Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Abdi Dalem Itu Telah Berpulang

~ ~
Mbah maridjan yang setia,

Suatu kali Sri Sultan Hamengkubuwono X mendatangi biliknya sambil minta disuguhi kopi pahit, ini bukan kunjungan kenegaraan lho apalagi pembicaraan bilateral. Ini tak lebih adalah bentuk perhatian raja kepada abdi dalemnya, tak pula kanjeng sultan ini di kawal oleh Wirobrojonya.
Sri Sultan meminta Raden Ngabehi Surakso Hargo lengser dari jabatannya sekarang, biarlah ada regenerasi toh Merapi sudah semakin hebat, dibutuhkan tenaga muda untuk mengayominya. Namun apa timpal guru ngaji di mushalla kecil dusun kinahrejo ini.

“Yang ngasih amanah saya untuk menjaga Merapi ini G.R.M. Dorojatun, ya apa mungkin saya akan menerima Surat Pemberhentian dari bukan selain beliau. Tidak to? Ya makanya saya akan meminta SK Pemberhentian ke beliau pas saya diketemukan dengan beliau.”

Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito hanya bisa menghela nafas, kemudian berjalan gontai meninggalkan rumah kecil yang dikelilingi oleh pagar hijau nan asri itu. Pergi layaknya tamu yang dilanda kekalutan karena gagal meminta bantuan, padahal dia adalah tuannya. Tak ada paksaan disana apalagi saling sikut, saling usir demi kepentingan politik.

Kesetiaan yang akan dibawanya sampai mati, dan mempertanggung jawabkannya langsung kepada pemberi amanah.

Mbah maridjan yang berdedikasi

Tak berapa lama dari kunjungan terakhir Sri sultan HB X yang nyamar jadi orang biasa yang meminta kopi, datanglah utusan dari Keraton untuk memberikan haknya yang diberikan tiap bulan oleh keraton kepada setiap abdi dalemnya, termasuk juru kunci yang ditugaskan sejak 1970 yang awalnya diberikan kepada ayahnya. Hingga 1982 mbah maridjanlah yang memegang jabatan itu.

Dengan sumringah mbah yang sudah memasuki umur 83 tahun itu menerimanya, sebagai jerih payahnya menunaikan tugas. Dengan tanggung jawab dan dedikasi tinggi, walau sebenarnya dia bisa mendapatkan lebih dari pendapatan keratin itu melalui ketenarannya sejak 2006 menjadi bintang iklan.

Namun mbah maridjan selalu mewanti wanti “yen ra ndue jeneng, ojo kesusu nggolek jenang.” Maka dedikasinya tak lagi terbantahkan walau dari utusan terakhir itu mbah maridjan hanya mendapatkan Rp. 5,800 tiap kalinya.

Kalau mau membicarakan dedikasi harusnya mbah maridjan duduk di singgasana anggota dewan yang terhormat dan mengajari mereka untuk mengabdi biar tidak hanya mencari jenang tanpa punya jeneng dimata pemilihnya.

Mbah maridjan yang sederhana

Siapa yang sangka ternyata mbah maridjan adalah person of the year tahun 2006 yang disematkan oleh harian sore Wawasan, tak dinyana pula mbah mardijan semakin beken hingga sering menjadi bintang acara pada acara-acara tertentu. Namun mbah maridjan juga tak pernah meninggalkan kepolosannya.

Seorang darmawan yang hanya mau hidup dari jerih payahnya, sebab setiap penghasilannya dari iklan karena ketenarannya disumbangkan bagi kesejahteraan warga kinahrejo. Cukuplah apa yang dia dapat dari kraton dan upahnya sebagai guru ngaji yang menghidupinya dan keluarganya.

Dengan kondisi bangsa yang dilanda bencana seperti ini? Adakah pemimpin yang sedermawan dan sebersahaja ini? Semoga masih ada, mari kita doakan bersama.

Mbah maridjan yang taat

Mbah maridjan memiliki kebiasaan memanjatkan doa kepada Tuhan YME bersama warga sekitar dengan menggunakan sesaji, mbah maridjan menganggap hal itu sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur yang tak terkira atas segala kenikmatan hidup yang didapatnya.

Tradisi yang juga dianut oleh kebanyakan warga nahdiyyin, yang juga menggambarkan keramahtamahan budaya ketimuran dengan kemudian memakan bersama sesajen yang disembahkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Kesampingkan hal itu, kesampingkan apa yang anda pahami tentang bid’ah karena Allah memanggil mbah maridjan dalam keadaan tersungkur, tersungkur karena permohonan ampun, tersungkur karena sujud syukur dan tersungkur karena memang kekurang tahuannya.

Kondisi meninggal yang banyak diidamkan oleh kebanyakan muslim, akhir yang baik untuk seorang yang polos dan bersahaja. Meninggal dalam keadaan sujud bersimpuh dalam permohonan ampun sedalam-dalamnya kepada Yang Maha Kuasa. Akhir indah bagi seorang guru ngaji.
Selengkapnya ...

Suatu Kali Sebelum Memejamkan Mata

~ ~
Suatu kali sebelum memejamkan mata, belahan jiwaku yang bisa kupanggil ‘nda’ berkisah tentang kesehariannya, meminta sedikit perhatian diantara kriyep-kriyep kantuk mataku, memohon jawaban atas setiap pertanyaan yang sebenarnya tak perlu kujawab cukup ku berdehem sebagai tanda persetujuan.

“yang, dikantor tadi emosiku dibuat lelah oleh perdebatan dan ketidak setujuan atas sikapku.” Keluhnya.

Bukankah sebuah kantor adalah komunitas layaknya segerombolan sapi ditengah savanna, disana tidak hanya ada sapi namun singa, buaya dan kuda-kuda liar yang memiliki posisi dan porsi dalam keikutsertaannya memenuhi kehidupan belantara.
Kantor bak rimba tak bertuan memiliki banyak kesamaan pun tak dipungkiri banyaknya perbedaan yang mampu memupus ide dan hasrat tiap individunya. Tapi bagaimanapun kantor adalah tempat yang indah untuk berkeluh kesah dan meluangkan waktu barang sebentar.

“yang, bukankah tiap orang punya tugas masing-masing? Kenapa harus aku juga yang mengerjakan bagiannya?” sambatnya.

Coba tanyakan pada pelangi bagaimana dia bisa menampilkan seluruh warnanya dengan indah, bukankah matahari hanya memberinya modal warna cuma 1, yaitu warna putih? Bagaimana pelangi bisa memberikan pemandangan yang indah kepada mata kita dengan keanekaragamannya?

Indah bukan menjadi pelangi? Pelangi bisa membuat yang memandangnya menjadi indah, pun pelangi mampu membuat dirinya sendiri indah, dan lagi pelangi tak pernah mengeluh dan mengurangi warnanya. Karena apalah fungsi matahari kalau pelangi mencoba mengurangi satu saja warna di tubuhnya.

Cobalah menjadi tubuh pelangi itu, hanya dengan satu warna pelangi tak pernah mengeluh apalagi mengurangi warnanya untuk kita.

“yang, aku bingung harus bagaimana dengan kondisi yang selalu menyudutkanku.” Timpalnya

Seseorang pernah memberikan racikan kalimat kepadaku, “ada 2 cara untuk memancarkan cahaya; menjadi lilin atau menjadi cermin yang akan memancarkan cahaya lilin itu.” Kalimat itu menggugahku bahwa agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar hanya 2 plihannya. Yaitu menjadi pencetus ide untuk lebih baik atau menjadi corong suara bagi kebaikan itu.

Berat memang namun inilah makna kita melengkapi indahnya dunia, menjadi yang pertama atau menjadi penerus apa yang telah bermula. Menjadi lilin dengan pelitanya yang menerangi walau diletakkan diujung ruangan pelitanya akan tetap sanggup menerangi seluruh ruangan. Atau menjadi cermin yang akan mereflesikan cahaya sesuai yang dikehendaki. Dengan begini maka yakinlah bahwa capekmu akan terobati nda!
“yang, aku mau berhenti sajalah kalau terus-terusan begini!” Ancamnya.

Dimanapun nda berada manusia itu hanyalah rangkaian rantai tak putus dalam kehidupan, setiap manusia bergantung kepada manusia lain, walau sejatinya tak akan pernah ditemukan mata rantai yang benar-benar pas untuk merangkai tiap hubungan antar manusia itu sendiri.

Intinya tak ada satupun manusia yang sama. Memahami, menghargai dan saling bersimpati antar sesama di lingkungan nda akan memberikan rasa kebersamaan yang tidak hambar untuk dikecap.

Maka tidaklah realistis apabila bapak pendahulu kita selalu bilang “perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Karena apa yang didalam hati, pikiran dan perasaan setiap orang sangatlah berbeda. Tidaklah ada kemungkinan untuk bisa menyatukannya secara harmoni bila orang lain yang kita paksa untuk sama dengan kita.

Tak naïf pula bila “perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.” Mampu menjadi gradasi moral dimana kita hidup dan member kehidupan. Menjadi manusia yang harmonis dengan sesama, lentur dengan budaya, namun tegas dalam sikap dan iman.

Kemudian akhirnya mimpi memberi khayalan akan dunia yang lebih baik.

…..Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world……
-Imagine by John Lennon-
Selengkapnya ...

Seni Bergaul

~ ~
Ada beberapa hal dalam hidup yang selalu berusaha saya lekatkan dalam kehidupan keseharian, baik dalam keluarga ataupun dalam bertetangga dan berinteraksi dengan sesama. Bukan hal besar namun setidaknya memberikan dasar bergaul yang membuat saya kerasan berada dimanapun dalam sudut pandang pribadi.
1. Bertanggung jawab
2. Empati
3. Berjiwa besar
4. Jujur
5. Berbaik sangka

5 hal ini begitu penting bagi saya tuk memulai sebuah interaksi dengan sesama manusia khususnya dalam pergaulan dengan individu-individu yang sangat berbeda karakter dan sifatnya dalam keseharian saya. Walau sangatlah berat tuk diimplementasikan namun setidaknya 5 hal ini berusaha saya tanamkan.

1. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab biasanya kendali emosi yang satu ini berkaitan erat dengan masalah-masalah yang timbul dalam keseharian, sekecil masalah apapun yang menerpa setidaknya saya tidak berusaha lari, saya coba tuk menghadapinya walau hasilnya lebih banyak kurang memuaskan. Dalam hal ini titik beratnya adalah proses

Seseorang pernah menasehati diri ini “kerjakanlah ! masalah hasil biar nanti kualitas proses yang menentukan” ada benarnya jika setiap nilai didunia ini bukanlah melulu masalah hasil, ada yang lebih penting dari hasil yaitu proses, proses akan menentukan seperti apa hasil yang dicapai nanti, meskipun pencapaian ahsil tidak seperti yang diinginkan namun sebuah proses sudah cukup tuk memberikan nilai plus.

Rasa tanggung jawab akan muncul ketika kemampuan pribadi memanage masalah sudah mampu memback up inti masalah itu sendiri. Masalah hadir bukanlah tanpa sebab, segala sesuatu didunia ini dalam tataran keilmuwan manusia pasti memiliki hukum kausal yang melekat padanya. Hukum sebab akibat yang dari situ lah maka setiap keruetan masalah bisa dijabarkan melalui akal sehat. Tanggung jawab adalah perjanjian awal bagi individu untuk mampu berkubang didalam lumpur masalah itu. Seberat apapun masalah yang hadir maka mulailah dahulu dengan sebuah tanggung jawab, walau pada kenyataannya tanggung jawab adalah closing conferece bagi masalah itu sendiri.

2. Empati

Empati, om Wiki mendefinisikan empati dengan kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Empati sering dianggap sebagai semacam resonansi perasaan. Kemampuan seseorang untuk memahami perasaan orang lain adalah sebuah gift bagi orang tersebut. Empati ini bisa membuat kita berpikir dengan cara pandang yang luas sehingga output informasi yang didapat untuk mengambil keputusan sangat tepat.

Bila empati ini sering diasah maka jeda waktu yang dibutuhkan tuk mengambil keputusan akan semakin cepat sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap respon yang diberikan dalam setiap tindak laku seseorang. Bila ada sebuah pepatah berkata “seorang bijak adalah yang mampu berfikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat dalam waktu singkat” maka empati lebih dekat kepada keputusan yang bijak.

Dalam pergaulan anda akan mendapat simpati yang luas berkat empati anda yang dalam akan banyak permasalahan dan banyak kisi-kisi kehidupan yang membentur dinding-dinding pemikiran anda. Empati sangat erat kaitannya dengan simpati, bila simpati adalah kesan yang anda berikan bagi komunikan maka empati adalah perwujudan nyata dari tindakan yang anda berikan. Maka berikanlah tindakan-tindakan nyata dalam pergaulan maka simpati besar akan anda akan membekas di orang-orangs ekitar anda.

Seorang rekan saya menyebutkan Empati adalah kemampuan seseorang berdiri di sisi orang lain untuk melihat kedalam bertindak baginya. Mampu melihat kekurangan orang lain dna menutupinya. Membuat orang lain terlihat lebih sempurna dengan keberadaanya. Empati lebih kepada kemampuan diri untuk melihat sisi lemah orang lain dan berusaha menutupinya. Itulah empati menurut rekan saya.

3. Berjiwa besar

Entah dimana saya harus mencari makna atau definisi berjiwa besar, namun saya pernah mendapati quote indah “didalam dada yang lapang tersimpan hati yang luas” mencerminkan sebuah kalimat tentang kesederhanaan dan kesabaran yang luar biasa. Berjiwa besar juga berkaitan erat dengan kesabaran dan keikhlasan. Membiarkan semua berjalan apa adanya, menerima kekurangan, kekalahan dan semua ketidak berdayaan dalam keringkihan kerangka manusia.

Berjiwa besar berarti siap menerima himpitan roda hidup, rela memberikan yang terbaik bagi sesama, sanggup berkata tidak walaupun kemenangan didepan mata. Terkadang pilihan sulit mendera memberikan banyak jurusan ditengah persimpangan namun jiwa yang besarlah yang bisa memberikan gambaran tujuan akhir dari setiap perjalanan.

Jiwa yang besar mampu menerka sebuah keberhasilan dari cobaan-cobaan yang datang silih berganti, jiwa yang besar menyukai temannya lebih lantang tertawa walau dia menangis. Jiwa yang besar tidak menggerutu ketika berada diantrian paling akhir sekalipun. Jiwa yang besar tidak mencemooh walau dia sedang dipuncak kesuksesan.Dan yang terakhir jiwa yang besar tidak bisa didefinisikan dari jiwa yang kerdil.

4. Jujur

Dulu waktu masih kecil, bapak pasti menyiapkan tebah untuk mecut kaki ini bila didapati aku bohong. Walaupun bohong itu untuk kebenaran. Lebih baik diam apabila menyampaikan kebenaran dengan kebohongan kata bapak. Ada yg bilang menyampaikan kebenaran walau dengan cara bohong itu tidak apa-apa, namun bagi bapak saya apapun bentuknya kebohongan adalah hal haram bagi keluarga ku. Maka beliau lebih senang diam daripada mengungkapkan berita kebenaran namun diselimuti kebohongan. Itu pilihan, jelas kejujuran adalah nilai moral yang dijunjung tinggi didalam keluarga.
Bila telah melakukan sebuah keburukan setidaknya kamu jujur mengakuinya bahwa tindakanmu buruk dan kamu pelaku keburukan. Itu lebih berwibawa daripada bohong menutupi kebenaran. Kejujuran adalah diatas segalanya, namun tidak harus serta merta diikuti oleh keterbukaan atau kehendak untuk mengungkapkan kejujuran itu. Kejujuran dan keterbukaan sebenarnya adalah satu kesatuan namun dalam beberapa hal keterbukaan bisa dikesampingkan. Namun kejujuran tidak akan pernah bisa dikesampingkan dari pergaulan yang harmonis.
Itulah yang sering menjadi polemik dalam berargumen apakah kita hanya sekedar jujur atau jujur dan terbuka. Dalam hal ini kejujuran setingkat lebih tinggi daripada keterbukaan.

5. Berbaik sangka

Tak ada hal yang paling nikmat yang kita kerjakan sejak bangun tidur hingga menutup mata kembali selain berpikir positif. Membayangkan setiap apa yang ada di sekitar kita adalah hal-hal yang baik, tanpa melabelinya dengan sesuatu yang akan merusaknya.

Teringat kisah seorang sahabat yang oleh Rasul dijuluki seorang ahli surga, padahal amalannya dimata para sahabat yang lain tak seberapa. Ternyata rahasinya sangat sepele bin sederhana, yaitu selalu melepaskan rasa dengki dan dendam setiap hendak tidur. Sangat sederhana namun dengan implementasi yang begitu sulitnya.

Selalu berfikir positif dalam keseharian akan menghilangkan beban yang ada di pundak, menjadikannya ringan dan begitu mudah dilalui. Bahkan berfikir positif mampu menunjukkan jalan-jalan keberhasilan bagi siapa saja yang mampu meraihnya.

Tak hanya itu pikiran positif adalah seperti kacamata yang menyaring debu dan terpaan air, menjadikannya selalu jernih dan melindungi mata. Menjadikan hati selalu tenang dan tenteram, bukankah nikmat bila setiap kali kita membuka rumah kita diawali dengan pikiran positif yang akan mengajak kita selalu riang dan menunggu datangnya matahari dengan senyum?

Luar biasa manfaat yang bisa didapat dari selalu berfikir positif ini.
Selengkapnya ...
 
© 2009 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger