Masjid Mungilku



6 Juni 2014
Seperti Jum’at biasanya, Masjid kecil di dalam komplek mungil kami selalu dipenuhi jamaah salat subuh. Dipenuhi maksud saya adalah lebih ramai dari hari biasanya, jika hari biasanya 1 shaff maka pada hari jum’at bertambah menjadi 1 shaff plus setengah shaff lagi, yang isinya anak-anak kecil yang ikut bapaknya. Jum’at pagi adalah kajian rutin seorang ustadz yang kami angkat sendiri sebagai imam tetap masjid kecil ini. Seseorang yang kami anggap keilmuwan dan kewara’ annya lebih baik dari kami semua, Alhamdulillah sang ustadz amanah dan istiqomah.

Sederhana memang ‘surau’ kami, namun tak dipungkiri tempat kami sujud ini menjadi ‘markas’ bagi warga sekitar yang notabene berasal dari firkoh dan fikroh yang bermacam macam untuk berkumpul dan saling bertukar fikiran. Tempat kami saling mengkaji islam, tempat kami bercengkerama sebagai sesame saudara muslim. Kami berbeda namun kami menyatukannya dalam islam, setidaknya begitulah yang terlihat selama ini. Friksi terberat kami selama ini hanyalah penentuan siapa yang harus menjadi imam setiap shalat berjamaah, karena masing masing saling mengalah dan mempersilahkan dengan hormat siapa yang hendak menjadi imam.

13 Juni 2014
Sang ustadz yang kami daulat untuk menyampaikan kajian pagi ini, enggan naik ke mimbar. Beliau justru duduk menghadap ke para jamaah serta melemparkan topik bahasan. “Ramadhan menjelang, dan sekarang saat yang tepat untuk membahas persiapan kita, apakah jamaah setuju?” serta merta semua mengangguk mengiyakan.

Tak berapa lama berselang kesepakatan telah terbentuk, musyawarah memutuskan beberapa hasil kesepakatan yang harus dikerjakan sebelum dan selama ramadhan. Satu, sebelum bulan ramadhan memasuki bulan baru renovasi masjid harus sudah selesai. Dua, penyusunan jadwal Imam tarawih, khotib tarawih, dan ustadz undangan yang akan mengisi setiap pecan. Tiga, penyusunan jadwal warga yang diwajibkan menyampaikan ifthar sebelum adzan maghrib dan ba’da isya’ untuk para jamaah yang melakukan tadarrus Qur’an. Empat, untuk pertama kalinya masjid akan mengadakan sebuah acara di tanggal 17 Ramadhan dengan mengadakan kajian dan buka puasa bersama warga sekitar. Lima, jadwal pengantar makanan sahur untuk 10 hari terakhir bagi yang I’tikaf di masjid.

Tiada hal yang merintangi setiap jamaah untuk menyampaikan aspirasinya dalam kegiatan-kegiatan dimaksud. Bahkan tak sedikit yang langsung menawarkan diri untuk meng’handle’ keseluruha kegiatan. Tak sedikit pula yang bersedia mencukupi segala kebutuhan materi untuk melancarkan setiap agenda dan kegiatan.

19 Juni 2014
Kebetulan untuk proyek renovasi masjid tanggung jawab dilimpahkan kepada saya, padahal tiadalah pengalaman saya sebagai seorang arsitek atau ketua proyek. Namun jamaah mempercayakan hal ini dengan suara terbanyak.

Dukungan suara tersebut dibuktikan oleh banyak jamaah yang lain dengan dukungan moril dan materiil yang tak kunjung habis saya memikirkannya. Entah darimana asalnya setiap material bangunan hendak mendekati habis, selalu saja ada kiriman bahan material baru. Tanpa ada permintaan, tanpa ada nama juga. Di hari libur bagi pegawai dan karyawan selalu ada kiriman makanan bagi para tukang bangunan yang menyelesaikan renovasi ini. Masjid kecil ini dikelilingi para dermawan rupanya.

Bahkan sebenarnya kami tidak memiliki tukang bangunan tetap, hampir setiap hari ada tukang-tukang bangunan dadakan yang siap membantu dibawah komando mandor proyek yang saya tunjuk untuk mengawasi. Masjid ini menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar untuk mengumpulkan pundi pundi pahala, entah darimana sumbernya.Yang pasti Allah menghidupkan Masjid kecil ini melalui orang orang ikhlas yang siap membantu tanpa pamrih.

28 Juni 2014
Masjid telah nampak kemilau di setiap sisinya, mulai dari pagar yang warnanya kembali cemerlang, tempat wudhu’ dan toilet yang bersih wangi hingga pencahayaan masjid yang menjadi terang benderang. Menggambarkan kesiapan Masjid ini menampung setiap jamaah untuk beribadah, membuat nyaman dan betah tinggal dan berlama lama di dalamnya. Rak Qur’an dan buku-buku telah dirapikan dan mengundang setiap mata untuk membukanya.

Ramadhan sudah didepan mata, malam ini adalah malam pertama melaksanakan shalat tarawih. Dapat dipastikan setiap sudut masjid akan dipenuhi jamaah, dari yang tua hingga anak-anak. Antusiasme ini yang selalu menandakan bahwa bulan suci ini telah datang. Dimulai dengan rasa gembira akan memberikan tambahan semangat saat ramadhan semakin menua dan saat godaan semakin besar. Kegembiraan menyambut ramadhan di awal bulan mampu mempertahankan kekhusyukan ibadah lebih lama agar bermesraan dengan bulan ini menjadi lebih romantis.
Selama ramadhan tak pelak setiap warga yang telah terjadwal sebagai pengisi ifthar berlomba-lomba mengirimkan makanan kecil bagi jamaah. Mereka ingin mendapat pahala puasa seperti yang sedang berpuasa sepertinya. Rakus untuk mengejar pahala ramadhan itu sah justru dianjurkan dan dilestarikan apapun bentuknya.

Kami tidak pernah membuat jadwal petugas muadzin sepertinya, namun dari anak kecil hingga orang tua berlomba mendahului untuk siapa yang dapat memegang mikrofon dan mengumandangkan adzan. Walau suara pas-pasan walau nafas tersengal sengal, bahkan mengumandangkan adzan pun menjadi bahan untuk diperebutkan di bulan suci ini.
Diriku diingatkan dengan sebuah syair indah yang digubah oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Sepotong roti yang engkau makan di suatu sudut
Segelas air putih dingin yang engkau minum dari mata air
Kamar bersih tempat engkau menenangkan dirimu
Istri patuh yang membuat engkau puas dengan melihatnya
Anak perempuan kecil yang dikaruniakan dengan kesehatan
Rezeki yang tidak engkau sangka-sangka sumbernya
Allah menetapkanmu menjadi seorang da`i
Di suatu Masjid terpencil untuk menghilangkan kerusakan

Adalah lebih baik daripada waktu yang engkau habiskan di istana-istana megah.

2 komentar:

  1. biar pun kecil mungil kalo bersih dan nyaman untuk digunakan kenapa engga :)

    BalasHapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.