Pengendara kendaraan dan egonya

Ketika saya masih punya motor bebek prima tahun 91 yg cc nya hanya 80 ituh. tarikan gas udah sekenceng kencengnya, eh becak aja masih bisa nyalip. ego pingin ngejer Honda Tiger apa daya, motor saya kelasnya jangkrik. jadi yang ngalah egonya, tanpa disertai rem mungkin motor ini akan berhenti sendiri.

suatu saat penghasilan saya naik, Alhamdulillah bisa beli motor baru Yamaha Vega, lumayan cc lebih gede 110 cc mesin lebih mau diajak kebut dikit. namun sekebut kebutnya nih motor juga tetep saja tak bisa nyalip GL pro... kecepatan 70 km/jam saja getaran sudah sangat hebat, dengkul sampe linu bukan karena cepatnya motor melaju tetapi karena getarannya yg aduhai. jadi sering sering menggunakan karena kecepatan segitu dah lumayan bikin mata merah. ego terlampiaskan walau sedikit, mau gaya-gayaan juga sudah mirip anak muda.

Kemudian motor berubah menjadi sedikit macho, motor impian yang dulu dimiliki bapak kini saya mampu membelinya, sebuah motor second Honda GL Pro. Kapasitas mesin lumayan agak tinggi 160 cc tentu saja kecepatannya semakin aduhai. mengingat kemampuannya sering saya geber nih motor, memperturutkan ego yang kadang lupa bahwa cc semakin tinggi kecepetan semakin tinggi, maka keinginan untuk menambah kecepatan juga akan semakin tinggi.

Hingga kegemaranku dibuyarkan oleh dikenalkannya diriku dengan sebuah motor tua dgn cc yg lebih tinggi lagi 250 cc pada KBM, kali ini untuk celaka aku hanya membutuhkan untuk menginjak rem disebelah kananku. pada motor dengan cc yg sebesar ini REM bukan lagi alat keselamatan, lebih kepada pembawa celaka bila tak memiliki rem di ego dan nafsu untuk menggebernya.

Kemudian beberapa kali saya dikenalkan ke beberapa teman yang memiliki motor motor dengan kapasitas mesin lebih besar lagi. 350 cc, 500 cc, 600 cc hingga pada puncaknya saya diijinkan untuk mencoba sebuah kuda besi keluaran amrik dengan kapasitas mesin sebesar 1.200 cc. Harley Davidson Heritage Softail the legendary motorcycle of Amerika.

Sensasi menunggganginya begitu membekas, lain perkara ketika saya sudah berusaha menggebernya di jalanan lurus yang sepi semacam Route 66 di Amrik sono, hanya saja aspalnya tak semulus di sana. Namun tetap saja untuk motor dengan kapasitas mesin sebesar itu memang membutuhkan jalan lurus yang lengang untuk dapat merasakan sensasi kecepatan yang menjadi ciri khasnya. Mungkin bukan lagi rem yang saya butuhkan untuk menghentika kendaraan ini, namun sebuah penghalang beton yang tentus aja semakin tinggi velocity yang disematkan maka semakin rentan juga akan musibah yang sanggup merenggut nyawa.

Apapun kisah cerita diatas saya hanya ingin bilang, bahwa semakin tinggi limit tools yg kita miliki, semakin tak berguna alat keselamatan yang disematkan pada tools itu. karena satu-satunya rem yang kita punya adalah pada ego kita. Itulah kenapa bila dijalanan sering kita temui para pengguna jalan yang menunggangi roda dua memiliki kecenderungan untuk menggeber kendaraannya. Sebab roda dua yang beredar kebanyakan di jalanan negeri ini adalah roda dua dengan Kapasitas mesin kecil namun dengan kapasitas ego yang luar baisa besar tanpa rem yang menyertainya.

Sehingga banyak terjadi musibah yang merenggut nyawa sia-sia dimulai dari ego yang terlalu besar bagi cc motor yang kecil. Dan lebih luar baisanya lagi kampas rem ego yang lebih tipis dari kampas rem kendaraannya. Maka kloplah yang terjadi dijalanan dimana kesadaran berlalu lintas itu begitu rendah. Seperti apa yang pernah diucapkan seorang teman. “seseorang yang tak pernah merasakan kecepatan diatas kendaraan dengan kapasitas mesin besar, sering dilupakan oleh egonya sendiri, bahwa keselamatan bukan tergantung pada rem di roda kendaraannya, namun ada di dalam hatinya.”

6 komentar:

  1. mantap kali bang tulisannya.. semakin tinggi tools yang kita miliki, semakin tak berguna alat keselamatan,, sepakat.

    BalasHapus
  2. kadang suka sebel dg pengendara yg ugal-ugalan mentang2 punya motor tangguh mepet nyalib seenaknya membahayakan pengendara lain yg cuma pakai sepeda onthel

    BalasHapus
  3. kebanyakan pengendara di jalan nggk mau mengalah,maunya cepet.emang dikira jalanan punyanya sendiri apa
    kunjungi balik juga ya gan

    BalasHapus
  4. @Huda Gamuitu egonya yg sok tangguh mas, sesekali tantangin aja duel.. biasanya ngeper.. hehe

    BalasHapus
  5. @Harum MFbener itu, tapi sesekali kita juga harus introspeksi diri.... ok gan aye blogwalking ntar. makasih dah mampir

    BalasHapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.