun itu. Menempel di kefanaan dunia. Menempel di bangkai yang sedang berjalan karena memang tubuhku adalah kepalsuan. Semua didunia ini adalah kepalsuan. Keinginan dunia itu palsu, seluruh benda didunia ini palsu, bahkan tubuh ini adalah palsu. Karena apa yang dinamakan kesejatian adalah ‘sempalan dari Tuhan’ dan apa yang sejati dari diri ini hanyalah Ruh, sukma, jiwa. Tiupan dari yang abadi akan selalu sejati. Celupan indah dari Yang Maha Sejati

Jasad ini akan mati, namun tidak bagi kesejatian. Hati ini jasadi, palsu, yang abadi hanyalah apa yang dipercaya oleh hati. Hasil otak manusia itu palsu bahkan otak pun palsu yang sejati adalah kenangan yang pernah singgah.

Dari balik jendela kutatap hujan yang semakin deras. Diatas langit burung layang-layang bak kebal air. Melayang tak peduli hujan, atau malah diatas sana tidak ada air sedikit pun. Karena air hanya ada dilapisan langit paling bawah. Atau burung-burung itu sedang memeberitahukan bencana yang akan atau sedang terjadi. Bencana sedang terjadi, dunia sudah mulai menua. Kiamat segera datang, Lalu diposisi mana aku sedang berdiri?
Hujan semakian deras saja, namun tak kutatap lagi jendela, mataku sudah kesat. Hatiku semakin berkarat. Kesadaranku semakin terkesiap. Dan kini seorang gagah dan seperti tak habis dari perjalanan jauh duduk disampingku dan berkata.

”tenanglah, SPPD-mu telah disiapkan tuk berangkat ke kota yang belum dijamah jasad selain nabi!”

-hujan itu mengingatkanku akan ibu –
Selengkapnya ...

Rasa "buku" di dunia

~ ~

Tujuan kali ini adalah toko buku, kebetulan toko buku yang hendak ditelusuri adalah toko buku terbesar dikota ini. Dengan fasilitas yang memuaskan dan yang terpenting adalah pelayanan yang benar benar siip. Di zaman ini sebuah bisnis akan mendatangkan banyak konsumen adalah dengan menonjolkan sisi pelayanan. Dengan persaingan terbuka murni pebisnis akan berlomba-lomba mengembangkan nilai plus dalam usahanya dan pelayanan adalah face atau tampak depan yang diharapkan mampu memberi kesan mendalam bagi konsumen.

Kembali ke toko buku yang saya tuju, pelayanan memang luar biasa bahkan toko buku yang berkonstruksi 2 lantai itu disetiap bagian penjualan memiliki lebih dari 3 pelayan yang berarti setiap pengunjung akan mendapat pelayanan extra. Lantai 1 adalah untuk perlengkapan kantor dan aksesoris. Dan yang ku tuju adalah lantai 2 tempat rak-rak buku tertata rapi.

Ketika anak tangga terakhir ku injak tuk sampai di lantai 2, jajaran rak-rak tertata rapi disebelah kiri dan kanan. Terpajang warna-warni cover buku menghampar seluas mata memandang dan hanya dibatasi oleh tembok paling ujung. Dengan label label pengelompokan di bagian atas rak menempel tepat dibagian atas rak buku-buku tersebut. Dan tergantung pembagian jenis buku dilangit langit.

Dalam garis besarnya pembagian itu terbagi menjadi bacaan dewasa disebelah kanan dan bacaan anak-anak disebelah kiri. Dikatakan dewasa karena label yang terpampang berisi hal hal yang sulit dipahami anak-anak, seperti sastra, agama, computer,social, Negara , pengembangan diri dan banyak lagi label-label lain yang tak bisa kusebutkan karena lupa.
Disebelah kiri adalah area anak-anak ditandai dengan pemasangan label yang lebih beraneka warna, dan penuh dengan gambar kartun dan tokoh animasi yang pasti menarik bagi anak-anak. Label yang tertera antara lain, komik, buku bergambar, mewarnai, kreasi dan lain lain sangat khas anak-anaknya.

Di langkah ini pun aku tertegun, baru hendak masuk pun pilihan sudah terpasang didepan mata, apakah kulangkahkan kakiku kesebelah kanan tuk mencari buku-buku bacaanku atau kesebalah kiri tuk memberikan ekspresi gembira pada wajah anak-anakku ketika kuhadiahi mereka buku.
Dala pribadi manusia kebanyakan ada 2 karakter yang berusaha saling menonjolkan diri, sifat kekanak-kanakan dan kedewasaan. Kedewasaan pada anak-anak akan tertutupi oleh sifat aslinya dan sifiat kedewasaan apda dewasa tidak selalu menonjol. Ada sifat-kanak-kanak yang masih melekat. Dan inilah pilihan yang harus diberi porsi, apakah anda akan member porsi kanak-kanak anda melebih kedewasaan anda sehingga dunia anda adalah dunia bermain, penuh canda tawa tanpa ada konsekuensi dan tanggung jawab? Ataua anda akan mendewasakan setiap langkah hidup anda? Tak salah pepatah mengatakan bahwa “ tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan”.

Memang ketika memasuki wahana buku ini tiada tujuanku tuk mencari buku jenis apa, yang kutahu aku hanya ingin masuk kedalam toko buku itu dan seperti kebiasaan yg sudah –sudah harus ada 1 buku yang kubeli karena sudah kusiapkan dananya.

Seperti halnya kehidupan ini memasuki toko buku itu manusia tidaklah memiliki tujuan yang pasti yang ada adalah bahwa manusia diciptakan adalah dengan tujuan untuk menjadi hamba. Hamba dari Tuhan. Hamba yang penuh dengan kelemahan, penuh dengan kekurangan dan hamba yang diwajibkan tunduk kepada Tuhannya. Tiada pilihan lain.
Seperti halnya jalan masuk tuk ke lantai 2 toko buku itu, manusia tidak diberi pilihan untuk masuk kedunia ini. Tuhan telah memilihkan dari rahim mana kita akan masuk. Dan hanya 1 jalan masuk itu yang diperkenankan. Tiada pintu masuk darurat atau pintu alternative.

Dan dunia yang kita tempati telah memberikan banyak sekali alternative tuk kita jalani. Seperti label label yang disematkan di rak-rak buku itu. Layaknya pilihan hidup yang hendak kita jalani.

Tujuan akhir kita masuk kedunia adalah untuk membawa pulang pilihan kita, membelinya dengan dana yang diberikan kepada kita dan menukarnya dengan buku yang bermanfaat, bukan buku yang kita sukai.

Kita dihadapkan dengan banyak sekali buku di rak-rak yang sudah diberi label tadi, pilihan sulit dalam hidup ini bukan hanya 2, 3 atau 4. Ribuan pilihan hidup dipampangkan di muka kita dan kita diwajibkan hanya memilih 1 buah buku tuk kita bawa pulang nantinya.

Kebiasaan ku ketika hendak membeli sebuah buku tuk ku bawa pulang adalah. Mengintip setiap buku setidaknya ku tahu resensi yang tertulis dibagian belakang buku. Bila perlu membacanya sedikit sehingga tahu apakah buku itu layak kubawa pulang atau tidak.

Waktu dalam hal ini tidak pernah kuperhatikan karena rentang kita hiduppun tidaklah pernah kita tahu. Einstein pernah berkata. “tidaklah lebih baik orang yang pernah melihat masa depan daripada orang yang merencanakan masa depan”. Waktu bukanlah hal yang harus terus dilihat dan diperhatikan. Waktu hanyalah batasan rentang yang harus kita manaje sebaik-baiknya.

Akhirnya bila harus menyesali sebuah buku yang kubeli setidaknya aku telah bersyukur dengan melihat buku-buku yang lain. Dengan mengecap setiap rasa kehidupan aku sudah merasa puas dengan apapun yang hendak kubawa pulang kelak. Karena berarti yang kubawa pulang itulah yang terbaik dan bermanfaat bagiku dan orang-orang disekitarku.

Inspirasi : “yah, kata bosku bertanya. masihkah bergelut dengan dunia motor antik? Berteman dengan orang orang “hitam” itu? Masihkah membekam orang? Mengikuti kajian dengan ustadz? Masihkan hobi mancing? Masihkah …..?”sergah istriku…

Dan masihkah-masihkah yang lain yang mempertanyakan aktifitasku yang oleh banyak orang dianggap plin-plan. Tidak kawan aku tidaklah plin-plan, aku hanya ingin mengecap setiap rasa didunia ini. Hingga bisa kubandingkan mana rasa terenak bagi lidahku dan hatiku.
Selengkapnya ...

fungsikan walau hanya diawal

~ ~

Seorang anak kecil bermain mainan klasik biasa kita sebut gasing, gasing jaman dulu tak berbeda jauh dengan gasing modern yang sering kita temui dimainkan dengan cara diputar. Gasing ini dimainkan dengan melilitkan benang atau tali disekeliling badan gasing dan kemudian menariknya kencang-kencang hingga badan gasing terlempar sembari terputar kencang. Saking kencangnya tarikan tali tadi pada badan gasing, gasing bisa berdiri tegak diatas tanah sambil mempertahankan medan potensialnya sendiri. Hanya dengan tali kecil yg dililitkan gasing itu dapat bekerja sesuai namanya, gasing.

Alat yang dibutuhkan hanya tali kecil yang dililitkan agar gasing bisa berputar kencang dan menjadi mainan anak-anak bahkan dewasa jaman dulu. Tali kecil tadi hanya sarana tuk membut proses berputarnya gasing menjadi sempurna.

Layaknya sebuah genset yang harus ditarik oleh sebuah tali agar mesin dapat hidup dan menjadi energy cadangan ketika listrik tak lagi bisa diandalkan. Mesin pembangkit listrik kecil ini sangat handal ketika aliran listrik dari perusahaan pemonopoli listrik byar pet. Sama seperti gasing ,tali kecil pada genset berfungsi sama yaitu sebagai media kecil untuk memfungsikan sebuah mesin besar. Tali ini biasanya terselip diantara gundukan mesin genset rapi didalamnya, dan akan terlihat fungsinya ketika pertama kali akan memfungsikan genset tadi.

Tarik ujungnya dan kumparan didalam system pembangkitan energy tadi akan bekerja maksimal. Tanpa tali ini genset mungkin tidak akan pernah nyala dan fungsinya pun tidak akan bisa dimaksimalkan. Hanya dibutuhkan sebuah tali kecil tuk menjadikan genset layak disebut genset. Tak terbayangkan kan apabila genset ini tak dilengkapi tali? Atau bila anda menemukan genset yg lebih modern fungsi tali ini telah digantikan oleh elektrik starter.

Begitupun ketika hendak menghidupkan motor kita, ketika teknologi elektrik starter belum ditemukan bilah besi tunggal yang dipasang di sebelah kanan motor yg langsung berhubungan dengan jantung bergeraknya mesin disematkan. Nama besi itu adalah kick starter. Walau cara kerja kick starter berbeda dengan tali pada genset namun fungsi yang diinginkan adalah sama, yaitu sebagai media yg disematkan tuk menyalurkan tenaga awal kepada jantung mesin agar bekerja semestinya dan menjadi pembangkit energy utama.

Dibutuhkan media atau alat untuk menghasilkan output yang jauh lebih besar. Kecil dan kadang diremehkan keberadaannya, namun tanpa alat ini jangan harap energy besar yang diinginkan akan timbul dan menjadi pendorong bergeraknya sebuah mesin. Tak bisa dibayangkan bila gasing tadi kita putar pakai tangan, hanya beberapa detik gasing tadi akan mandeg.

Bagaimana pula bila genset tadi tak disertakan tali tuk memfungsikan mesin utamanya, tidak akan mungkin fungsi pembangkit cadangan akan terlihat. Genset hanya akan menjadi besi tua yang mudah berkarat dan tak memiliki arti. Ketika listrik padam genset hanya akan menjadi alas bagi debu karena sebuah elemen kecil yang diremehkan hilang. Tali penggerak dekselnya hilang.

Tak juga akan bergerak dari satu tempat ke tempat lain bila mesin motor tak dilengkapi kick starter. Apalah arti busi, cdi, coil dan mesin bila tuk memulai sebuah kinerja tak ditemui elemen penggeraknya dalam hal ini kick starter tadi.

Mungkin ketika semua proses telah terjadi, tali pada gasing, tali pada genset dan kick starter pada motor tidaklah dibutuhkan lagi, namun tanpa elemen kecil ini proses pun tidak akan pernah berlangsung.

Bayangkan bila mesin tadi adalah sebuah kumpulan manusia baik itu desa, kota, propinsi, negara ataupun dunia. Dan proses yg terjadi adalah sebuah peradaban. Bisakah kita menjadi tali gasing, tali genset atau kick starter pada motor?

Bisakah kita menjadi penggerak awal itu? Cukup penggerak awal tuk membuat gambaran sebuah peradaban pada komunitas sosial. Tak perlu kita bayangkan apakah ketika proses itu kemudian berjalan kita masih tetap berfungsi atau tidak. Cukuplah kita sebagai perintis terjadinya sebuah perubahan. Yang saya maksud sekarang bukan besok, kelak atau suatu hari nanti… sekarang kawan!
Selengkapnya ...

Bangsa ini sedang mencari Pahlawan….!!!

~ ~


Pak Tua

Kereta itu sudah mulai berjalan
Ketika ku injakkan langkah pertamaku diatasnya
Diantara gerbong restorasi dan executive
Gerbong satu kelas bisnis yang terlihat oleh mataku
Tertulis diatas karcis warna biru muda itu

Melenggokkan leher kekanan dan kekiri
Tuk mencocokkan antara nomor karcisku
Dan tempat dudukku
Sesuai pilihan ditengah gerbong dan agak jauh dari jendela

Tak berapa lama duduk melepas lelah dan penat
Karena barang bawaan yang menggunung
Tanpa diundang seorang lelaki tua, bahkan bisa kusebut sangat tua
Dengan badan sudah mulai membongkok dan tak ada bagian kulitpun yang masih rata
Kukira usianya sudah menginjak kepala delapan

Raut muka yang sendu
Baju yang lusuh
Sepatu model lama yang tak terikat benar talinya
Yang paling kuingat, kopyah hitam yang tak berwarna hitam lagi
Karena lusuh debu dan keringat

Tatapan matanya sayu
Terlihat sudah begitu banyak beban yang dipikulnya
Ubannya merata menandakan kepenatan yang sangat

Sekonyong-konyong pak tua itu duduk disebelahku yang memang kosong
Langsung bertanya dan anehnya dia jawab sendiri pertanyaan itu
Begitu seterusnya, hingga aku tahu dia adalah seorang veteran
Dan tidak punya sanak famili lagi, dan entah akan kemana kakinya akan membawa

Dari setiap kalimat yang meluncur dari lidah tuanya
Terdengar engahan nafas yang semakin menjadi
Genggamannya yang sangat kuat ke pembatas kursi
Menandakan kekhawatirannya akan kematiannya

Ditangan kirinya seplastik kue yang berisi hanya 2 sisir roti kumal
Menjadi bekalnya dalam perjalanan….sedikit, hanya sedikit untuk ukuran perut kecilnya
Bicaranya mulai ngelantur lagi, dan menceritakan tentang masa lalunya
Yang di lewati bersama senjata dan desingan peluru

Timbul haru dalam hati melihat kondisinya
Bathin ini meronta untuk tidak iba melihatnya
Seorang pejuang yang terbuang
Pak tua ini adalah satu contoh kegagalan budaya

Pak tua disebelah kursiku terduduk
Pak tua yang satu gerbong denganku sudah lelah
Matanya terpejam namun tubuhnya masih bercerita
Sudah enggan untuk hidup
Namun tak juga ingin tuk mengakhirinya.
Pak tua istirahatlah
Pak tua kan kubangunkan engkau esok pagi
Masa dimana seorang pejuang adalah pahlawan
Masa dimana keluargamu tak meninggalkanmu
Masa dimana lelahmu sudah hilang
Dan kau pun akan menyongsong matahari dengan tangan dipelipismu….
Untukmu pak tua……….

Beberapa bait tertuliskan demi melihat pemandanga kabur ketika perjalanan membawaku menyelami masa lalu, bersama sebuah bayangan semu akan ketidak adilan sejarah. Ruang tak bersekat dimana sebuah bangsa terbentuk dari sisa engahan nafas pak tua-pak tua pembawa berita kemenangan kepada para pelayat. Matinya sebuah budaya, gugurnya penghormatan dan sirnanya rasa bangga yang memalukan.

Tubuh yang remuk redam oleh penghinaan zaman, membawa Pak tua itu bercerita pada kelam malam. Dimana pengharapannya akan sebuah pencarian kemerdekaan. Bangsa ini sedang tertidur pulas, bersama mimpi pembangunan. Bangsa ini lelah meniti rel kejayaan para pejuang.
Selengkapnya ...

Nasib marbot dan keluarganya

~ ~

Agenda rapat Akbar tahunan tuk membentuk DKM Al Hamas berakhir ricuh karena rel yang ditetapkan meruncing pada acara pengusiran marbot dan keluarganya drai lingkungan Masjid. Jadwal rapat yang diharapkan selesai jam 10 molor sampai jam 12 malam. Para peserta semakin kelihatan egoisnya dan masing masing berusaha mempertahankan argumennya.

Si marbot Masjid hanya nyengir kuda dipojokan ruangan, entah sadar atau ngga dia statusnya sekarang adalah ‘pesakitan’. Dengan masa lalu seorang centeng pasar, dan muka sangar sepertinya setiap argument pembelaan akan mentah saja dihadapan para jaksa cecunguk ini. Hakim mbelgedes dengan atribut kecongkakan memaerkan kuasanya menatap jelas. Ah semua kata yang tak pakai diatas hanyalah hiperbola menggambarkan situasi ini sudah sangat genting bagi ‘pesakitan’ tadi.

Malam itu acara adalah silaturahim antar tetangga plus pengajian komplek yang didatangi bapak-bapak dari ujung gang hingga pangkal sungai, karena sebuah area yangs aya sebut komplek hanyalah kumpulan rumah yang digadai seorang developer dengan harga riba yang berbatasan langsung dengan rumah kampong yang dinotabenekan sebagai kaum tertinggal dengan pendidikan pas-pasan yang akan menjadi pelengkap sikaya sebagai buruh dan tukang bantu rumah tangga sikaya.sekat memang tak terlihat namun pembeda antara si kaya dan si miskin jelas berdasar profesi dan kebiasaan berpakaian.

Kebetulan marbot yang kini berposisi sebagai ‘pesakitan’ adalah dari kalangan miskin dan yang menjadi hakim dan jaksa adalah si kaya. Entah kebetulan atau ini memang kenyataan dikehidupan nyata. Yang pasti sangat enak menjadi tukang vonis dan alangkah sengsaranya menjadi ‘pesakitan’

Bermula dari kesalahan fatal si marbot membongkar rumah geribiknya tuk segera dipermanenkan dengan bata dan semen, berujung pada pengusiran si marbot dari lingkungan amsjid karena mengungsikan istri dan 3 anaknya ke kamar masjid tempat gudang perlengkapan masjid.

Seorang ustadz muda membenarkan pengusiran tersebut dengan dalih, dikhawatirkan terjadi “hubungan suami istri” di lingkungan masjid yang notabene hal itu memang didalilkan dilarang. Hingga menguak segala aib si marbot yang memang dulunya benar-benar ‘pesakitan’. Hanya satu yang belum masuk pertimbangan para saksi dan jaksa ini yaitu mereka belum pernah merasakan hebatnya amarah ketika dipermalukan didepan public yang menyangkut ‘dapur’ rumah tangga suami istri.

Betapa hinanya marbot ini, betapa luluh lantaknya perasaan ini. Namun disambut sunggingan dan hembusan rokok para pengadil yang jauh lebih hina dan tak bernurani.
Tertunduk lesu si marbot memikirkan kondisi keluarganya, tersenyum lebar para pengadil dengan jari-jari yang mencengkeram palu keputusan ditangannya.

Terkulai menatap hari esok, hujan tak menentu terik mentari menyengot dihari esok bukan lagi pertimbangan manusiawi bagi sang pengadil.

Ketika situasi sudah memuncak seorang saksi ahli berujar “ sejahat-jahatnya seorang penjaha, tidak ada satu manusiapun yang berhak membunuhnya”

Sedangkan malam ini sedang terjadi percobaan pembunuhan kejam, sebuah keluarga.
Saya tidak sedang menanyakan dimana letak keadilan, karena dewi pengadil pun buta dan ‘pengkor’ tangannya sehingga membawa neraca pun tak pernah seimbang.

Saya tidak sedang menanyakan letak hati nurani, karena bagi seorangc erdas nan cendikia pun sebuah nurania bagai kelereng yang selalu menggelinding tak bertepi.

Saya tidak sedang mencari arena pengadilan, karena tribun dan mimbar pengadil pun tak lebih mahal dari harga kerupuk.

Saya tak sedang mengantri urutan parpol , karena aqidah, ibadah dan muammalah pun sudah menjadi panggung politik kotor dan tak kenal kompromi.

Saya tak sedang berpikir karena didalam jiwa manusia tak pernah ada kesadaran yang ada hanya emosi, birahi dan egosentris.
Selengkapnya ...
 
© 2009 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger