Up | Down

 

Masichang

Masichang
Oderint Dum Metuant

Let a momment flow!

~ ~

Ketika memarkirkan motorku orang-orang sedang berhamburan dari pintu keluar, maklumlah jam absen sudah tiba. Tiap orang bersegera untuk mencapai rumah, tak pelak dimensi motorku yang super besar jadi bulan-bulanan oleh pintu keluar yang sempit. Satu lagi kekurangan memiliki motor yang berdimensi besar.

Di sebelah tempat parkirnya mototrku seunit motor dengan plat putih, terparkir dengan anggunnya. Tak lama berselang perempuan berjilbab datang menghampiri motor yang masih benar-benar mengkilap itu, bisa jadi masih berbau cat karena memang benar benar ‘fresh from the oven’.

Sejurus kemudian mesin sudah menyala, motor baru beserta perempuan berjlbab itu masih berdiri melandai di depanku. Karena memang pintu keluar yang hanya muat untuk 1 motor, diriku pun hanya merana memandang dan menunggu motor baru dan perempuan itu berjilbab itu berlalu.

Perempuan berjilbab itu berulang kali melhat kebawah dan seperti hendak memastikan bahwa standart sampingnya benar-benar sudah tersingkap. Masih dalam kehati-hatian super tinggi, sang perempuan berjilbab menarik gas dengan pelan, sangat pelan sekali bahkan. Menjejakkan kedua kakinya bergantian, yang pasti cara berkeloknya yang akan memberikan gambaran bahwa selain motor itu masih baru pengemudinya pun masih dalam type beginner.
Menjejak bergantian, menoleh berulang ke kanan dan ke kiri, menahan rem kemudian mundur lagi dan lagi. Setiap kali dia melakukan itu akan semakin lama aku dan motorku terjebak dalam lahan parker yang pintu keluarnya benar-benar sempit ini.

Tak berapa lama si perempuan berjilbab telah berhasil mengatasi rasa gugup dan was-was nya, dan lancer membetot gasnya. Ketika motor sudah melaju maka keseimbangan itu didapat, momentum untuk terus melaju pun semakin tepat. Dalam kondisi ini si perempuan berjilbab terlihat layaknya driver yang sudah advance. Meliuk kesana meliuk kesini menghindari pengendara lain.

Hebatnya dia melakukan itu terus menerus setiap harinya, selalu terbata-bata diawal dan melaju dengan mulus ketika sudah menemukan momentnya. Berulang dan berulang setiap hari, saya hanya sabar memperhatikan karena si perempuan berjilbab itu sedang mengajari ku tentang kehidupan.

Kadang dalam hidup dalam keseharian dalam rutinitas kita lupa memperhatikan betapa kakunya kita dalam memulais esuatu, hal yang baru. Betapa langkah pertama itu adalah tahapan yang paling sulit untuk kita hadapi, membawa rasa takut kita untuk melaju, membawa kecenderungan gagal kita untuk berhasil, dan membetot semangat kita untuk selalu ingat bahwa tanpa awal tak akan ada proses yang berjalan, tanpa proses yang berjalan kapan kita akan memperoleh keberhasilan?

Episode memulai sesuatu adalah episode indah dimana otak dan rasa kita seperti dibenturkan kepada kenyataan bahwa keberhasilan itu jauh diujung sana. Kita sering merasa bahwa kita lemah dan tak mampu padahal inti dari sesuatu itu belum kita lalui.

Lihat perempuan berjilbab itu begitu mudahnya meliuk dan mendahului pengendara lain ketika moment telah menghampirinya. Namun kadang dalam kondisi ini bahaya lebih besar akan mengancam, kadang kita lupa bahwa kita masih lemah dan tak berdaya, kadang perempuan itu lupa bahwa dia masih beginner, namun karena kondisi yang nyaman itu kita kadang terlena. Kita lupa diri bahwa bahaya jauh lebih besar sedang menanti.

Ketika kutanyakan pada seorang pilot tentang manakah bagian yang tersulit dalam menerbangkan pesawat, sang pilot menjawab ketika take off dan landing. Ketika sudah stabil bahkan anda bisa melepaskan kemudinya.
Selengkapnya ...

Siluet Senja

~ ~

Sudah beberapa bulan ini mataku selalu terpaku ke sisi kiri setiap melewati kuburan china diatas tanjakan itu. Melewati jalan aspal di salah satu ruas padat adalah rutinitas yang harus kujalani setiap pulang kantor, tepat di sudut 60o ketika jarum pendek berada di atas angka 5 laki-laki itu selalu kulewati. yang membuat mataku selalu melirikkan pandangan walau sedikit, hanya pandangan.

sore ini pun hal yang sama kulakukan, laki-laki itu pun melintas tepat di jam dan menit yang sama, spot yang selalu sama. melangkah gontai seperti tak memiliki beban sedikitpun, melewati lajur kendaraanku dan memandang kosong ke sekitarnya.

laki-laki itu kumal, bertopi bundar seperti topi pemancing yang sering ku lihat di Televisi namun dengan lubang yang lebih banyak disisi-sisinya dan yang pasti tanpa pin khas pemancing. bajunya lusuh, tampangnya menunjukkan betapa keras dia bekerja setiap harinya. kumis tipis dan jambang yang tumbuh tak beraturan.

dia berjalan terseok, cacat? sepertinya dahulu kala penyakit polio pernah menyerangnya hingga setengah tubuh bagian kirinya tak bisa berfungsi seperti layaknya yang lain. wajahnya sayu, tanpa ekspresi, kupikir bukanlah polio penyebabnya, seperti wajah yang tertarik setelah terkena serangan strock. hingga membuat sebagian wajahnya terlihat tak proporsional, sekilas kulihat ada tetes tetes liur di sudut mulutnya.

kemanapun dia melangkah setiap kali kulihat didepannya pasti ada gerobak kecil yang dia gunakan untuk sandaran hidupnya, mata pencahariannya dalam mengais rupiah. gerobak itu kecil tak layak ku sebut gerobak, karena hanya terdiri dari 4 buah roda kecil, sebiji kayu sebagai pendorong dan sekotak besar lembaran seng yang entah bagaimana caranya bisa membuat tiap sisinya menutup dan menyisakan rongga besar ditengahnya. ku tebak isinya adalah kompor minyak tanah karena diatasnya tertutup sebuah penggorengan kecil beserta tutupnya.

itulah mata pencahariannya, menjajakan makanan kecil apapun namanya yang pasti setiap dia melewatiku semuanya sudah ludes terjual karena di kotak kecil disisi penggorengan itu tandas setiap adonan tepung yang terlihat berserakan tak beraturan.

betapa keras ku picingkan mata tuk memperhatikannya bapak itu pun tak pernah berusaha untuk melihat setiap orang yang melaluinya, mungkin tujuannya hanya segera sampai rumah. mungkin istrinya atau anak-anaknya sedang menunggu kepastian kehadirannya di salah satu gubuk reot dibawah jembatan. mungkin di hatinya kini, satu-satunya organ yang tak dihinggapi kecacatan merindukan segera menimang buah hatinya dan menyodorkan setangkup rezeki yang diperolehnya dengan jerih payahnya.

demi tanggung jawab, demi profesi kebapakannya, kekurangannya tidak pernah menghalangi tuk mencukupi sebisa mungkin apa yang dibutuhkan keluarganya. mungkin dia bukan tidak pernah melihat setiap orang yang melewatinya, mungkin telinganya sudah capek selalu dicibir, mungkin matanya sudah pekat untuk selalu dihina.

atau mungkin saja bapak itu hanya khayalanku ditengah capainya rentetan pekerjaan yang mendera seharian tadi, mungkin aku harus segera pulang dan memeluk ketiga anak-anakku, mencium kening istriku mendekapnya dan mengatakan,”betapa kalian adalah surgaku, dan alasanku tetap sanggup memikul beban ini.”

untuk bunga pioniku(istriku) : febri
untuk kaset tape recorderku (putri sulungku) : fidza
untuk (preman pasarku) jagoanku : romiz
untuk satelite yg mengikuti kemanapun ku pergi (putri bungsuku): mala
Selengkapnya ...

DALAM DEKAPAN MALAIKAT

~ ~

Bagi seorang laki-laki memiliki keturunan itu adalah berkah luar biasa, di banyak kebudayaan memiliki keturunan adalah kewajiban atau laki-laki itu akan dianggap biang malapetaka. Keturunan bagi keluarga adalah jaminan terusnya sebuah kejayaan, symbol berlanjutnya penerus nama, generasi pembaharu atau kehancuran ditentukan.

Bagiku keturunan adalah berpindahnya sebagian hatiku ke raga yang lain, dengan detak jantung yang sama membawa harapan yang berbeda. Terbagi menjadi berapapun hati itu akan tetaplah sama dalam satu keutuhan kehidupan, maka akan hilanglah sebagian kehidupan bila hilang pula sebagian hati itu.

Dulu setiap ada hal negative yang dibaw aoleh keturunan, ibulah yang selalu dipersalahkan. Dari waktu ke waktu pihak wanita selalu menjadi biang keladi kegagalan gen, sedang para lelaki selalu membanggakan keistimewaan keturuannnya. Pada kenyataannya gen kromosom terbesar yang dibawa seorang bayi adalah dari laki-laki, kedominanan inilah yang menjadikan laki-laki memiliki tanggung jawab terbesar akan kelangsungan generasi berikutnya.

Tak ada memang penghargaan khusus akan ini melebihi luar biasa nya penghargaan terhadap sosok ibu. Namun bagi anda yang muslim bukalah ‘buku manual penciptaan’ anda, dalam 30 juz edisi penerbitannya sosok ayah berulang kali disebutkan sebagai biduk arah generasi, sebagai perpustakaan tempat ilmu diturunkan, sebagai perantara dialog antara anak dan rahasia penciptaannya. Ayah adalah sandaran beban dan tanggung jawab itu berada, dipungkiri atau tidak itulah kenyataannya.

Di awal tahun ke 2011 kalender masehi dan di permulaan dimulainya tahun ke 1432 hijriyah keturunan ke-3 ku dibetot ke dunia. Membawa lendir-lendir harapan, membuncahkan darah keberadaan silsilah keluarga, penerus abadinya generasi manusia.

Tangisnya membahana menantang congkaknya matahari, kulitnya keriput menahan landainya tiupan angin, matanya terpejam tak ternoda noktah ketidakadilan. Cantik tak terperi, kepakan kedua sayapnya mampu membuatku terhuyung, kepalannya keras, hentakannya kuat. Tak ayal membuatku selalu khawatir hingga kuingin dia selalu terlindungi DI DALAM SISI DEKATNYA PARA MALAIKAT.

Call her : INDANA LAZULFA MALAIKA
Selengkapnya ...

Ini tentang bagaimana kita berdiri di persimpangan

~ ~

Kala itu namaku sudah tercantum dalam daftar pengumuman penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi tehnik di ibukota propinsi pulau terpadat paling timur di Indonesia ini. Dengan bangganya ku kabarkan hal ini kepada kedua orang tua di rumah yang berjarak sekitar 2 jam dari lokasi pengumuman tersebut.

Berarak dengan rasa bahagia kabar itu sampai ditelinga ibu, tak urung membuatnya terkuras air matanya dan segera memeluk melihat masa depan yang sedikit terkuak dihadapan. Bahwa anak sulungnya sudah berhasil menunjukkan sedikit pamrih dengan pencapaian yang sangat diharapkan, yaitu diterima di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di propinsi ini. Hingga sedikit banyak mampu memuluskan jalan untuk tujuan selanjutnya yaitu pekerjaan yang layak dan berpenghasilan lumayan, apabila nasib berkata demikian adanya.

Surat panggilan untuk memenuhi persyaratan pendaftaran ulang pun diterima dengan sukacita, untuk segera membuka dan mengetahui apakah diri ini, keluarga terutama financial keluarga mumpuni untuk menjadi bagian institusi pendidikan tersebut.

Mata kami terbelalak setelah melihat daftar pembayaran yang diluar dugaan kami yang pasti juga diluar kemampuan kami. Namun mimik muka kedua orang tua begitu teduh hingga tak terpancar sedikitpun kecewa atau keputus asaan hingga bapak dengan mantab mengatakan, “tak ada yang tak mungkin bila mau berusaha.” Kalimatnya terdengar datar didalam keoptimisan, nada suaranya serak dan sedikit terbata walau semangat itu begitu kentara. Aku tahu hal ini memberatkan mereka, sejak itu mulai ku pertimbangkan antara terus atau mencari sekolah lanjutan yang lain saja.

Selang beberapa hari sebuah surat masuk lewat celah pintu, sebuah pengumuman penerimaan kembali. Diri ini sudah lelah setiap kali datang surat pengumuman penerimaan dengan kesuksesan namun berakhir dengan ketidak tersediaan dana, apa mau dikata orang tuaku adalah seorang guru SD didaerah terpencil walau masih diatas tanah Jawa. Dengan gaji pas-pasan dan kutahu juga dengan hutang yang melilit rasanya memiliki cita-cita bersekolah di perguruan tinggi populer sangatlah tidak wajar.

Ketika kuterima telefon dari salah seorang sahabat bahwa saya diterima di salah satu perguruan tinggi kedinasan, perasaan dan semangat ku kembali membuncah tak lain dan tak bukan karena di institusi inilah kepastian masa depanku akan terwujud setidaknya sekarang tak lagi ku pikirkan tentang finansial orang tua yang tak berkecukupan, namun yang kemudian kembali membuatku berpkir keras dalam menimang sebuah keputusan adalah di institusi ini anda tak lagi bisa menentukan hendak di kota mana anda akan menjalani hidup, yang pasti di salah satu bagian pengumuman itu tertulis sebuah kota baru yang amsih asing baik dimata ataupun telinga kala itu, PALEMBANG.

Jelas ini keputusan sulit sebab walaupun biaya pendidikan benar-benar tak lagi dipikirkan, namun biaya hidup tetap menjadi beban yang tak kalah pelik tuk dituntaskan.bukan pula aku sedang memikirkan betapa rindunya aku nanti kepada kedua orang tua, kepada adik-adik, teman sepermainan, ataupun suasana kampung halaman, sekali lagi ini adalah tentang menukar semua kebahagiaan itu demi cakrawala yang membentang kelak dimasa yang akan datang.

“Langkah kaki seorang laki-laki itu lebar dan panjang, nak!” ucap ibu ketika melepas kepergianku. Tatkala bapak hanya menitipkan bebertapa lembar rupiah tuk kubawa, kemudian berpaling dan tak sanggup menunjukkan air mata laki-lakinya kepada anak sulungnya. Jelang cakrawala, mengeksekusi keputusan berat untuk dijalani. Menjalani hidup sebagai laki-laki sesungguhnya di kota antah berantah yang sama sekali tak bisa kubayangkan akan bagaimana hidup ini nanti.

Namun rasanya sudah cukup petuah dan wejangan yang diberikan kedua orang tua sebagai bekal tuk menjalani hidup dikota baru yang belum terjamah oleh bayanganku,
sekali lagi ini adalah masalah pengambilan keputusan dikala dihadapkan pada kondisi kritis dan tak terperi, bagi yang takut kehilangan dan ragu-ragu maka inilah awal mula malapetaka.

Selengkapnya ...

Memimpin adalah bentuk syukur

~ ~

Ketika dikondisikan untuk mempimpin sebuah tim seperti sekarang ini, walau bukanlah tim besar menjadi teringat kala dulu pernah mempimpin sebuah tim yang berskala lumayan besar. Setidaknya dalam masa berputarnya sejarah hidupku menjadi ketua pimpinan cabang sebuah organisasi kepemudaan tingkat kecamatan merupakan pencapaian terbesarku selama karir keorganisasian.

Membawahi beberapa individu, elemen dan bidang membuat setiap saat harus disibukkan dengan banyaknya tuntutan tugas, visi dan misi yang harus diimplementasikan dalam kegiatan yang berkaitan dengan organisasi tersebut. Bahkan dengan bertambahnya keanggotaan membuat kegiatan pengkaderan menjaid begitu semarak dan yang pasti membutuhkan kehadiran fisik yang lebih rutin.

Tak disangka melalui pemilihan secara adil dan sesuatu draft peraturan yang ditentukan namaku menyembul dipermukaan sebagai kandidat yang layak di persiangkan sebagai ketua yang baru menggantikan ketua lama yang segera berakhir masa tugasnya. Menyaingi 2 kandidat yang lebih senior bukanlah cita-cita ku masuk ke keanggotaan organisasi ini, diri ini terlalu pandir untuk faham tehnik menggulingkan, menyikut dan menghimpun kekuatan suara. Namun rangkulan persahabatan, wejangan dan kerendahan diri membuat setiap mata melihat bahwa simpati tidak hanya bisa diraih dari hebatnya sosok individu atau cerdasnya sebuah pemikiran akan masa depan dan kelihaian dalam bermanuver menyusun strategi perang.

Inti menjadi pemimpin itu terletak pada sikap melayani, bukan dilayani.

Dalam budaya sosialisasi adat ketimuran persahabatan, kekeluargaan, merangkul yang lemah dan membantu yang kekurangan adalah modal berharga untuk memulai sebuah dukungan. Menjadi public figure dalam hal menanamkan kebersamaan, kekompakan dan rasa keterbukaan adalah bagaimana anda membuat setiap orang mengkuti anda tanpa sebuah pamrih.

Menjadi pemimpin itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju kebesaran, berjalan dengan keangkuhan dan berbicara untuk selalu dituruti. Setidaknya 1 tahun pertama ketika ku pimpin organisasi itu saya harus berusaha keras agar saya melayani setiap kehendak dari para anggota. Inti menjadi pemimpin itu terletak pada sikap melayani, bukan dilayani. Hingga setiap saat membuat saya selalu bersyukur saya diberi banyak sekali rekan seperjuangan yang mau dilayani, dan kembali membersamai saya untuk kemajuan organisasi.
Selengkapnya ...
 
© 2009 - Masichang
Masichang is proudly powered by Blogger