Selalu Ada Jalan Alternatif


Mengantar istri ke kantornya sudah menjadi kebiasaan rutin yang kulakukan setiap hari, walaupun banyak sekali kegiatan lain yang ingin kulakukan di awal hari. Mulai dari ajakan bermain sepakbola hingga ajakan sarapan pagi bersama rekan sekantor. Namun yang paling berat adalah membiarkan sepeda gunungku ‘mangkrak’ di garasi hingga jamur jamur subur diantara roda dan saddle nya, mengenaskan!

Namun apalah arti sepeda, sepak bola dan ajakan teman-teman daripada keromantisan mengantar si dia hingga sampai halaman kantornya, plus ciuman punggung tangan mesra, nikmat tiada tara. Pernikahan itu tentang memberi dan merelakan sebagian apa yang kita gemari hilang dari kehidupan kita, namun tak bisa dipungkiri penggantinya jauh lebih berarti dan tak terganti. Mungkin aku tak mampu menggambarkannya dengan kata-kata, biarlah suami-suami yang bahagia mengantarkan istrinya kemana saja yang mampu merasanya.

Pagi ini pun tak jauh berbeda, diantara keinginan untuk mengeluarkan sepeda gunung dan bike to work, diantara ajakan teman teman untuk meramaikan lapangan hijau. Pilihanku jatuh kepada menemani si dia berangkat ke kantornya, melihat senyumnya sepanjang tiga puluh menit, mendengarkan ocehan dan candaannya yang terkadang tak lucu, menerima cubitannya yang kadang membekas tapi pura pura ku tak merasanya. Priceless momen itu kutempuh selama perjalanan, biarlah pagi ini ku isi tanpa mengeluarkan keringat yang biasanya menjadi prioritas dalam menjalani awal hari.

Perjalanan ini begitu menyenangkan walau hanya ditempuh dalam setengah jam, namun di setiap perjalanan selalu ada cabang jalan, selalu ada lebih dari satu pilihan. Hal itulah yang membuat setiap perjalanan selalu menyenangkan dan menantang. Setiap hari kulewati jalur itu namun setiap hari pula tergoda untuk mencoba jalur berbeda. Setidaknya ada dua jalur besar yang dapat kulalui untuk mengantar istriku sampai di kantornya.

Jalur pertama adalah jalur tercepat, dimana disepanjang jalan selalu kutemui keramaian manusia yang sedang melakukan aktivitas paginya. Seorang tukang becak yang membawa muatan jauh melebihi kapasitas becaknya. Beberapa orang yang bongkar muat barang dari atas truk, banyak orang yangs edang bertransaksi karena memang jalur ini melewati sebuah pasar tradisional yang ramai bahkan sebelum mataku terjaga. Jalur ini adalah jalur sibuk semenjak sebelum fajar menyingsing, telat sekian menit kemacetan akan menyongsong perjalananku. Namun jalur ini juga jalur yang paling sering kulewati karena merupakan jalur tersingkat dari rumah hingga kantor si dia.

Jalur berikutnya adalah jalur sunyi, dimana sepanjang perjalanan yang akan kutemui adalah pepohonan, hutan dan banyaks ekali pemandangan menuju kota. Beberapa orang menyebut jalur ini adalah jalur hutan, karena memang jalur ini melintasi kawasan hutan kota yang masih banyak terdapat pohon pohon besar dan hamper tak ada rumah penduduk disepanjang jalan. Hawa yangs ejuk dan suasana yang tak pernah macet membuat jalur ini menjadi pilihan favorit beberapa orang hanya saja jalan ini juga bukan pilihan popular bagi masyarakat karena jalur ini memiliki jarak yang cukup jauh untuk sampai ke kota.

Selalu ada pilihan di sepanjang jalan, selalu kita akan temui cabang dalam lurusnya perjalanan. Mungkin memang begitu yang dikehendaki Tuhan agar manusia dapat memanfaatkan otak dan hatinya dengan maksimal. Manusia diciptakan dengan pilihan seperti jalur jalan itu, dan setiap pilihan selalu bertolak belakang, kanan kiri, barat timur, atas bawah, terang gelap, lurus berkelok, jauh dekat, pahala dosa, baik buruk, surga neraka. Tak ada pertengahan seharusnya dalam pilihan itu, namun bila kita menemukan pertengahan maka itu alternative, bila dalam mengantarkan si dia ke kantornya aku menemukan jalan alternative. Satu yang harus kupastikan pada akhirnya, bahwa aku harus benar benar sampai di kantornya untuk memastikan dia menjalani aktivitasnya dengan selamat.

Begitulah hidup ini, bila di dalam perjalanan menemukan pertengahan, hanya pastikan engkau telah menemukan tujuan akhirnya!

2 komentar:

  1. kalau di kampungku sini byk sekali jalur sunyi mas :)

    BalasHapus
  2. @duniaelyhehe.... bagus asal bukan lorong buntu.. hehe

    BalasHapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.