Legacy Bag.2 (end)


Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Berikan harta waris kepada orang-orang yang berhak menerimanya (sesuai dengan jatah yang ditetapkan oleh Allah), sedangkan sisanya adalah untuk ahli waris laki-laki yang terdekat". HR.Bukhori

Seandainya Allah menitipkan kelebihan harta kepadaku, barangkali yang terfikirkan olehku untuk pertama kali adalah, akan kuhibahkan semua untuk bekalku diakhirat kelak. Akan kuumumkan kepada seluruh anak cucu bahwa tiada harta yang akan kusisakan buat mereka. bukan karena pelit atau tidak memperhatikan kesejahteraan mereka, namun karena ku tak ingin anak cucuku memiliki mind set sebagai orang-orang yang hanya mengharapkan pemberian tanpa melulu bersusah payah mendapatkannya.

Kuharap mereka tidak lagi akan mimpi dapat harta dari peninggalanku saat ku tiada kelak. Apalagi sampai berebut harta peninggalan yang mana hal yang amat sangat memalukan. Tak jarang kita dengar berita-berita pertengkaran, bahkan hingga pembunuhan yang akar masalahnya hanya karena berebut harta waris. Dengan tidak meninggalkan waris sedikitpun akan memupus perpecahan atau putusnya silaturahim diantara anak cucuku kelak.

Namun ternyata yang kudapati di banyak kajian dan literatur bahwa betapa pentingnya meninggalkan harta waris dalam jumlah yang cukup, menyadarkanku apa yang kupahami selama ini tak sepenuhnya benar. Bahkan bab waris menjadi satu bab tersendiri yang dibahas panjang lebar dalam beberapa kitab. Menunjukkan pentingnya meninggalkan dan membagikan harta waris bagi anak,cucu dan kerabat.

Seperti yang disampaikan salah satu hadits Bukhori diatas, bahwa Rasulullah memerintahkan memberikan harta waris kepada orang yg berhak menerimanya yang dalam hal ini adalah hibah kepada selain anak, cucu keturunan dan kerabat. Dan sisanya baru diberikan kepada ahli waris. Dapat disimpulkan sesuai petunjuk Nabi bahwa yang utama siapa yang mendapatkan dari harta waris adalah agar menjadi jariyah bagi diri sendiri baru kemudian sisakan unutk ahli waris keturunan dan kerabat.

Pada kenyataannya memang jarang sekali orang tua yang mewariskan hartanya ke hal-hal yang tak ada kaitannya dengan ahli waris. Seperti mewariskan untuk pembangunan masjid, mewariskan untuk anak yatim, mewariskan untuk pembangunan pondok pesantren. Padahal justru jenis waris yg seperti ini yang lebih diutamakan sebagai bekal diakhirat kelak bagi yang mewariskan. Kebanyakan dan seperti yang terjadi hingga sekarang, para orang tua sibuk membuat surat waris yang isinya adalah membagi semua ke anak cucu seadil adilnya.

Mengingat pertimbangan-pertimbangan itu, aku hanya ingin mewariskan barang-barang tertentu yang akan mengingatkan mereka tentang memory bersama bapaknya. Tak harus yang bernilai tinggi namun wajib bernilai kenangan. Sesuatu yang takkan bisa ditukar dengan uang, barang yang akan mereka simpan seumur hidup mereka. harta waris seperti inilah yang akan kutinggalkan kepada mereka. agar takkan menjadi sumber putusnya silaturahim. Barang-barang seperti ini memiliki nilai sentimentil tersendiri dimana harganya akan berbeda beda bagi setiap yang menerimanya.

Telah kubuat list barang-barang itu dan siapa yang berhak menerimnya, sehingga bila saat itu telah tiba maka akan dimiliki oleh orang yang tepat. Tak ada yang bernilai tinggi, semua hanya memiliki nilai sentimentil yang tak terkira. Dengan barang-barang itu siapapun yang mendpaatkannya akan lebih mengenal siapa pemilik barang itu. Anak-anakku akan mengenal lebih dekat siapa bapaknya, cucu-cucuku akan mengenal lebih jauh siapa kakeknya, dan sanak kerabatku akan mengerti siapa saudaranya.

Bab waris bukanlah bab yang remeh temeh dalam maummalah islam, itulah sebabnya mengapa para ulama membuat bahasan tersendiri di setiap kitab yang dihasilkan mereka. bab waris adalah bab yang penting, dan perlu dipikirkan saat hayat masih ada di tubuh kita.

14 komentar:

  1. Bener2 bukan remeh temeh, ini penting sekali dan harus sesuai aturan ya Mas. MAkasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang lebihnya begitu bu..
      terimakasih sudah mampir

      Hapus
  2. wuaaah begitu ya??
    memang pendapat masing2 orang berbeda-beda. seperti ibu saya yang mewanti-wanti agar saya tidak berharap kepada warisan, makanya kuliah yang rajin buat dapet kerja yang enak. Tapi warisan usaha itu akan turun juga, pun turunnya akan ke saya, mengingat adek belum bisa dan keadaan kepepet. Tapi yaa belum tahulah..
    saya juga sependapat kok, bahwa mewariskan itu juga kepada yang berhak, bukan hanya kepada anak cucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ibu diberi kesehatan dan rezeki yg barokah.. aamiin

      Hapus
  3. orang tua saya tidak pernah membahas warisan, saya jg enggak ngarepin sih hehehe lebih nikmat harta yg dicari dari jerih payah sendiri :D

    BalasHapus
  4. Yupz. Menyiapkan warisan berupa kasih sayang dan moral baik kepada anak-anak juga sangat penting. Nice post

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup betul itu, sudah panjang lebar saya tulis di Legacy bag.1

      Hapus
  5. Fakta menyedihkannya adalah perkara warisan ini seding jadi bahan pertengkaran antar sesama saudara

    Dan aku sering bangeeeet liat kasusnya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. oleh karena itu ditanggulangi sejak dini....
      gimana liburannya?

      Hapus
  6. posting ini bikin saya jadi mikir mas...
    tidak hanya harta keluarga juga harus diberi warisan pendidikan dan agama yang baik sebagai pondasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk warisan abstrak, saya sudah membahasnya disini mbak http://www.masichang.com/2015/10/legacy-bag1.html

      Hapus
  7. Warisan kalau gak liat syariah itu ribet jg ya. Makasih ilmunya

    BalasHapus
  8. Di sekolah pernah ada pelajaran waris. Si a si b beda nilainya. Saya msh perlu byk blajar

    BalasHapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.