Tetesan Dari Surga


Skala brak (skala beghak) adalah kerajaan yg pernah berdiri di sekitar danau ranau dan gunung pesagih. Skala brak menurut bahasa yang dikenal pada suku tumi yang mendiami wilayah ini adalah berarti tetesan dari surga. Tepatnya setelak kepaksian pusat pemerintahan kerajaan skala brak adalah di tulang bawang. Sekarang situs itu masih terjaga dengan baik.

Bila anda melakukan perjalanan dari pintu gerbang sumatra -pelabuhan bakauheni- menuju kota liwa maka anda pasti akan melewati situs peninggalan skala brak. Tetesan dari surga begitulah leluhur memberi nama, tak dapat dipungkiri meski tepatnya skala brak terletak di dataran tinggi sekitar liwa, tulang bawang dan danau ranau. Namun keindahan alam yang ditawarkan adalah serpihan surga yang indah nan mempesona.
Bandar Lampung city taken from high ground; foto by:Arief Kuswanadji

Ini cerita kami melintasi aspal dalam perjalanan tugas negara ke KPP Pratama yang memiliki wilayah hampir 50% total luas propinsi lampung. Wilayah lampung yang aspalnya berkelok dan tak rata sekaligus keindahan anugerah alamnya. Wilayah lampung yang terdalam sekaligus asal muasal bermulanya peradaban lampung. Wilayah dimana hutan dan isinya masih rimbun, sungai dan penghuninya masih buas dan wilayah dimana masih menjumpai seruit ada di tengah tengah rumah papan kayu warganya.

Kembara dimulai dalam tugas yang menantang, dalam tiga hari tiga malam diwajibkan menempuh delapan kabupaten dan satu kota madya di wilayah lampung. Tugas ini sejatinya adalah monitoring dalam rangka pelayanan penyuluhan dan kehumasan, namun perjalanan melaluinya adalah itinerari yang menantang. Kesempatan yang tak akan kami sia siakan dalam menjajaki kemungkinan yang ada untuk lebih mengenal provinsi yang sungguh eksotik ini.

Bandar lampung adalah ibukota propinsi lampung, di kota ini juga start perjalanan dimulai. Menuju kearah barat, bergerak menjauhi teluk. Menuju ke daerah terdalam dari lampung. Dimana sungai sungai semakin meluas, dimana hutan hutan semakin merimba. Hewan hewan semakin membesar ukurannya dan seperti berkata bahwa manusia hanyalah bagian yang semakin menghilang dari alam.

Menggala adalah kota tujuan, perjalanan sepanjang 140 km yang seharusnya dapat ditempuh kurang dari 2 jam. Dalam kesempatan itu suguhan terbaik adalah ambruknya salah satu jembatan yang menjadi urat nadi lalu lintas di arus lintas utama sumatera itu. Jalur Bandar Lampung – Menggala merupakan jalur utama lalu lintas darat yang disebut Lintas Timur Sumatera.

Hari kesatu : Ironi Kota Bertetangga

Untuk mencapai kota Menggala yang merupakan ibukota kabupaten Tulang bawang dari Bandar Lampung, setidaknya lima kabupaten harus diseberangi. Lampung Selatan, Pesawaran, Tulang Bawang Barat, Lampung tengah dan Lampung Utara.

Cukup mudah mencapai kota Menggala karena berada di jalur lintas timur sumatera yang menghubungkan Propinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Sehingga akan didapati banyak moda transportasi umum yang melewatinya.

Yang menjadikan Menggala menarik adalah peninggalan sejarah yang banyak tersebar di kota ini. Situs situs yang berumur ratusan tahun masih berdiri dengan lestari. Menggala disebut juga sebagai kota tua, karena banyaknya peninggalan gedung gedung dan bangunan bangunan tua yang masih dipertahankan dengan baik.
Masjid Agung Kibang; taken from:  www.indonesiawonder.com-.jpg

Arsitektur yang unik dari rumah rumah penduduk dan masjid masjid tua yang menawarkan keelokan sejarah. Seperti contoh Masjid Agung Kibang yang dibangun pada tahun 1830 Masehi. Masjid yang terletak di kampung kibang ini berbentuk panggung dan seluruhnya terbuat dari papan dan kayu. Dan ada banyak gedung gedung vintage yang akan membasahi kehausan anda yang tertarik dengan peninggalan budaya.

Monitoring telah dilaksanakan dengan seksama, wajah KP2KP Menggala yang telah tertata rapi. Menandakan bahwa perjalanan harus dilanjutkan menuju KPP Pratama Kotabumi. Sebuah Kantor Pelayanan Pajak yang memiliki cakupan wilayah terluas se-Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. KPP Pratama Kotabumi mencakup wilayah kerja seluas 21.712 km2 dari tujuh kabupaten.

Kotabumi adalah ibukota kabupaten Lampung utara, berjarak sekitar 140 km dari ibu kota propinsi Bandar Lampung. Letak kotabumi berada di jalur lintas tengah arus utama jalur lintas sumatera, sehingga kotabumi sangat mudah dijangkau oleh moda transportasi darat. Bahkan hanya kotabumi yang dilalui oleh jalur perlintasan kereta api. Bila anda hendak menjejakkan kaki di kotabumi selain bus atau jasa travel sebagai transportasi anda. Tak ada salahnya mencoba transportasi kereta dimana PT.KAI telah menyediakan gerbong khusus wisata dari Bandar lampung menuju kotabumi.
KA. Wisata Seminung; taken from: www.httpbiro-le-lambar-pesibar.blogspot.com-.jpg

Berbeda dengan Menggala yang khas dengan peninggalan sejarah, kotabumi adalah kota transit yang cukup berkembang. Ditandai dengan semakin marak berdirinya ruko-ruko di sepanjang jalan utama. Menyandang sebagai kota transit membuat kotabumi selalu berbenah, namun sejatinya kotabumi adalah wilayah yang dianugerahi Tuhan dengan keanggunan alamnya. Sungai sungai yang membelah wilayah ini beberapa spot telah disulap menjadi wisata yang tak boleh dilewatkan. Wisata air/sungai menjadi andalan lampung utara.

Banyaknya air terjun menjadikan sungai sungai terlihat mempesona. Seperti contoh spot air terjun curup indah yang terletak di desa pekurun kecamatan Abung Barat.sekitar 30 km dari pusat kota kotabumi, menempuh waktu perjalanan sekitar 3 jam. Suasana alam yang masih asri menjadikan air terjun ini sebagai pemberhentian yang pas untuk mengusir kepenatan perjalanan.

Bekerjasama dengan pihak ketiga pemerintah daerah juga membangun beberapa bendungan sebagai sarana irigasi. Spot spot irigasi ini juga layak dijadikan pemberhentian selanjutnya. Spot irigasi ini selain berfungsi sebagai sarana pengairan sawah-sawah warga, juga digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Menawarkan kegiatan alam yang dapat menarik wisatawan, seperti memancing. Alam yang masih alami, suasana sungai dan gemericik air akan menghilangkan kepenatan bekerja bagi wisatawan yang memang mencari suasana tenang. Ketika malam menjelang kami pun bercengkerama dengan suasana kotabumi untuk melepas penat, dan mempersiapkan perjalanan esok hari. Baradatu…

Hari Kedua : Little Niagara

Perjalanan ini mengantarkan kami mendekati perbatasan antara Propinsi Lampung dan Propinsi Sumatera Selatan. Baradatu adalah kota kecil di wilayah kabupaten Way Kanan, namun Baradatu merupakan kecamatan teramai bila menilik sisi perdagangan dan ekonominya. Itulah salah satu pertimbangan kenapa harus ada KP2KP di Baradatu.

Inilah wilayah yang sejatinya paling tepat disebut sebagai Skala Beghak atau tetesan dari surga. Way Kanan di karunia tanah yang subur diantara bentang alam perbukitan dan daerah river basin. Hampir dua pertiga masyarakatnya berprofesi sebagai petani atau beraktifitas di perkebunan.

Padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar tumbuh subur diatas tanah yang memiliki efektifitas kesuburan sedalam 90 centimeter ini. Beberapa komoditi diatas telah menjadi ikon bagi kabupaten way kanan, menjadikan Way Kanan sebagai Lumbung sumber makanan bagi Propinsi Lampung secara keseluruhan.

Komoditi perkebunan di way kanan adalah primadona, terbilang dari karet, kopi, kelapa sawit dan lada. Hingga way kanan menjadi maghnet bagi perusahaan perusahaan besar untuk berinvestasi. Mulai dari perusahaan perusahaan rumahan hingga perusahaan besar selevel PT. Perkebunan Nusantara pun kepincut dengan potensi perkebunan di way kanan. Hingga perkebunan di way kanan menjadi sebuah spot wisata yang dibentuk menjadi tujuan wisata agro wisata perkebunan.
Air terjun gangsa / little niagara

Air terjun Gangsa adalah salah satu spot wisata alam yang memiliki pesona alam yang indah yang sayang untuk dilewatkan. Beberapa wisatawan menyebutnya a little Niagara in Indonesia, bukan tanpa sebab. Kontur bebatuan yang membelah aliran sungai dan menciptakan riak air yang jatuh mengingatkan kami akan indahnya Niagara. Ketinggian yang cukup membuat air bertransformasi menjadi awan awan air dan membiaskan sinar matahari yang sampai di mata kami. Dengan lebar 20 m sungai gangsa menjadikan beberapa titik juga menjadi spot memancing alami yang menyejukkan.

Air terjun Gangsa terletak di 40 km menjauhi ibukota kabupaten way kanan, Blambangan Umpu. Di dusun tanjung jaya, kampung kota way, kecamatan kasui. Menggunakan kendaraan roda dua akan menciptakan sensasi berkendara yang tak akan terlupa. Membiarkan angin dingin bersuhu 18-20 derajat Celsius menerpa wajah untuk mencapai air terjun gangsa.

Hari Ketiga : Kotoran Hewan Terlezat Hingga Serpihan Surga Yang Terlupakan

Bercengkeramanya hawa dingin dan kabut membuat setiap indera seperti di negeri kahyangan. Punggung perbukitan di sebelah kiri jendela kendaraan dan lembah nan aduhai di sebelah kanan adalah panorama kami menuju Liwa. Sepanjang mata memandang adalah perbukitan yang diselimuti oleh pohon pohon beraneka bentuk dan warna. Perjalanan menuju Liwa adalah perjalanan liar menuju sebuah kota yang terisolasi oleh alam. Diapit oleh perbukitan dan dipisahkan oleh hutan rimba yang masih menyimpan kebuasan binatang-binatangnya.

Setalah menghabiskan malam di sebuah penginapan sederhana yang tak menyediakan AC, seluruh permukaan kulit terasa dilemparkan ke dalam freezer. Tak butuh AC memang dengan gadget yang menunjuk angka 18 derajat celcius pada pagi hari. Pandangan yang masih dibebat oleh tebalnya kabut, dan setiap hembusan nafas yang memuntahkan uap uap hangat. Di cuaca seperti inilah alam menyediakan hasil bumi yang kualitasnya bahkan mengalahkan produk manapun di dunia.

Kopi dari jenis Arabica tumbuh dengan subur dan memberikan hasil terbaik di dataran tinggi Liwa. Namun tidak hanya itu para penduduk menemukan cara mengolah kopi Arabica itu menjadi produk termahal di dunia saat ini. Dengan bantuan pencernaan luwak, yaitu hewan sebangsa musang yang memang makanan kesukaannya adalah bijih kopi yang sudah ranum.

Tentu anda penasaran akan hasil olahan kopi yang sejatinya adalah kotoran hewan luwak. Namun di tangan para penduduk liwa bijih kopi yang sudah mengalami fermentasi di dalam perut luwak ini dapat diubah menjadi minuman yang lezat. Dunia mengakuinya sebagai kopi luwak atau civet coffee, produk olahan kopi yang menjadi produk unggulan masyarakat liwa.

Produk kopi inilah yang mengantarkan Liwa menjadi sebuah kota di Lampung Barat menjadi terkenal seantero negeri bahkan dunia. Padahal Liwa juga dikenal sebagai daerah cikal bakal seluruh kebudayaan yanga da di wilayah Lampung. Kota ini biasa disebut sebagai the origin of Lampung karena memang disinilah asal muasal suku Tumi dan juga berdirinya kerajaan cikal bakal lampung kerajaan Skala Brak. Sehingga masih didapati situs situs bersejarah yang akan menceritakan nenek moyang suku yang mendiami tanah tinggi ini.

Disamping itu budaya budaya lokal yang masih menjunjung keaslian Lampung sangat banyak ditemui di Liwa. Seperti Pesta Adat Sekura yang melalui Kemenparekraf mulai dibuka untuk wisatawan lokal maupun internasional.Pesta adat Sekura merupakan pentas teater luar ruangan dengan masyarakat kampung sebagai pemeran lakon-lakon sekura.
Kemeriahan pesta adat sekura; foto by: Agato D. Gandiadi

Sekura merupakan jenis topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta sekura. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Sekura dilakukan oleh seluruh penduduk pekon (desa) hanya pada satu hari di akhir Ramadhan, dengan menutup seluruh tubuh termasuk muka dengan topeng atau kain termasuk mata dengan kaca mata. Sekura dihelat dengan tujuan mengusir roh roh jahat yang digambarkan dengan lakon-lakon yang diperankan oleh makhluk yang ditutup seluruh tubuhnya. Selain penduduk kampung siapapun boleh berpartisipasi dalam pesta adat ini.

Mentari meninggi, tanda bahwa perjalanan tinggal selangkah lagi. Perjalanan pulang ini akan sangat menantang, karena aspal akan membawa kendaraan kami membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hingga menyusuri garis pantai Krui yang terkenal hingga mancanegara tentang keindahan pasir dan tarian ombaknya.

KP2KP Liwa begitu sayang untuk ditinggalkan, mengingat suasananya yang dingin dan nyaman. Namun diujung perjalanan ini tak ada yang lebih membuat penasaran daripada apa yang akan kami dapati. Karena ketika pintu gerbang meninggalkan Liwa telah terlewati tak berapa lama penanda besar menghampar dengan tulisan yang membuat siapapun akan membacanya. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan telah menyambut dengan pekikan kumbang kumbang pohon yang memekakkan telinga. Inilah sambutan selamat datang kepada siapapun yang melintasinya, penanda bahwa di depan adalah kawasan hutan lindung.
pintu gerbang TNBBS; taken from: arthaliwa.wordpress.com-.jpg

Teriakan kukang semakin terdengar ketika kendaraan kami semakin dalam menuju jantung rimba. Burung burung dan sesekali dapat kami dengar lolongan anjing hutan. Bersyukur kami menyusun rencana perjalanan dengan cermat sehingga memasuki rimba ini tepat saat matahari sedang tinggi-tingginya. Entah apa yang akan kami dapati bila melintasi hutan ini di malam hari.

Sebenarnya apabila kami masih memiliki waktu, kendaraan akan kami arahkan ke kanan. Menuju ke spot wisata danau ranau yang berjarak sekitar 32 Km dari kota Liwa. Namun hal itu kami batalkan untuk menghindari kami bermalam di tengah rimba Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sebagai gantinya perjalanan akan mencapai pesisir pantai krui sebelum mentari turun. Sehingga dapat menikmati sunset di pantai Krui yang kabarnya keindahannya membuat para turis mancanegara berbondong untuk mendatanginya.
Pantai karang nyimbor, krui; taken from: novenreque.blogspot.com-.JPG

Berita itu sepenuhnya benar ketika mata kami tertumbuk di pantai karang nyimbor di pekon tanjung setia. Pantai ini terletak tepat dipinggir jalan Lintas Barat, sekitar 20 Km dari kota krui. Pantai ini sangat banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, dengan ombak yang sangat tinggi, pantai ini sangat disukai dan sangat cocok untuk melakukan surfing. Selain itu, di Karang Nyimbor ini terdapat beberapa penginapan tepi pantai (cottege) yang didalamnya terdapat cafe dan restoran.

Setelah menyeberangi Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pringsewu yang disepanjang pagar aspalnya dibentangkan sawah sawah yang menghijau. Kami sampai di gerbang Kota Bandar Lampung, dengan perasaan yang tak terutarakan. Pengalaman perjalanan yang kami lalui sungguh tiada akan tergantingan dengan perjalanan dinas manapun sebelumnya.

Bila anda mengenal Lampung hanya dari kabar penangkaran Gajah di Way Kambas atau Keindahan Teluk Kiluan, maka Lampung harus menjadi destinasi perjalanan wisata anda selanjutnya. Karena Lampung masih sangat terbentang luas dengan keindahan alam dan keanekaragaman budaya yang masih belum terungkap, menunggu anda untuk menceritakannya kepada dunia. Selamat berpetualang!


/Artikel ini tayang di rubrik Halo Nusantara, e-magazine DJP edisi bulan November 2014.

14 komentar:

  1. bagus banget pemandangan yg di atas aku mau kesana juga mas...

    BalasHapus
  2. @Dwiex'z Someo Bandar Lampung adalah kota yang ada di lembah yang berada di teluk lampung, sehingga bila diambil foto dari perbukitan disekitarnya dibantu sinar matahari, maka landscape ini sangat eksotik.....

    monggo, kalau kesini ditunggu. siap jadi guide nya

    BalasHapus
  3. artikel ini mengajak saya kepada sebuah imaji yang eksotis, bagaimana sebuah kesederhanaan dalam menjalankan tugas sehari-hari dapat menjadi begitu bermakna dan begitu hidup, selain lampung memiliki pesona alam yang wah, saya yakin mas ichang dibekali persenjataan yang mumpuni untuk tugas jeprat-jepretnya, hehehehe....

    BalasHapus
  4. pemandangannya indah banget ya :)

    BalasHapus
  5. @sishim4ru ah cuman pake lensa zoom 18-200 aja kok... ga canggih canggih amat...

    BalasHapus
  6. @Dwiex'z Someo

    Saya taunya cuma Lampung aja. Beda ya Lampung dengan Bandar Lampung ?

    BalasHapus
  7. @Asep Haryono Lampung adalah Provinsi pak, dan Bandar Lampung adalah ibukota propinsinya

    BalasHapus
  8. Lampung tuh kaya wisata ya..semoga di pemerintahan baru, perekonomian Lampung meningkat :)

    BalasHapus
  9. Indonesia.... hombes kami
    ttd fungsional :D

    BalasHapus
  10. @ketty husnia saya membayangkan Lampung itu sebuah surga yang tersembunyi.. berlebihan ga ya?

    BalasHapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.