Saya dan Kopi


Proses itu berjalan cukup panjang, sekitar 2 tahun yang lalu, namun sebelumnya kopi juga telah menjadi pelengkap keseharian. Begitulah bapakku memperlakukan kopi, sehari 3 gelas besar wajib ada di meja makan kami. Yang kemudian menyebabkan ‘eneg’ memimunnya adalah kopi bapakku itu sungguhlah terlalu manis, sedangkan lidahku begitu alergi terhadap rasa manis. Sebenarnya bukan terhadap rasa manisnya, namun aftertaste yang ditinggalkan gula di dalam mulut membuat seluruh rongga mulut selalu merasakan haus.

Bila harus mengingat lagi 2 tahun yang lalu saat pertama kali kopi yang benar-benar kopi menyentuh lidahku, tak lagi teringat memulainya dari mana. Hanya saja kala itu mataku begitu tergelitik oleh display kopi di salah satu supermarket. Tak biasa saja ketika melihat biji kopi yang sudah disangrai didisplay dan diberi tag asal muasalnya.

Maka kucobalah salah satunya yaitu kopi Toraja Kalosi, yang kemudian membuatku bingung adalah bagaimana kumenikmatinya sedangkan grinder belum kumiliki. Demi bisa menikmati salah satu jenis kopi tersebut, melalui took online kudapatkanlah grinder tangan manual yang harganya membuat istriku mengernyitkan dahi. Demi alat sekecil itu kukorbankan jatah bbm sebulan.

Toraja Kalosi biji masak yang langsung digrind dan diseduh memberikan sensasi berbeda bagi palet dan indera penciuman. Selama ini palet dan hidung yang hanya meniikmati kopi bubuk dan kopi sachet langsung shock. Beginikah rasa dan aroma kopi murni? Beginikah sensasi kopi fresh? Inderaku dibuat tercengang. Selama ini palet rasa dan aromaku belum pernah merasakan kopi seperti ini.

Sejak saat itu, cara-cara untuk mengumpulkan informasi kutempuh. Mulai dari searching di google, membeli buku-buku tentang kopi dan kebaristaan dan bertanya maupun berguru kepada ahlinya kujalani dari waktu ke waktu disamping rutinitas keseharian.

Sekarang, dengan informasi yang telah saya dapat setidaknya pengetahuan akan dunia perkopian sudah semakin terisi dari sebelumnya. Dan yang paling penting saya jadi faham apa saja kandungan kopi yangs aya minum sebelum saya mengenal dunia kopi ini, tak lain hanyalah artifisial produk kopi yang di sachetin.

Yang pasti proper kopi membuat saya memiliki pandangan berbeda akan kopi, bahwa kopi itu tidak menimbulkan dampak yang berbahaya,justru gula lah yang menyebabkan itu. Proper kopi tidak membutuhkan gula, Karena rasa asli dari kopi tidaklah sepahit yang dibayangkan selama ini. Kopi sering dijadikan kambing hitam untuk beberapa kasus tertentu, padahal bila takarannya tepat tidaklah membuat efek yg berbahaya.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu terhadap kopi tidak lah semuanya salah kaprah, gula lah yang patut disalahkan atas rusaknya nama baik kopi. Tapi juga bukan melulu gula, sebab terkadang beberapa salah dalam memeprlakukan kopi. Kopi yang baik adalah kopi yang langsung diseduh seketika saat selesai di grinding, aroma dan rasa asli kopi masih tertempel lekat di bubuknya. Sedangkan kopi bila telah berbentuk bubuk tak lebih dari 30 menit maka dia akan menyerap aroma dari sekitarnya. Wajar bila nenek moyang kita dulu sering menyarankan untuk menabur bubuk kopi disekitar area bau yang menyengat.

Sedangkan dalam hal roasting, nenek moyang kita dulu hanya mengenal proses sangrai kopi hingga sangat matang bahkan gosong. Atau sekarang lebih dikenal city roast, memang biji kopi yang disangrai menjadi sangat gelap akan meinimalisir kandungan acid didalamnya, namun kekurangannya adalah rasa dan aroma kopi sudah sangat berkurang. Padahal kopi yang ditanam di jenis tanah yang berbeda dan suhu berbeda memiliki rasa dan aroma yang juga sangat bias dibedakan.

Begitulah Karena kekurang tahuan memperlakukan kopi, kopi hanya memberikan single taste kepada penikmatnya. Padahal aroma dan rasa kopi sangatlah bervariasi bila kita memperlakukannya dengan benar.


2 komentar:

  1. Luar biasa bang. sangat informatif. Sekarang memang sedang zaman kopi, kita semua sedang senang-senangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas kunjungannya sastrawan....

      Hapus

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.